Lilin Kenangan dipersembahkan untuk:
"sahabat ODHA, jangan pernah putus asa tetap bersemangat menjalani hidup !
tidak perlu malu dengan orang disekitar, kuat kan lah diri mu.
masih banyak orang yang perduli dan sayang pada mu...
NEVER GIVE UP !!!" oleh: bone seno
Banten
Ururtkan berdasarkan: Judul (A\D) No ID (A\D) Saat ini diurutkan berdasarkan: Judul A-Z
Bisnis Berisiko : Konsepsi budaya tentang HIV/AIDS di Indonesia Piper L. Crisovan, PhD
Studi ini bertujuan untuk melihat gagasan budaya tentang HIV/AIDS khususnya persepsi tentang risiko. Studi lapangan selama dua tahun memungkinkan studi ini untuk melihat secara mendalam pada tiga populasi yang berbeda di Yogyakarta yaitu: (1) wanita pekerja seks, (2) waria, (3) mahasiswa. Survai (n=413) dan interview mendalam (n=60) yang disertai dengan observasi partisipan antropologis digunakan sebagai dasar untuk membangun sebuah pemahaman yang menyeluruh tentang dampak dan efektivitas program pendidikan HIV/AIDS yang ada.
Dipublikasikan: Disertasi, University of Pittsburg, , 2006 Hits: 1113
Selengkapnya Dampak Tenaga Kesehatan Atas Sterilisasi di Antara Perempuan HIV-positif di Brazil Kristine Hopkins, Regina Maria Barbosa, Daniela Riva Knauth, Joseph E. Potter
Tulisan ini membahas pilihan-pillihan reproduksi dan hasilnya pada perempuan HIV-positif di dua kota di Brazil. Penulis menggunakan 3 sumber data yang semuanya berasal dari perempuan yang melahirkan di rumah sakit umum (RSU): 1) catatan klinis dari 427 perempuan HIV-positif; 2) wawancara mendalam sebelum dan setelah melahirkan terhadap 60 perempuan HIv-positif’ dan 3) survei prospektif yang dilakukan terhadap 363 perempuan dari masyarakat umum. Sampel HIV-positif dikumpulkan dari perempuan yang melakukan periksa kehamilan (prenatal) antara bulan Juli 1999 dan Juni 2000, dan survei masyarakat umum dilakukan terhadap perempuan yang memulai periksa kehamilan antara bulan April 1998 dan Juni 1999. Di antara perempuan dalam sample klinik, ditemukan perbedaan dramatis dalam proporsi sterilisasi setelah melahirkan (sterilized postpartum): 51% di Sao Paulo vs. 4% di Porto Alegre, dibandingkan dengan 3,4% di Sao Paulo vs 1,1% di Porto Alegre pada perempuan di masyarakat umum. Data kualitatif menunjukkan bahwa perempuan HIV-positif dalam studi ini memiliki preferensi yang kuat untuk tidak memiliki anak lagi di masa depan dan bahwa sterilisasi perempuan adalah jalan yang dipilih untuk mencapai tujuan tsb. Oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa perbedaan besar di atas terutama karena perempuan HIv-positif memiliki perbedaan akses ke sterilisasi di dua kota tsb.
Dipublikasikan: Social Science & Medicine 61 (2005) 541–554, , 2005 Hits: 48
Selengkapnya Dapatkah pendekatan ‘fear arousal’ dalam kampanye kesehatan masyarakat mempengaruhi turunnya prevalensi HIV? Edward C. Green, Kim Witte
Kebanyakan ahli kesehatan Amerika yang berkecimpung dalam HIV/AIDS tidak mendukung penggunaan pendekatan ‘membangkitkan ketakutan’ (fear arousal) dalam pendidikan pencegahan AIDS karena dianggap tidak produktif. Sementara, di Afrika banyak orang awam, professional kesehatan atau politikus yang percaya bahwa pendekatan ini mempunyai peran penting dalam mengubah perilaku seksual.
Dipublikasikan: Journal of Health Communication, 11:245–259, 2006 Hits: 583
Selengkapnya Intervensi Pengurangan Risiko Seksual Tidak Meningkatkan Frekuensi Perilaku Seksual secara keseluruhan: Kajian Meta Analisis dari 174 studi dengan 116,753 partisipan Natalie D. Smoak, PhD, Lori A.J. Scott-Sheldon, MA, Blair T. Johnson, PhD, Michael P. Carey, PhD, dan Tim Peneliti SHARP
Studi ini merupakan kajian meta analisis tentang pengaruh intervensi pengurangan risiko seksual di Amerika Serikat terhadap kesempatan hubungan seksual, jumlah pasangan seksual dan abstinen. Secara khusus review ini dilakukan untuk menilai apakah upaya pengurangan risiko dengan mempromosikan kondom akan meningkatkan frekuensi perilaku seksual. Data didasarkan pada 174 studi (206 intervensi, N=111,735 partisipan). Semua study yang direview menguji strategi penguranga risiko dan menggunakan disain kontrol dalam penelitiannya. Secara umum, intervensi pengurangan risiko HIV tidak meningkatkan atau menurunkan kesempatan seksual atau jumlah pasangan seksual. Partisipan dalam kelompok intervensi cenderung kurang aktif secara seksual dibandingkan dengan partisipan yang ada dalam kelompok kontrol. Dari hasil review tampak bahwa intervensi yang menjangkau orang-orang Amerika-Afrika cenderung lebih berhasil dalam pengurangan kesempatan seksual; intervensi yang lebih berhasil mengurangi jumlah pasangan seksual tampak pada intervensi pada kelompok lak-laki yang suka berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) atau orang-orang yang terlibat dalam perdagangan seks. Intervensi pada LSL cenderung lebih mengadopsi abstinen sebagai strategi pengurangan risiko. Intervensi yang menggunakan lebih banyak informasi, penguatan motivasi dan pelatihan ketrampilan juga cenderung untuk berhasil dalam upaya pengurangan risiko. Intervensi pengurangan risiko HIV secara keseluruhan tidak meningkatkan frekuensi kegiatan seksual. Untuk beberapa sub-kelompok, intervensi yang menggunakan berbagai komponen yang direkomendasikan oleh teori-teori ilmu perilaku tampak lebih mampu mengurangi frekuensi kejadian seksual dan pasangan seksual.
Kata kunci: frekuensi seksual, meta-analysis, sintesis penelitian, intervensi pengurangan risiko HIV, jumlah pasangan, abstinen
Selengkapnya Isu tanpa batas: HIV/AIDS di Asia Tenggara Kristina Jönsson
Laporan ini adalah sebuah upaya pertama untuk menganalisis hubungan antara strategi global, nasional dan local dalam memerangi HIV/AIDS seiring dengan meningkatnya globalisasi. Strategi-strategi macam apakah yang digunakan untuk melawan HIV/AIDS? Apa yang menyebabkan kebijakan tertentu lebih berhasil dari pada yang lain? Seperti apakah kapasitas negara dalam menangani isu HIV/AIDS? Dengan kata lain, kebijakan dan konteks pembuatan kebijakan yang berubah merupakan fokus dari analisis ini yang kemudian mempertanyakan tata kelola kesehatan dan peranan negara. Laporan ini memfokuskan pada HIV/AIDS di Asia Tenggara, sebuah wilayah dengan Negara-negara yang tinggi hingga rendah laju epidemic HIV dan yang berhasil kebijakan HIV/AIDSnya hingga yang kurang ada tindakan. Karena posisi geografis dan perbedaan keterpaparan terhadap HIV maka inti analisis ini bertolak dari pengalaman-pengalaman Thailand, Cambodia, Myanmar, Vietnam dan Laos.
Dipublikasikan: Working Paper No 19, 2006, Centre for East and South-East Asian Studies, Lund University, Sweden, , 2006 Hits: 282
Selengkapnya Perkawinan bukanlah tempat yang aman: perkawinan heteroseksual dan kerentanan terkait HIV di Indonesia NADJA JACUBOWSKI
Tulisan ini mengkaji kaitan antara perkawinan heteroseksual dan kerentanan perempuan terhadap HIV di Indonesia. Di negeri ini, hubungan atau relasi gender didominasi oleh kepercayaan dan praktik tradisional serta moralitas keagamaan. Data dari studi ini dikumpulkan melalui analisis dokumen dan penelitian arsip maupun wawancara terhadap para pakar. Temuan studi menunjukkan bahwa praktik tradisional seperti poligami, nikah dini dan kawin kontrak (mut’ah) memainkan peranan penting dalam meningkatkan kemungkinan perempuan tertular HIV dalam konteks masyarakat Indonesia.
Dipublikasikan: Culture, Health & Sexuality, January 2008; 10(1): 87–97, January, 2008 Hits: 234
Selengkapnya Sikap dan perilaku resiko seksual di kalangan kaum muda Indonesia Simon Simon dan Susan J. Paxton
Penelitian ini menggali sikap dan persepsi terhadap perilaku seksual dan
penggunaan kondom di kalangan muda usia 18-24 tahun dengan latar belakang
keturunan Jawa dan Cina. Partisipan penelitian adalah sukarelawan dari 10
universitas di Surabaya. Sebanyak 25 kelompok diskusi terarah (focus group
discussion) dilakukan terhadap peserta dari etnis dan gender yang sama.
Hubungan seks sebelum menikah dipandang menjadi semakin biasa dan diterima
di kalangan dewasa muda, meskipun ada ketidaksetujuan dari orangtua dan
norma keagamaan. Pacar dianggap sebagai pasangan seksual yang paling umum.
Sementara pekerja seks menjadi pasangan seksual yang agak umum di kalangan
pemuda Cina-Indonesia. ‘Seks yang aman’ terutama diasosiasikan dengan
pencegahan kehamilan. Resiko penularan IMS dipandang rendah dan kondom
dipercaya tidak sering digunakan untuk pencegahan penyakit. Adanya
sejumlah strategi yang tidak efektif yang diyakini untuk mencegah atau
mengobati IMS menunjukkan bahwa intervensi pencegahan IMS di Indonesia
masih perlu menekankan peningkatan pengetahuan. Ambiguitas dalam
persyaratan dan kondisi untuk menggunakan kondom memungkinkan negosiasi
penggunaan kondom menjadi sulit. Persepsi di kalangan pemuda yang cukup
berada bahwa penggunaan jasa seksual adalah wajar dan sikap negatif
terhadap penggunaan kondom dalam kondisi tersebut memperlihatkan bahwa
intervensi pencegahan harus secara spesifik menyentuh kombinasi yang
membahayakan ini.
Dipublikasikan: Culture, Health & Sexuality, 6(5): 393-409, 2004 Hits: 1569
Selengkapnya Saat ini terdapat 7 Artikel di Kategori Artikel Pendidikan HIV/AIDS
ilahiKomunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
To Facilitate a Network for HIV-AIDS Worker in Indonesia