Lilin Kenangan dipersembahkan untuk:
"sahabat ODHA, jangan pernah putus asa tetap bersemangat menjalani hidup !
tidak perlu malu dengan orang disekitar, kuat kan lah diri mu.
masih banyak orang yang perduli dan sayang pada mu...
NEVER GIVE UP !!!" oleh: bone seno
Banten
Sebagaimana kita ketahui bahwa prevalensi HIV/AIDS di Jawa Barat cukup tinggi dan peningkatan populasi pengidap HIV terjadi pada kelompok pengguna napza dengan cara suntik (penasun) yaitu sebesar 62%. Hal ini tentunya akan berdampak pula pada kesehatan masyarakat secara umum karena para penasun berada di tengah masyarakat dan berinteraksi dengan masyarakat umum. Ini merupakan ancaman nyata karena tiap tahun angka pengidap HIV semakin meningkat baik di kalangan kelompok perilaku resiko tinggi sebagaimana dengan kelompok pasangannya yang tidak berperilaku resiko tinggi.
Pada gilirannya, pencapaian Visi Jawa Barat yaitu, “Dengan Iman dan Taqwa, Jawa Barat sebagai Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibu Kota Negara tahun 2010” akan mendapat tantangan berat akibat dampak dari epidemi ini terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Di sisi lain, penanggulangan masalah-masalah napza yang telah dilakukan selama ini masih perlu terus dikembangkan sehingga penurunan prevalensi HIV di kalangan penasun dapat dikendalikan. Program penanggulangan napza yang terbukti ampuh dalam mengendalikan epidemi HIV di berbagai belahan dunia dikenal dengan istilah pengurangan dampak buruk (harm reduction).
Program-program pengurangan dampak buruk mulai dilaksanakan di Jawa Barat sejak tahun 2004 sebagai respon dari percepatan kasus HIV/AIDS dari tahun ke tahun. Namun intervensi yang dilakukan langsung kepada penasun ini masih dirasakan kurang karena hanya mencakup kurang dari 20% dari populasi rawan. Untuk dapat mengendalikan epidemi, intervensi harus dapat mencakup minimal 75% dari total populasi. Diperkirakan pada tahun 2005 di Jawa Barat populasi penasun sebanyak 9,000 orang yang tersebar dalam jumlah besar di 15 kabupaten kota.
Untuk itu penyusunan Buku Panduan Pengurangan Dampak Buruk Napza Suntik bagi Puskesmas dalam rangka meningkatkan cakupan program pengurangan dampak buruk di Jawa Barat menjadi sangat penting mengingat Memahami HIV/AIDS dan Pengurangan Dampak Buruk Napza Suntik program ini cukup berhasil dilaksanakan di Kota Bandung. Sehingga rencana aksi ini dapat menjadi pedoman bagi satuan kerja perangkat daerah (SKPD) anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dalam penanggulangan HIV/AIDS di Jawa Barat. Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 23-May-2008 Downloand: 267
Sebagaimana kita ketahui bahwa prevalensi HIV/AIDS di Jawa Barat cukup tinggi dan peningkatan populasi pengidap HIV terjadi pada kelompok pengguna napza dengan cara suntik (penasun) yaitu sebesar 62%. Hal ini tentunya akan berdampak pula pada kesehatan masyarakat secara umum karena para penasun berada di tengah masyarakat dan berinteraksi dengan masyarakat umum. Ini merupakan ancaman nyata karena tiap tahun angka pengidap HIV semakin meningkat baik di kalangan kelompok perilaku resiko tinggi sebagaimana dengan kelompok pasangannya yang tidak berperilaku resiko tinggi.
Pada gilirannya, pencapaian Visi Jawa Barat yaitu, “Dengan Iman dan Taqwa, Jawa Barat sebagai Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibu Kota Negara tahun 2010” akan mendapat tantangan berat akibat dampak dari epidemi ini terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Di sisi lain, penanggulangan masalah-masalah napza yang telah dilakukan selama ini masih perlu terus dikembangkan sehingga penurunan prevalensi HIV di kalangan penasun dapat dikendalikan. Program penanggulangan napza yang terbukti ampuh dalam mengendalikan epidemi HIV di berbagai belahan dunia dikenal dengan istilah pengurangan dampak buruk (harm reduction).
Program-program pengurangan dampak buruk mulai dilaksanakan di Jawa Barat sejak tahun 2004 sebagai respon dari percepatan kasus HIV/AIDS dari tahun ke tahun. Namun intervensi yang dilakukan langsung kepada penasun ini masih dirasakan kurang karena hanya mencakup kurang dari 20% dari populasi rawan. Untuk dapat mengendalikan epidemi, intervensi harus dapat mencakup minimal 75% dari total populasi. Diperkirakan pada tahun 2005 di Jawa Barat populasi penasun sebanyak 9,000 orang yang tersebar dalam jumlah besar di 15 kabupaten kota.
Untuk itu penyusunan Buku Panduan Pengurangan Dampak Buruk Napza Suntik bagi Puskesmas dalam rangka meningkatkan cakupan program pengurangan dampak buruk di Jawa Barat menjadi sangat penting mengingat program ini cukup berhasil dilaksanakan di Kota Bandung. Sehingga rencana aksi ini dapat menjadi pedoman bagi satuan kerja perangkat daerah (SKPD) anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dalam penanggulangan HIV/AIDS di Jawa Barat.
Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 23-May-2008 Downloand: 442
Hingga Juni 2005, terdapat 1310 kasus HIV/AIDS di Jawa Barat. Secara nasional, Jawa Barat termasuk ranking keempat provinsi dengan kasus HIV/AIDS terbanyak di Indonesia, setelah DKI Jakarta, Papua, dan Jawa Timur. Diperkirakan bahwa sekitar 60% dari kasus-kasus tersebut berasal dari kelompok Penasun. Akan tetapi, kasus-kasus tersebut dianggap belum menunjukkan keadaan yang sesungguhnya. Selain adanya fenomena gunung es dalam persebaran HIV/AIDS, komunitas penasun dan penderita HIV/AIDS pada umumnya sangat tertutup karena stigma sosial dan kejaran hukum.
Rapid situation and response assessment (RSRA) penyebaran HIV/AIDS di kalangan penasun di 10 wilayah Jawa Barat dilakukan untuk mengetahui kondisi aktual penasun dan sekaligus mengukur kondisi aktual kebijakan dan aktivitas lembaga-lembaga (pemerintah dan non-pemerintah) yang memberi respon terhadap situasi penasun. Pemahaman tentang situasi penasun dan respon lembaga-lembaga sangat penting terutama sebagai bahan informasi dan refleksi untuk perbaikan dan peningkatan program kerja lembaga-lembaga tersebut dalam membendung epidemi HIV/AIDS di kalangan penasun di Jawa Barat di masa-masa mendatang (riset aksi).
RSRA dilakukan di 10 wilayah Jawa Barat yang estimasi tingkat kenaikan jumlah penasun dan prevalensi HIV/AIDS–nya cukup tinggi yaitu: Kota Bandung, Kab. Bandung, Cimahi, Tasikmalaya, Cirebon, Bekasi, Bogor, Sukabumi, Karawang dan Cianjur. Pengambilan data lapangan berlangsung sejak pertengahan Desember 2005 hingga pertengahan Februari 2006. Untuk mendapatkan data SKEPO bekerjasama dengan LSM-LSM potensial yang terdapat di kesepuluh wilayah tersebut. Para mitra lokal diketahui sudah mengembangkan berbagai kerja penanganan untuk para pengguna narkoba dan penyandang HIV/AIDS (ODHA).
Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 23-May-2008 Downloand: 574
Reducing the Harm of Drugs Deskripsi: 22 January - Some have perceived a contradiction between drug prevention and treatment on the one hand and efforts to reduce the negative health and social consequences of drug use on the other. However, in a new discussion paper, UNODC says that these are in fact complementary rather than contradictory.
The paper, "Reducing the adverse health and social consequences of drug abuse: A comprehensive approach" is inspired by the international drug control treaties and supported by a growing body of scientific and medical evidence. Moreover, it was prepared in close consultation with the International Narcotics Control Board.
It calls for a comprehensive approach to drug abuse in which prevention and treatment of substance use disorders constitute the initial stages. Provision of facilities to reduce the harmful consequences of drug abuse complete the approach. Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 24-Jan-2008 Downloand: 338
The World Drug Report presents the most comprehensive statistical view of today's illicit drug situation. This year's edition reports signs of long-term containment of the global problem. However, the overall trend masks contrasting regional situations, which the report examines in detail. For instance, while an impressive multi-year reduction in opium poppy cultivation continued in South-East Asia, Afghanistan recorded a large increase in 2006. More interceptions of cocaine and heroin shipments across the world have played an important part in stabilizing the market. However, as we witness successes in some areas, challenges appear in others. Although drug abuse levels are stabilizing globally, countries along major and new trafficking routes, such as those now going through Africa, may face increasing levels of drug consumption. The World Drug Report 2007 also discusses a possible method to better assess and monitor the role played by organized crime in transnational drug trafficking. Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 08-Jan-2008 Downloand: 253
ilahiKomunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
To Facilitate a Network for HIV-AIDS Worker in Indonesia