A better strategic information for effecctive HIV - AIDS response in Indonesia   

Pilih Bahasa
(Select Interface Language)

English Indonesian
Google
 
Untuk Akses, Mohon Registrasi

Daftar Member Baru - Login Member
    HIV-tuberculosis co-infection is a global problem: resources need to be expanded and funding must be sustainable and predictable        PB IDI menyatakan bahwa kondom adalah alat kesehatan yang mampu mencegah penularan infeksi menular seksual (termasuk HIV) bila digunakan pada setiap kegiatan seks berisiko.        By enabling and empowering women to protect themselves and their partners with female condoms, we can begin saving lives and curbing the spread of HIV today.         Women need prevention now. They need access to the female condom and education on its use.        Indonesian AIDS Community (AIDS-INA) will use internet technologies for facilitating the dissemination and exchange of knowledge and experience in HIV/AIDS programme among all community members        Do you know that DFID provide 25 million in support of a large HIV and AIDS Programme in Indonesia started in 2005? Do you know where the fund have been allocated?        Apakah Menko KesRa atau Presiden SBY masih peduli terhadap penanggulangan penyakit menular, termasuk HIV-AIDS, TB, Malaria - di Indonesia? Indonesia sedang dalam kondisi sungguh sulit dengan dampak penularan yang terus meluas pada masyarakat yang miskin        Bila Konsep Akselerasi Upaya Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia tidak difahami dengan BENAR dan Berbasis evidence, maka TIDAK AKAN berhasil menahan laju epidemi HIV di Indonesia. Itu yang terjadi sekarang!        Further evidence to support a recommendation for exclusive breastfeeding by HIV-positive mothers in resource-limited settings        Deliver TB and HIV services in the context of fully functioning primary health care systems to ensure cases are detected, prevention is available and treatment accessible and sustained        Reach the most vulnerable populations with TB and HIV services Now!        The HIV service providers need to do : screening for TB and starting isoniazid preventive therapy if there is no sign of active TB.        To fight AIDS we must do more to fight TB (Nelson Mandella, 2004)        Violence makes women more susceptible to HIV infection and the fear of violent male reactions, physical and psychological, prevents many women from trying to find out more about it, discourages them from getting tested and stops them from getting treatmen        People at high risk of HIV exposure should be tested every three to six months in identifying recently infected people then we have to be able to counsel them to modify high-risk sexual behavior and desist from transmitting the virus        About half of new HIV cases occur when the person transmitting the virus is in the early stages of infection and unlikely to know if he or she is HIV-positive        HIV/AIDS Epidemic in Indonesia: not one ( single) epidemic but many (multiple) (riono, pandu)        Combating HIV-AIDS requires more than prevention and treatment. It requires improving the conditions under which people are free to choose safer life strategies and conditions.        Para pecandu yang butuh alat suntik (insul) steril, hubungi LSM setempat - Lihat pada Jejaring Layanan        Kurangi Dampak Akibat Bencana Napza dengan Upaya Pemulihan Pecandu yang komprehensif (metadon, Jarums steril, tes HIV dan Hep C, Pengobatan dan Dukungan)        Treatment without prevention is simply unsustainable! Pengobatan saja tanpa upaya pencegahan yang serius dan sistematik sama saja BOHONG!        1 Desember: keprihatinan global atas kegagalan kita!        Gunakan alat suntik steril untuk hindari penularan HIV dan Hepatitis        Pakai kondom pada setiap kegiatan seks berisiko, dapat mencegah penularan HIV        HIV tidak mudah menular dari satu orang ke orang lain        Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) adalah institusi koordinasi BUKAN Pelaksana program atau Implementor!!        Profesi Kesehatan perlu terlibat dan dilibatkan secara aktif dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS        Perluasan Masalah HIV-AIDS di Indonesia TIDAK mungkin dibatasi oleh wilayah administratif tertentu saja        Hindari diskriminasi dan stigmatisasi pada orang rawan dan orang yang telah terkena HIV        AIDS adalah kenyataan, lakukan tes HIV bila ingin tahu status anda        AIDS-INA - Sarana komunitas AIDS Indonesia untuk menyampaikan gagasan serta tukar informasi    

Menu

Referensi
 Kliping
 Estimasi
 Data Kasus
 Artikel
 Publikasi
 Perpustakaan
 Daftar Istilah

Jejaring
 KPAP/KPAK
 LSM-Institusi
 Individu
 Layanan AIDS
 Website
 Laporan Keg.

Agenda
 Internasional
 Nasional

Informasi Dasar
  Adiksi
  Harm Reduction
  HIV-AIDS
  IMS/RTI
  Tes HIV

Translate with
Google Translate

Lilin Kenangan

Lilin Kenangan
Lilin Kenangan dipersembahkan untuk:
"Semua yang berusaha menyalakan lilin kehidupan mereka. Terima kasih untuk cinta kalian yang mengangkat lilin kehidupan mereka sehingga cahaya bisa menerangi kebawah orang-orang yang masih hidup dalam dunia yang gelap, meski cahaya kehidupan ini akan menjadi cahaya lilin kenangan"
oleh:
Yayan Pieter
Maluku Utara

Nyalakan Lilin Anda

Partisipasi Anda

 Umpan Balik
 Kirim Kegiatan
 Kirim berita
 Join Mailist aids-ina

Pencarian


Google

Yang sedang online

Saat ini ada
58 tamu, 0 anggota
dan
Hari ini dikunjungi oleh 708 tamu/anggota

Pengunjung

Site ini telah dikunjungi
16275065 kali
sejak August 2006

Donation & Report

AIDsina Production: for Healthly Community
Bangun Informasi AIDS untuk Semua Bersama Kami!
Bangun Informasi AIDS untuk Semua Bersama Kami!

Dukungan

Republik Indonesia

Departemen Kesehatan RI

AIDS Data Hub

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional

Ikatan Dokter Indonesia

Power by
PHP Nuke

HIV/AIDS

Cari pada Topik Ini:   
[ Kembali ke Halaman Depan | Pilih Topik Baru ]
Kliping: 48 Orang Terjangkit HIV/Aids
Topik: HIV/AIDS
Solopos.com, 26 Agustus 2013

WONOGIRI -- Sebanyak 48 orang di terjangkit virus HIV/Aids. Tiga orang di antaranya adalah penderita baru atau baru diketahui pada Juli 2013.

Banyaknya jumlah penderita membuat Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri menggagas pelatihan manajerial HIV/Aids bagi para petugas di 37 Puskesmas dan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) atau kelompok penderita HIV/Aids yang berkomitmen saling memberi dukungan.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Suprio Heryanto, mewakili Kepala DKK Wonogiri, Widodo, membeberkan jumlah penderita HIV/Aids hingga pertengahan Agustus ini mencapai 48 orang. Jumlah itu terdiri atas 22 penderita baru pada tahun 2013 dan para penderita yang terjangkiti HIV/Aids pada 2001-2012 dan masih bertahan hidup. Jumlah tersebut sudah dikurangi penderita HIV/Aids yang meninggal dunia.

Suprio mencatat selama kurun waktu 12 tahun, di Kota Gaplek ditemukan 109 penderita HIV/Aids. Sebanyak 61 orang di antaranya meninggal dunia. “Yang masih hidup, masih bertahan sampai saat ini ada 48 orang. Tiga orang adalah penderita baru pada bulan Juli. Banyak hal yang membuat penderita akhirnya meninggal dunia, salah satunya karena banyak yang tidak mau berobat. Jadi sakit dibiarkan saja, kadang karena alasan malu,” terang dia, saat dihubungi Solopos.com, Minggu (24/8/2013).

Menutup Diri

Sikap penderita yang menutup diri, diakui Suprio, menjadi kendala yang membuat DKK tidak bisa memantau dan mendorong pengobatan bagi penderita HIV/Aids. Menurutnya, hanya 30-an penderita HIV/Aids yang menjalani pengobatan antiretroviral, yaitu pengobatan untuk mencegah virus HIV berkembang. Keberadaan KDS diperlukan untuk menghadapi situasi di mana penderita HIV/Aids menutup diri. Untuk menguatkan peran KDS, DKK bakal menghelat pelatihan manajerial HIV/Aids.

Keberadaan KDS juga semakin penting sebab mulai tahun 2014 lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang selama ini mendampingi penderita HIV/Aids tidak lagi terikat kontrak dengan Kementerian Kesehatan. “Jadi mulai tahun 2014, tidak ada lagi LSM mendampingi penderita. Solusinya, ya dengan menyiapkan KDS dan petugas Puskesmas, memberi bekal pelatihan manajerial HIV/Aids. Sudah kami usulkan dananya dan sudah disetujui di APBD Perubahan 2013, tinggal kami menunggu saja cairnya,” ujar Suprio.

Selain menyiapkan sumber daya manusia (SDM), Suprio menambahkan pihaknya juga mengupayakan tambahan anggaran penanganan HIV/Aids pada 2014. Dia menjelaskan selama ini penderita HIV/Aids yang mau terbuka mendapat dukungan anggaran Rp500.000 per tahun. Tahun depan, anggaran yang diusulkan Rp60 juta untuk mengkaver semua penderita HIV/Aids di Wonogiri, termasuk mendukung operasional kegiatan KDS.

Dikirim oleh toto pada (595 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 4)

    
Kliping: Meningkat, Kasus HIV/AIDS di Bangli
Topik: HIV/AIDS
Bali Post, 25 Agustus 2013

Bangli - Penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Bangli dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data epidemiologi yang tercatat di Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli, dari tahun 2004 hingga 2013 terhitung telah terjadi 148 kasus. Jumlah ini meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, dari sekian jumlah kasus tersebut, 7 orang di antaranya sudah meninggal dunia. Hal itu disampaikan Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Bangli yang juga Wakil Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, di SMKN 1 Susut, Jumat (23/8).

Sedana Arta mengatakan, meski jumlah kasus penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Bangli meningkat, namun kondisi itu masih relatif kecil jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Bali. Namun, jumlah tersebut tetap penting untuk mendapat perhatian serius sejak dini bagi semua pihak khususnya masyarakat yang rentan terhadap perilaku seksual yang berisiko tinggi.

Dijelaskan juga dari 7.856 kasus HIV/AIDS komulatif di Provinsi Bali yang tercatat di Dinas Kesehatan Provinsi Bali, sekitar 50 persen menjangkiti kaum usia muda dan usia kerja. Sedana Arta menyampaikan pentingnya keberadaan sekolah untuk menekan tingginya kasus penyebaran HIV/AIDS di Bangli. ''Oleh karena itu, sekolah adalah salah satu tempat strategis untuk memberikan pendidikan tentang bahaya yang ditimbulkan oleh HIV/AIDS dan narkoba,'' ungkapnya.

Dikirim oleh toto pada (484 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: HIV/AIDS di Manado Tercatat 507 Kasus
Topik: HIV/AIDS
TRIBUNNEWS.COM, 24 Agustus 2013

MANADO - Adanya data terbaru, jumlah kasus penderita HIV/AIDS di Kota Manado yang telah mencapai 507 kasus, Wakil Wali Kota Manado Harley Mangindaan SE MSM instruksikan lakukan verifikasi atau pembuktikan kebenaran untuk menentukan atau menguji akurasi data tersebut.

“Saya tunggu laporan verifikasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan dinas kesehatan. Berapa data per kecamatan agar kita bisa tahu jumlah persis yang benar akan kasus HIV/AIDS di Kota Manado. Ini juga sekaligus memudahkan dalam pengawasan dan pencegahan serta pemantauan di wilayah Manado,” ujar Mangindaan yang juga sebagai Wakil Ketua KPA Manado dalam rapat koordinasi bersama KPA Manado, Dinkes, serta LSM, Rabu (21/8/2013) di ruang Toar Lumimuut Pemko Manado.

Di satu sisi Mangindaan mengharapkan, penanggulangan HIV/AIDS jangan hanya tunggu anggaran karena AIDS juga tidak tunggu-tunggu menyebar. “Lokasi berpotensi akan lebih baik secara berkelanjutan bisa dipantau, serta terus diberi sosialisasi sampai ke sekolah,” harapnya.

Sekretaris KPA Kota Manado dr Gherce Waru mengakui data hingga bulan Mei 2013 lalu, kasus HIV 162 sedangkan AIDS 345. Artinya menurut Waru sudah ada 507 kasus HIV/AIDS di Kota Manado yang sebelumnya tahun 2012 baru 496. “Temuan ini diketahui dalam pemeriksaan di rumah sakit di Manado hingga mereka tercatat di Kota Manado meski ada pengidap yang berasal dari luar Kota Manado. Karena rumah sakit di Kota Manado lebih lengkap sehingga pemeriksanaan lebih condong ke Manado sehingga terakumulasi jumlah 507 di Kota Manado,” kata Waru.

Dikirim oleh toto pada (165 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: FPI dan HTI Protes Pasal Kondom di Raperda HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
TRIBUNNEWS.COM, 23 Agustus 2013

Pemakaian kondom saat melakukan hubungan seksual bagi kelompok berisiko tinggi, dinilai bukan solusi untuk pencegahan HIV/AIDS. Dalam Raperda Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS Pemkab Sumedang, bahkan ada sanksi pidana bagi yang tak menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual dengan mereka yang berisiko tinggi terkena HIV/AIDS.

"Penggunaan kondom untuk mencegah HIV/AIDS itu bukan solusi. Hasil penelitian pori-pori kondom itu masih bisa ditembus oleh virus," kata Ketua Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sumedang, Fitra Sagara, Kamis (22/8/2013). Menurut Fitra, penggunaan kondom justru menjadi pintu legalisasi perzinahan dan seks bebas.

Sekretaris Pansus Raperda Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS, Rahmat Juliadi, mengatakan pihaknya mendapat protes dari HTI dan juga FPI terkait pasal tentang kondom itu.

"Sebelumnya Pansus menggundang MUI dan ormas Islam untuk dengar pendapat terkait penggunaan kondom untuk pencegahan bagi yang berisiko tinggi sampai sanksi pidana. MUI memberikan dukungan terhadap pasal itu," kata Rahmat, Kamis siang kemarin.

Menurut Rahmat, Raperda Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS Pemkab Sumedang, dimasukkan unsur MUI dan ormas keagamaan dalam struktur Komisi Penanggulangan AIDS.

Dikirim oleh toto pada (166 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: HIV/AIDS Jangkiti Warga Berusia 23-34 Tahun
Topik: HIV/AIDS
Pontianak Post, 21 Agustus 2013

SAMBAS – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sambas menggelar pertemuan membahas laporan kegiatan penanggulangan HIV dan AIDS, periode Januari – Juli 2013. Pertemuan dipusatkan di Aula Kantor PKBI Kabupaten Sambas, Selasa (20/8), dengan dibuka kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kabupaten Sambas, I Ketut Sukarja.

Saat membacakan sambutan Wakil Bupati (Wabup) Sambas selaku Ketua Pelaksana KPA Kabupaten Sambas, Kadis Kesehatan menyebutkan bahwa di Bumi Terpikat Terigas ini, isu strategis, terutama kasus HIV/AIDS, masih tetap harus menjadi perhatian penting para pemangku kepentingan di kabupaten ini.

“Jumlah kasus secara kumulatif dari tahun 2000 sampai Bulan Mei 2013 berjumlah 235 kasus, dengan kasus HIV sebanyak 152 kasus, dan AIDS sebanyak 83 kasus,” ulas dia. Dipaparkan Ketut, dari jumlah tersebut, yang telah meninggal dunia mencapai 75 orang, dan yang bertahan hidup sebanyak 160 orang. Faktor risiko terbesar, menurut dia, dari hubungan seks heteroseksual sebanyak 130 kasus, di mana faktor usia terbanyak antara 25 tahun hingga 34 tahun, sebanyak 111 kasus. “Upaya mengatasi epidemi HIV dan AIDS ini hanya akan berhasil bila semua komponen masyarakat bersatu, dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS, dengan didukung penuh komitmen yang tinggi dan kepemimpinan yang baik dari pemerintah,” ungkap Ketut.

Agenda pertemuan KPA Kabupaten Sambas tersebut di antaranya membahas isu dan usulan-usulan strategis, terkait peningkatan upaya penanggulangan HIV dan AIDS ke depan, maupun membahas capaian program yang telah ditempuh. Pemerintah, kata dia, melalui Menteri Dalam Negeri RI (Mendagri), telah mengeluarkan instruksi nomor 444.24/2259/SJ tentang Penguatan Kelembagaan dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan HIV dan AIDS di Daerah, pada 3 Mei lalu. Dalam instruksi tersebut, dikatakan dia bahwa Mendagri telah memerintahkan kepada pemerintah daerah, agar membuktikan komitmen nyata mereka dalam mencegah penularan, mengurangi penderita, dan mengantisipasi dampak sosial dan ekonomis, termasuk epidemi HIV dan AIDS di daerah. Para gubernur, bupati, dan wali kota, ditambahkan Ketut, dimintai oleh Mendagri, agar segera membentuk Komisi Penanggulangan AIDS dan memimpin langsung KPA di daerah.

“Pada instruksi tersebut, mulai asisten yang membidangi kesejahteraan rakyat, untuk mengusulkan segera program pengurangan penderita, pencegahan, dan penanggulangan HIV dan AIDS di daerah kepada sekretaris daerah, satuan polisi pamong praja diminta terlibat langsung dalam upaya penanggulangan itu, sesuai Surat Edaran Mendagri Nomor 33.1/2803/SJ tanggal 24 Juli 2012 dan rencana aksi daerah,” tegasnya.

Dikirim oleh toto pada (160 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Jaktim Tertinggi Jumlah Penderita HIV/AIDS di Ibukota
Topik: HIV/AIDS
Suara Pembaruan, 21 Agustus 2013

[JAKARTA] Wilayah Jakarta Timur memiliki jumlah penderita HIV/ AIDS (Human Immunodeficiency Virus/ Acquired immune deficiency syndrome) tertinggi dibanding lima wilayah lain yang ada di Provinsi DKI Jakarta.

Berdasarkan data yang dimiliki Komisi Penanggulangan AIDS Kota (KPAK) Jakarta Timur, dari Januari hingga Agustus ini, di Jakarta Timur jumlah penderita HIV AIDS mencapai 381 orang. Sementara wilayah dengan penderita HIV/AIDS terbanyak kedua ditempati Jakarta Barat dengan jumlah penderita sebanyak 369 orang.

Sekretaris KPAK Jakarta Timur, Dedy Samsudi, mengatakan jumlah penderita tersebut diperoleh dari laporan pihak Rumah Sakit dan Puskesmas yang telah mendeteksi dan menangani para penderita.

"Jumlah penderitanya lebih tinggi dari Jakarta Barat yang banyak lokasi hiburannya. Di Jakarta Timur ada 381 orang, dengan rincian 141 orang terserang HIV dan yang menderita AIDS ada 240 orang," kata Dedy saat sosialisasi HIV/ AIDS kepada para pemuda d Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Selasa (20/8).

Dedy mengaku belum dapat mendeteksi penyebab tingginya jumlah penderita di wilayah Jakarta Timur. Namun, berdasar data yang dihimpunnya, para penderita mayoritas berusia produktif, yakni antara usia 25 hingga 40 tahun.

"Kalau penularannya bisa melalui hubungan seks bebas dan bisa juga melalui jarum suntik. Salah satu penularannya ya melalui sana," katanya.

Mengetahui tingginya jumlah penderita virus yang membunuh sistem kekebalan tubuh tersebut, Wakil Walikota Jakarta Timur, Husein Murad, mengaku merasa miris. Pasalnya, jumlah tersebut melebihi rata-rata jumlah penderita di wilayah lainnya.

"Jumlah penderita se-DKI Jakarta sendiri ada 1.571. Kalau di angka rata-ratakan dengan jumlah 5 kota dan satu kabupaten, seharusnya tidak lebih dari 300an," katanya.

Untuk itu, Husein Murad menegaskan, pihaknya akan semakin menggencarkan kampanye dan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut.

Dikatakan, hingga saat ini, sudah ada 5 RW di lima Kecamatan di wilayah Jakarta Timur, yang membentuk Forum Peduli HIV/ AIDS. Kelima RW tersebut antara lain RW 16 Kelurahan Bidaracina, Kecamatan Jatinegara; RW 16 Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramatjati; RW 06 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit; dan RW 01 Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas; serta RW 01 Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo.

"Di RW 16 Bidaracina dan RW 03 Kebon Manggis, ada forum masyarakat yang khusus concern pada bahaya jarum suntik sebagai media penularan HIV AIDS," ujarnya.

Selain melalui kelompok-kelompok masyarakat di lingkungan tempat tinggal, Husein mengatakan, pihaknya juga merangkul sekolah yang ada di Jakarta Timur untuk terus menyosialisasikan mengenai HIV/AIDS. Menurutnya, peran mengampanyekan dan menyosialisasikan HIV/ AIDS di lingkungan sekolah dapat dilakukan dengan memanfaatkan peran UKS (Unit Kesehatan Sekolah).

Dikirim oleh toto pada (155 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Calon Pengantin di Sumedang Diusulkan Wajib Tes HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
TRIBUNNEWS.COM, 21 Agustus 2013

SUMEDANG - Pasangan calon pengantin diusulkan menjalani tes HIV/AIDS.

Usulan itu mengemuka saat dengar pendapat dari masyarakat, yang dilakukan Panitia Khusus (Pansus) Raperda Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di DPRD Sumedang, Jawa Barat, Selasa (20/8/2013).

Sekretaris Pansus drg Rahmat Juliadi mengatakan, usulan muncul untuk melindungi dan mencegah pasangan pengantin dari penularan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.

"Saat pembahasan Raperda, muncul usulan supaya calon pengantin dites HIV/AIDS sebelum menikah," kata Rahmat, Selasa.

Menurut Rahmat, pasangan calon pengantin harus tahu kondisi pasangannya.

"Orang punya hak untuk sehat. Seperti orang merokok, itu haknya, tapi orang yang tidak merokok juga punya hak tidak menerima asap rokok," tuturnya.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Sumedang Hilman Taufik menyebutkan, wacana tes HIV/AIDS bagus dimunculkan.

"Tidak ada yang tidak mungkin. Usulan itu bagus diwacanakan," ucap Hilman.

Menurut Hilman, banyak ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya.

Dikirim oleh toto pada (129 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Jaktim Juara Tingkat DKI Soal Penderita HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Harian Terbit, 20 Agustus 2013

JAKARTA — Wilayah Jakarta Timur terbanyak penduduknya menderita HIV/AIDS dibanding wilayah lain di Provinsi DKI Jakarta. Hingga Agustus tahun ini, tercatat ada 381 orang di Jakarta Timur penderita HIV/AIDS. Jumlah ini terbanyak di DKI, di atas angka Jakarta Barat yang mencapai 360 orang.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Kota (KPAK) Jakarta Timur, Dedy Samsudi menyebutkan, tingginya jumlah penduduk di Jakarta Timur yang mengidap HIV/AIDS. Jumlah penderita HIV/AIDS di Jaktim capai 381 orang

“Jumlah penderitanya lebih tinggi dari Jakarta Barat yang banyak lokasi hiburannya. Ada 381 orang dengan rincian, 141 orang terserang HIV dan yang menderita Aids ada 240 orang,” paparnya.

Dedy Samsudi, mengatakan bahwa jumlah penderita tersebut di dapat dari laporan pihak Rumah Sakit dan Puskesmas yang telah melakukan pendeteksian serta penanganan terhadap para penderita.

Tingginya jumlah penderita tersebut belum bisa dideteksi pasti apa yang menjadi pemicunya. Meskipun dilihat kelompok usia penderita mayoritas dalam usia produktif, antara 25 – 40 tahun.

“Kalau penularannya bisa melalui hubungan seks bebas dan bisa juga melalui jarum suntik. Salah satu penularannya ya melalui sana,” tegasnya.

Wakil Walikota Jakarta Timur, Husein Murad, mengaku miris dengan tingginya angka tersebut. “Jumlah penderita se-DKI Jakarta ada 1571,” katanya.

Husein mengatakan akan semakin menggencarkan kampanye dan sosialisasi di masyarakat guna mengantisipasi penyebaran HIV/AIDS. “Kita merangkul kelompok-kelompok di masyarakat agar lebih giat melakukan kampanye dan sosialisasi bahaya HIV/AIDS,” katanya.

Seperti saat ini sudah ada 5 RW di lima Kecamatan se-Jakarta Timur, yang membentuk Forum Peduli HIV/AIDS. Seperti di RW 16 Kelurahan Bidaracina, Jatinegara, RW 16 Cililitan, Kramatjati, RW 06 Malakajaya, Duren Sawit dan RW 01 Ciracas, Ciracas.

Dikirim oleh toto pada (131 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Semua Warga Zimbabwe Dipaksa Tes HIV AIDS
Topik: HIV/AIDS
Liputan6.com, 20 Agustus 2013

Harare: Untuk membasmi penyebaran HIV AIDS di negara yang ia pimpin, Robert Mugabe menyarankan kepada seluruh masyarakat Zimbabwe untuk secara sukarela melakukan tes HIV.

Dikirim oleh toto pada (160 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?
Topik: HIV/AIDS
REPUBLIKA.CO.ID, 20 Agustus 2013

DENPASAR -- Kaum perempuan lebih rentan tertular virus HIV dibandingkan laki-laki dilihat dari sisi biologis dan hubungan sosial. Hal ini disampaikan Ketua Pokja CST Komisi Penanggulangan AIDS Bali, Tuti Parwati Merati.

"Pada banyak kasus, sering ditemukan seorang istri yang hanya diam di rumah dan pada saat gadis tidak melakukan perilaku berisiko ternyata terkena HIV. Mereka tertular dari suaminya yang melakukan hubungan seksual bergonta-ganti pasangan," kata Tuti di Denpasar, Selasa (20/8).

Menurutnya, yang membidangi pokja Pengobatan, Perawatan dan Dukungan (CST) bagi penderita HIV/AIDS, kaum laki-laki posisinya jauh lebih bisa menentukan nasib dirinya untuk tertular atau tidak, serta mencari cara supaya tidak menularkan dibandingkan kaum perempuan.

"Ditinjau dari segi biologis, bentuk organ reproduksi perempuan memungkinkan lebih banyak menampung cairan sperma yang kemungkinan mengandung virus HIV. Apalagi kondom khusus perempuan belum dijual bebas, harganya jauh lebih mahal dibandingkan kondom untuk pria dan kurang diminati pemakaiannya," ujar Tuti.

Dari sisi sosial, perempuan harus mengemban tugas rangkap. Tidak hanya di ranah domestik dengan berbagai kegiatannya mengurus rumah tangga dan tak sedikit harus bekerja. Akibatnya perempuan seakan tidak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri dan kondisi kesehatannya.

"Kaum perempuan seringkali baru memeriksakan dirinya sangat terlambat ketika sudah dalam kondisi sakit dan sudah pada fase AIDS. Demikian juga terkait akses informasi, ketika ada sosialisasi HIV/AIDS, kerapkali yang diprioritaskan mendapatkan informasi hanya kaum pria," kata Tuti.

Kunci tidak menularkan HIV, kata guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu, sebenarnya terletak pada kaum laki-laki. Masalahnya apakah mereka mau membuat perubahan atau tidak dan tidak menularkan pada pasangan dengan memakai kondom?

"Harapan kami perempuan bisa lebih waspada, sadar dan mendapatkan informasi kesehatan secara seimbang. Memang peran perempuan dalam rumah tangga cukup berat, namun harus sensitif membaca keadaaan lingkungan termasuk perilaku suami," ujar Tuti.

Dikirim oleh toto pada (134 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Angka Kematian Terkait HIV Meningkat di 98 Negara
Topik: HIV/AIDS
VOA, 20 Agustus 2013

PHNOM PENH
— Sebuah studi global yang dirilis Selasa (20/8) menunjukkan hasil beragam terkait upaya-upaya yang dilakukan oleh sejumlah negara dalam mengatasi epidemi HIV.

Sementara beberapa negara di Asia Tenggara telah mencapai kemajuan yang baik dalam melawan penyakit, situasinya masih suram di negara-negara lainnya, termasuk Indonesia, Vietnam dan Filipina.

Laporan yang dirilis oleh Institut Kesehatan Metrik dan Evaluasi (IHME) di Universitas Washington di Amerika menemukan bahwa kematian akibat penyakit terkait HIV meningkat lebih dari separuh di ke-187 negara yang disurvei.

“Angka kematian terkait HIV meningkat di 98 negara. Jadi, walaupun beberapa negara yang menanggung beban berat telah mencapai kemajuan besar dalam mengurangi epidemi itu dalam dekade terakhir, HIV muncul dalam populasi yang belum pernah terkena sebelumnya. Di Asia Tenggara, negara-negara yang meningkat angka kematian HIV-nya adalah Indonesia, Laos, Filipina, Sri Lanka, Vietnam,” ujar penulis utama laporan tersebut, Katrina Ortblad.

Sejak HIV pertama kali muncul 1980, penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling mendesak di dunia, sebagian besar menyerang kaum muda yang aktif secara ekonomi.

Penyakit ini paling umum di sub-Sahara Afrika, tempat HIV dianggap sebagai epidemi umum yang mempengaruhi populasi secara lebih luas.

Di Asia Tenggara, seperti di sebagian besar wilayah di dunia, HIV disebut sebagai epidemi yang terkonsentrasi: Mempengaruhi kelompok-kelompok tertentu seperti pekerja seks, orang yang menyuntikkan narkoba, atau laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki.

Laporan IHME itu menganalisa dampak HIV/AIDS dalam kaitannya dengan sejumlah penyakit besar lainnya termasuk kanker, jantung, malaria dan diare, dan berbagai penyakit lain yang berjumlah hampir 300 jenis. Juga diperhitungkan dampak kematian akibat kecelakaan di jalan-jalan. Data yang mendukung penelitian ini diambil dari UNAIDS dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Laporan tersebut mengkalkulasi apa yang disebut beban kesehatan dengan memperhitungkan jumlah tahun yang hilang akibat kematian dini pada setiap penyakit atau kecelakaan, serta waktu yang hilang karena sakit sebelum penderitanya meninggal.

Ini memungkinkan para peneliti untuk membandingkan beban kesehatan HIV atau AIDS pada masing-masing negara dan membandingkan antara satu negara dengan lainnya.

Dikirim oleh toto pada (133 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Dengan Pramuka Cegah HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Suara Merdeka.com, 15 Agustus 2013

Berbadan tegap, pakaian serba coklat dan memakai baret belambangkan tunas kelapa. Sudah bisa tebak kawan? Yes, itu Pramuka. Kemarin, 14 Agustus 2013, kita baru saja merayakan Hari Pramuka yang ke-52. Apa yang kamu pikirkan kalau mendengar kita pramuka? Mungkin selama ini pramuka dikenal sebagai kegiatan yang diisi dengan berkemah, tepuk tangan dan bernyanyi saja. Tapi, tahu nggak kawan, kalau pramuka juga bisa menjadi cara untuk mencegah HIV/AIDS.

Kita tahu, kalau sebagian besar orang yang terinfeksi HIV/AIDS adalah generasi muda yang berusia 20-29 tahun. Padahal mereka adalah harapan bangsa lho. Nah, salah satu pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan mengisi waktu luang generasi muda ini melalui kegiatan dan aktivitas positif, salah satunya adalah ikut kegiatan pramuka.

Di balik berkemah, tepuk tangan dan bernyanyi, itu ada nilai-nilai yang ditanamkan dalam kegiatan pramuka lho. Karena tujuan dari pramuka itu sendiri adalah membentuk karakter sehingga memiliki watak dan akhlak mulia, menanamkan rasa cinta dan semangat kebangsaan serta membekali generasi muda dengan berbagai keterampilan hidup.

Waktu mengikuti kegiatan pramuka seseorang akan belajar dengan interaktif di alam terbuka, permainan yang menantang yang mengandung nilai-nilai tertentu, ada unsur kompetitif serta di bawah bimbingan orang pembinanya.

Dikirim oleh toto pada (107 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: KASUS HIV/AIDS RSUD Pandanarang Telusuri Keluarga Pasien, Hasil Nihil
Topik: HIV/AIDS
Solopos.com, 15 Agustus 2013

BOYOLALI – Pria tanpa identitas mengidap AIDS, meninggal dunia di RSUD Pandanarang Boyolali, Kamis (8/8/2013) lalu. Pihak RSUD Pandanarang telah menelusuri keluarga pasien, hingga Kamis (15/8/2013) hasilnya nihil.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan, Pemberantasan Penyakit, dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali, Achmad Muzzayin, mewakili Kepala Dinkes, Yulianto Prabowo, mengatakan pihak rumah sakit kemudian berusaha menelusuri asal usul pasien tersebut.

Berdasarkan alamat yang diberikan oleh teman pasien yang mengantarkannya ke rumah sakit, pria tersebut diketahui tinggal di Kabupaten Sragen.

Pihak rumah sakit bersama aparat kepolisian mencoba menelusuri alamat tersebut. Sayangnya, ketika sudah ditemukan alamat tersebut, pemilik alamat mengaku tidak mengenal pasien tersebut.

Lima hari setelah pasien tersebut meninggal, jenazahnya akhirnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sonolayu.

Terpisah, Direktur RSUD Pandanarang Boyolali, Endang Sri Widati, saat dimintai konfirmasi, membenarkan kejadian tersebut.

Menurut Endang, korban sempat dirawat namun lantaran penyakitnya sudah parah hingga akhirnya korban meninggal.

“Diduga korban menderita AIDS yang sudah akut,” jelas dia.

Sementara itu ciri-ciri korban antara lain tinggi badan sekitar 160 cm, berusia sekitar 30 tahun, perawakan kurus dan berambut pendek lurus.

Dikirim oleh toto pada (115 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: KASUS HIV/AIDS Pria Tanpa Identitas Meninggal di RSUD Pandanarang Boyolali
Topik: HIV/AIDS
Solopos.com, 15 Agustus 2013

BOYOLALI – Kasus HIV/Aids di wilayah Soloraya menunjukkan tren naik. Seorang pria tanpa identitas yang diketahui mengidap penyakit AIDS, meninggal dunia di RSUD Pandanarang Boyolali, Kamis (8/8/2013) lalu.

Hingga Kamis (15/8), asal usul pasien AIDS tersebut belum diketahui. Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan, Pemberantasan Penyakit, dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali, Achmad Muzzayin, mewakili Kepala Dinkes, Yulianto Prabowo, mengemukakan menurut informasi yang diperoleh Dinkes, pasien AIDS tersebut kali pertama datang bersama temannya ke RSUD Pandanarang untuk menjalani pengobatan.

Sebab saat masuk ke rumah sakit tersebut, kondisi pasien sudah parah. Pasien tersebut didampingi aktivis LSM Peduli Kasih.

”Pasien masuk ke RSUD Pandanarang 3 Agustus lalu, dan saat itu kondisinya sudah drop,” ungkap Muzzayin ketika ditemui wartawan di kantornya, Kamis (15/8).

Diungkapkan dia, pasien diduga merupakan anak jalanan (anjal). Setelah sempat dirawat intensif di RSUD Pandanarang, Kamis (8/8), pria tersebut akhirnya meninggal dunia.

Dikirim oleh toto pada (128 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Sadis! Ibu di India Cekik Mati Putranya Penderita HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Detik.com, 14 Agustus 2013

New Delhi
- Seorang ibu dan anak laki-lakinya di India ditangkap polisi terkait pembunuhan anggota keluarga mereka. Bersama anaknya, ibu ini mencekik anak laki-lakinya yang lain, yang merupakan pasien HIV/AIDS, hingga tewas.

Korban yang bernama Isaac Robin (34) jatuh sakit sejak tahun 2012 lalu. Robin yang bekerja sebagai mandor proyek kontruksi ini divonis terinfeksi HIV/AIDS.

Sejak saat itu, Robin tinggal bersama ibu dan saudara laki-lakinya. Namun bukannya merawat Robin, ibu dan saudaranya justru semakin menjaga jarak dan menjauhinya.

Hingga akhirnya pada 5 Agustus lalu, sang ibu melapor ke polisi bahwa anaknya meninggal setelah muntah darah. Demikian seperti dilansir Asia One, Rabu (14/8/2013).

Namun hasil autopsi terhadap jasad Robin menunjukkan hal janggal. Terungkap dalam laporan post-mortem bahwa Robin ternyata tewas akibat dicekik secara brutal. Bahkan tulang leher dan batang tenggorokannya ditemukan dalam kondisi retak.

Dikirim oleh toto pada (106 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Tes HIV/AIDS Kini Bisa Dilakukan di Rumah
Topik: HIV/AIDS
PRLM, 13 Agustus 2013

LONDON - Tes HIV/AIDS di Inggris tidak perlu lagi dilakukan di rumah sakit dengan proses yang rumit. Pasalnya, pemerintah PM David Cameron telah mengenalkan tes HIV yang bisa dilakukan di rumah dengan sederhana dan biaya murah.

Dalam hal ini, seperti dilaporkan Daily Mail, tes HIV dengan cara DIY (do it by your self ) itu cukup dilakukan dengan mengambil sampel air liur sendiri dan megirimkan hasilnya ke laboratorium.

Dalam waktu singkat, usai tes dilakukan, akan diketahui apakah mereka positif atau negatif HIV/AIDS. Dengan kemudahan ini, Kementerian Kesehatan Inggris (NHS) berharap, tingkat penularan virus HIV/AIDS bisa menurun signifikan.

Dikirim oleh toto pada (116 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Lagi, Uji Coba Vaksin Penyembuh HIV AIDS Lewat Monyet
Topik: HIV/AIDS
Liputan6.com, 11 Agustus 2013

Sao Paulo: Para peneliti dari Medicine Faculty of the University of Sao Paulo berencana menguji vaksin AIDS kepada monyet.

Dikirim oleh toto pada (136 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Brasil Tes Vaksin Baru HIV/AIDS ke Monyet
Topik: HIV/AIDS
KOMPAS.com, 06 Agustus 2013

Lembaga Riset Fakultas Kedokteran Universitas Sao Paulo Brasil mengetes vaksin terbaru HIV/AIDS ke monyet. "Tes itu akan digelar akhir tahun ini selama 24 bulan," kata pernyataan lembaga itu sebagaimana warta AP pada Selasa (6/8/2013).

Lembaga riset itu mengatakan kalau uji coba akan dilakukan di Butantan Institut. Institut ini adalah salah satu lembaga ternama di Brasil.

Menurut penelitian tersebut, sistem kekebalan monyet sama dengan manusia. Monyet pun mampu menerima vaksin Simian Immunology Virus (SIV) yang dipercaya mampu menghalangi penghadangan spesies virus HIV kepada manusia.

Riset itu juga mengatakan kalau vaksin baru memerangi lebih efisien virus HIV. Vaksin baru itu pun berisi kandungan HIVBr18 yang sudah dikembangkan dan dipatenkan para dokter di universitas tersebut.

Dikirim oleh toto pada (75 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Cegah Penularan HIV-AIDS, Warga Paniai Periksa Kesehatan
Topik: HIV/AIDS
Liputan6.com, 05 Agustus 2013

Paniai: Tingginya angka kematian masyarakat asli Suku Mee yang mendiami wilayah Kabupaten Paniai, Papua, diduga salah satu penyebabnya adalah virus HIV-AIDS.

Dikirim oleh toto pada (75 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Kedelai Bisa Jadi Obat HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
TEMPO.CO, 04 Agustus 2013

New York - Menurut sebuah studi terbaru, sebuah senyawa yang berasal dari kedelai menjanjikan harapan dalam pengobatan HIV. Penelitian dilakukan oleh pakar gabungan dari George Mason University, Tulane University Health Sciences Center, dan National Institute of Allergy and Infectious Diseases.

Menurut mereka, kedelai mengandung senyawa yang disebut genistein. Senyawa ini mampu mencegah infeksi yang dapat membantu meringankan masalah resistensi obat karena bertindak dengan cara yang berbeda dari pengobatan HIV saat ini.

"Alih-alih bertindak langsung pada virus, genistein mengganggu proses seluler yang diperlukan virus untuk menginfeksi sel," kata seorang peneliti, Yuntao Wu, profesor di National Center for Biodefense and Infectious Diseases di George Mason University. Senyawa ini membuat virus lebih sulit menjadi resisten terhadap obat. "Penelitian kami saat ini masih tahap awal. Jika secara klinis terbukti efektif, genistein dapat digunakan sebagai pengobatan pelengkap untuk infeksi HIV."

Namun Wu menjelaskan bahwa penelitian ini masih terlalu dini untuk bisa menyimpulkan bahwa makan banyak kedelai benar-benar bisa membantu orang dengan HIV untuk sembuh.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Retrovirology ini memperlihatkan jenis sel, yang disebut sel T CD4--nama untuk genistein, mampu menghentikan sel-sel dari infeksi HIV.

Dikirim oleh toto pada (75 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Kalapas Kerobokan Bantah Rachel Disatukan dengan Napi HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
KOMPAS.com, 30 Juli 2013

DENPASAR — Kepala Lapas Kerobokan, Denpasar, Gusti Ngurah Wiratna menegaskan tidak mencampur Rachel dengan narapidana yang mengidap HIV/AIDS seperti yang dikatakannya kepada media Inggris.

Menurut Wiratna, yang mengetahui siapa saja napi pengidap HIV/AIDS hanya dia dan dokter lapas, jadi tidak mungkin Rachel mengetahui napi lain yang mengidap HIV/AIDS.

"Warga binaan kita tidak tahu siapa yang HIV/AIDS. Hanya dua orang yang tahu, dokter dan pimpinan. Kita tidak akan mencampur mereka sehingga rawan penularan," Wiratna menegaskan, Selasa (30/7/2013).

Lapas Kerobokan, Denpasar, sudah memiliki protap penanganan napi HIV/AIDS mulai dari proses screening atau pengecekan saat baru masuk hingga proses perawatan mereka selama di dalam lapas.

Dikirim oleh toto pada (81 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Teman Satu Sel Rachel di Kerobokan Tak Ada Berpenyakit HIV AIDS
Topik: HIV/AIDS
Okezone.com, 29 Juli 2013

JAKARTA - Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan Bali, I Gusti Ngurah Wiratna, mengungkapkan satu hal lagi kebohongan yang dilakukan mantan terpidana kasus narkoba asal Inggris, Rachel Lisa Dougall, selama menjadi warga binaan Kerobokan.

Wiratna memastikan, teman satu sel Rachel tidak ada yang memiliki penyakit HIV AIDS seperti yang diungkapkan dalam sebuah wawancara dengan media Inggris.

“Saya pastikan tidak ada. Penyakit HIV AIDS menjadi masalah konsern kami sebelum melakukan pembinaan terhadap calon warga binaan,” kata Wiratna saat dikonfirmasi Okezone, Senin (29/7/2013).

Dia menjelaskan, pemeriksaan HIV AIDS selalu rutin dilakukan pihak lapas. Wiratna menyebut, setiap satu bulan sekali pihak lapas melakukan pengecekan HIV AIDS dua kali.

“Saya juga takut terhadap HIV AIDS. Tidak akan mungkin saya menzalimi warga binaan dengan mencampur satu sel dengan tahanan yang menderita penyakit HIV AIDS,” paparnya.

Sebelumnya kepada media Inggris, Daily Mail, Rachel menceritakan kerap mendapat penganiayaan tendangan dan pukulan saat di dalam sel. Dia mengaku hanya bisa menutupi mukanya karena menahan sakit.

Rachel mengaku mengalami gangguan mental setelah dikurung dengan pecandu narkoba, tahanan HIV-positif, dan lesbian agresif secara seksual

Dikirim oleh toto pada (79 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: 4 Warga Jemaja Terinfeksi HIV-AIDS
Topik: HIV/AIDS
INILAH.COM, 29 Juli 2013

Tanjungpinang - Sebagai halaman depan NKRI, kawasan perbatasan rentan terhadap pengaruh asing. Karena itu, perlu semangat bersama untuk membangun pulau-pulau terluar Indonesia agar tak tertinggal dari wilayah lain serta menjaga agar terhindar dari pengaruh buruk asing.

Camat Jemaja Robby Sanjaya dalam seminar 'Strategi Bersama, Membangun Perbatasan Beranda Terdepan NKRI' yang digelar Komunitas Merah Putih di Kecamatan Jemaja, Kabupaten Anambas, Sabtu (27/7/2013), memaparkan kondisi sosial masyarakat Jemaja yang kian memprihatinkan.

Jemaja adalah daerah perbatasan yang berubah menjadi kota kecil yang penuh dengan kompleksitas masalah. Bahkan di wilayahnya kini terdapat 4 orang positif terinfeksi HIV-AIDS.

"Penyakit masyarakat seperti narkoba dan prostitusi yang menjadi ciri-ciri kehidupan modern perkotaan sudah merambah ke Jemaja. Bahkan ditemukan 4 orang penduduk Jemaja yang positif terindikasi HIV-AIDS. 1 orang pendatang dan 3 orang warga asli Jemaja," ujar Robby.

Ia mengatakan, pihaknya serta unsur muspika telah berupaya maksimal menyosialisasikan bahaya narkoba dan HIV-AIDS. Namun kata Robby, penyakit masyarakat ibarat jamur kulit, apabila tidak diobati akan menyebar ke seluruh tubuh. "Narkoba dan HIV-AIDS adalah tantangan kita saat ini di perbatasan. Apabila tidak segera diatasi akan terus menyebar. Tentu kita yang akan dirugikan," kata Robby.

"Kawasan perbatasan merupakan kawasan yang sangat sensitif dan perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kesejahteraan masyarakat harus ditingkatkan, pendidikan diperbaiki, kesehatan juga menjadi prioritas. Pemerintah harus membuka akses transportasi," kata Robby.

Sementara Danramil Jemaja R Nainggolan menegaskan agar pemuda di perbatasan harus bangkit dan memiliki semangat seperti Patih Gadjah Mada yang mempersatukan nusantara.

"Mengapa Indonesia dijajah dalam jangka waktu lama, karena saat itu kita mudah untuk dipecahbelah. Politik devide et impera (pecah belah dan kuasai) ternyata ampuh memisahkan nusantara. Padahal, jauh sebelum Belanda datang, Nusantara telah dipersatukan oleh patih Gadjah Mada yang kita kenal dengan Sumpah Palapa. Semangat ini harus ada di seluruh pemuda Jemaja," ujarnya.

Nainggolan juga mengatakan bahwa pulau-pulau terluar adalah bagian dari NKRI sehingga menjadi tanggung jawab bersama sebagai warga negara Indonesia menjaganya. Kawasan perbatasan adalah wilayah terluar Indonesia yang harus dilewati oleh negara asing. Sebagai halaman depan, kawasan ini rentan akan pengaruh asing. "NKRI adalah harga mati, masyarakat dan tentara harus bahu membahu menjaga kedaulatan di titik batas NKRI, " tegasnya.

Sementara Masirwan, ketua Komunitas Merah Putih yang juga mahasiswa UMRAH Tanjungpinang mengatakan, banyak hal harus dibenahi terkait pengadaan sarana dan infrastruktur seperti sarana pendidikan dan transportasi darat dan laut di kawasan perbatasan.

Menurutnya, pembenahan ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di perbatasan. Kepri merupakan wilayah yang pulaunya dipisahkan dengan lautan tentu sangat membutuhkan transportasi laut yang memadai. Dermaga juga harus dibangun agar akses keluar-masuk kapal dan barang dapat berjalan lancar.

"Akses transportasi laut harus mendapatkan prioritas agar mempermudah arus barang dan jasa menuju perbatasan. Barang-barang di perbatasan terbilang tinggi harganya karena memang cost yang dibutuhkan cukup besar untuk transportasinya, " ujar Iwan.

Menurut Iwan, pembagunan kawasan perbatasan merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan wilayah provinsi Kepri dan pembagunan nasional sehingga diperlukan komitmen bersama. "Kita punya tanggung jawab yang sama untuk menjaga, membangun dan mempertahankan NKRI di perbatasan. Namun mungkin porsinya sesuai dengan tupoksi masing-masing. Perbatasan adalah milik kita yang harus dijaga dan dirawat," ujar Iwan.

Dikirim oleh toto pada (95 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Pemerintah Australia diimbau beri perhatian Hepatitis B sebanding HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Radio Australia, 29 Juli 2013

Pemerintah Australia didesak agar mengubah cara pendekatan terhadap Hepatitis B, dan memberikannya perhatian yang sama seperti pada HIV/AIDS
.

Otoritas kesehatan di Australia menggunakan Hari Hepatitis se-Dunia untuk menyerukan pemerinth federal dan negara-negarabagian agar memikirkan kembali kebijakan imunisasi mengingat meningkatnya jumlah penderita kanker hati dan penyakit liver.

CEO Hepatitis Australia, Helen Tyrell, mengatakan kepada program Pasific Beat Radio Australia, penyakit itu merupakan epidemi global dan membutuhkan perhatian khusus.

“Di Australia ada sekitar 218.000 orang yang hidup dengan kondisi Hepatitis B kronis," kata Tyrell.

Katanya, angka itu 1 banding 9 dengan pengidap HIV.

Dikatakan, di seluruh dunia terdapat 240 juta pengidap Hepatitis B dan sekitar dua miliar orang diperkirakan telah terpapar.

Hepatitis B disebut sebagai virus yang sangat menular.

"Ini 50 sampai 100 kali lebih menular ketimbang HIV,” ujarnya.

Tyrrell mengatakan sekitar separuh dari populasi yang terinfeksi tidak menyadari mereka mengidapnya.

"Diperkirakan di Australia saja ada sekitar 100.000 orang yang tanpa sadar mengidap Hepatitis B kronis," katanya.

Ia menjelaskan, virus itu terutama ditularkan dari ibu ke anak, tapi dapat ditularkan lewat segala bentuk kontak darah ke darah dan melalui kontak seksual.

Penelitian terbaru Hepatitis Australia menunjukkan bahwa separuh lebih dari responden survei yang berasal dari Asia Pasifik atau Afrika, di mana Hepatitis B tersebar luas, tidak tahu ada vaksin Hepatitis B, dan mereka juga tidak tahu bahwa mereka punya risiko terinfeksi lebih tinggi.

"Apa yang kita lakukan adalah menyerukan kepada Pemerintah Australia agar memikirkan kembali strategi imunisasi Hepatitis B. Khususnya untuk memastikan agar mereka menjangkau keluarga yang berasal dari daerah prevalensi tinggi seperti Asia Pasifik, untuk meningkatkan vaksinasi dalam komunita mereka di Australia," lanjutnya lagi.

Tyrrell mengungkapkan, meski telah dicapai kemajuan untuk memastikan lebih banyak bayi dan anak-anak divaksinasi terhadap virus Hep B, tapi penting agar pemerintah mendukung program pemeriksaan untuk mendiagnosa lebih banyak orang.

Jika orang tidak terdiagnosis, mereka tanpa sadar dapat menularkan virus kepada orang lain dan mereka juga berisiko lebih besar meninggal akibat komplikasi penyakit hati dan kanker hati.

"Kematian akibat kanker hati di Australia meningkat lebih cepat daripada kanker lain dan Hepatitis B merupakan penyumbang utama dari tren itu," katanya.

Tyrrell mengatakan, walaupun ada obat-obatan anti-virus mirip dengan obat untuk HIV yang sangat efektif dan berpotensi menyelamatkan nyawa, hanya sekitar 3 persen di Australia dan sedikt orang di dunia yang bisa mengaksesnya.

Kata Tyrrell, banyak penderita Hepatitis B kronis di masa lalu diberitahu secara keliru agar tidak perlu kuatir dengan diagnosa karena mereka merupakan carrier yang sehat.

"Kita sekarang tahu bahwa setiap orang penderita Hepatitis B - yang jumlahnya 240 juta orang di seluruh dunia - perlu dimonitor secara tetap," katanya.

Mereka itu perlu dipantau kesehatan hatinya untuk mencegah risiko kanker hati dan penyakit liver kronis, tambahnya.

"Australia mungkin lebih maju dari banyak negara lain di Asia Pasifik, kami jelas dalam posisi yang lebih baik secara ekonomi dibandingkan banyak negara di kawasan Pasifik untuk mengatasi Hepatitis B," ungkapnya.

Tyrrell juga menginginkan Australia berbuat lebih banyak untuk membantu mitra regionalnya di kawasan Asia Pasifik menangani Hepatitis B di negara mereka.

Dikirim oleh toto pada (109 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Gadis-gadis Muda Tertular HIV dari Mantan Pejabat Menteri
Topik: HIV/AIDS
Liputan6.com, 28 Juli 2013

Harare: Dr Sylvester Maunganidze, mantan pejabat di Kementerian Pariwisata Zimbabwe dituduh telah menularkan penyakit HIV ke gadis-gadis muda. Sekelompok aktivis peduli perempuan menuding ia telah menginfeksi gadis-gadis muda dengan virus yang menyebabkan AIDS itu.

Dikirim oleh toto pada (111 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: 42 Kader PKK Ikuti Lokakarya HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Harian Sumut Pos, 24 Juli 2013

MEDAN - Penyebaran HIV/AIDS saat ini sangat memprihatinkan dengan angka penderitanya terus bertambah. Penyakit ini juga menyentuh semua kalangan usia termasuk bayi dan ibu rumah tangga. Tentunya hal ini menjadi perhatian semua orang. Hal ini disampaikan Plt Walikota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi diwakili Sekda Medan Ir Syaiful Bahri Lubis, saat membuka kegiatan lokakarya tentang HIV/AIDS Selasa ( 23/7). Pembukaan lokakarya ditandai dengan penyematan bet nama oleh Sekda Medan kepada 2 orang perserta. KEgiatan yang diikuti 42 peserta ini terdiri dari kader-kader PKK yang mewakili Kecamatan se-Kota Medan.

Dikirim oleh toto pada (85 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: PSK terjaring di Bogor positif HIV
Topik: HIV/AIDS
Merdeka.com, 24 Juli 2013

Seorang pekerja seks komersil (PSK) yang terjaring razia petugas Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bogor, dilaporkan positif HIV. Laporan tersebut diterima oleh Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi Kota Bogor, Selasa.

"Kami mendapatkan laporan dari Panti Sosial Pasar Rebo, satu dari 14 WTS yang kami kirimkan untuk pembinaan di sana, diketahui positif HIV. Kami diminta untuk menjemputnya agar diberikan pembinaan secara terpisah," kata Kepala Pelaksana Rehabilitasi Sosial, Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi, Kota Bogor, Sugeng Rulyadi saat ditemui di kantornya, Selasa (23/7)

Sugeng menyebutkan, penertiban terhadap PSK tersebut dilakukan Jumat (19/7) oleh Satpol PP Kota Bogor. Dalam razia penertiban tersebut terjaring sebanyak 14 PSK.

Mereka langsung didata di Rehabilitasi Sosial Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi untuk selanjutnya diberikan pembinaan sebagai upaya mencegah pelaku kembali lagi menjadi PSK.

"Para WTS ini seperti biasa kita kirim ke Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Mulya Jaya, Pasar Rebo untuk mendapatkan pembinaan," kata Sugeng.

Sebelumnya, kata Sugeng, sebelum dikirim ke PSKW, para PSK tersebut juga menjalani pemeriksaan dan tes HIV di Disnakersostran Kota Bogor.

Namun, sebelum hasil tes keluar, para PSK ini sudah terlebih dahulu dikirim ke PSKW. Sebelum mendapatkan pelatihan dan pembinaan di PSKW, setiap PSK juga menjalani pemeriksaan kesehatan dan tes HIV.

"Dari hasil itu diketahui satu orang WTS yang kita kirimkan positif HIV," kata Sugeng.

Sugeng menyebutkan, PSKW tidak menerima pembinaan untuk PSK yang positif HIV karena dikhawatirkan dapat menular ke penghuni PSKW lainnya. Sugeng menyebutkan, PSKW bertugas untuk memberikan keterampilan, bukan untuk merawat penderita HIV.

Sugeng menambahkan, setelah menerima laporan tersebut pihaknya akan melakukan identifikasi data PSK tersebut apakah warga Kota Bogor atau Kabupaten Bogor.

Dikirim oleh toto pada (99 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Ubi Merah Papua Tingkatkan Gizi Pengidap HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Kompas.com, 24 Juli 2013

Ubi jalar merah Papua ternyata bisa dimanfaatkan sebagai penganan untuk meningkatkan gizi anak pengidap HIV/AIDS.

Inovasi tersebut dilakukan oleh tim mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor dan memenangkan penghargaan dalam kompetisi Developing Solutions for Developing Countries.

Di tangan tim mahasiswa yang terdiri dari Veni Inssani, Cynthia, dan Jian Septian, ubi merah Papua tersebut diubah menjadi biskuit kaya gizi yang diberi nama Sweepo, yang merupakan akronim dari sweet potato.

"Ubi merah kaya beta karoten, kaya energi, protein, dan vitamin A, yang cocok bagi pengidap AIDS yang memiliki sistem imun dan nafsu makan rendah," kata Veni dalam acara jumpa pers di Jakarta, Selasa (23/7/13).

Veni menjelaskan, proses pembuatan sweepo sebenarnya sederhana dan bisa dibuat sendiri di rumah. Pertama ubi jalar diubah dulu menjadi tepung, kemudian bahan-bahan lain seperti mentega, gula, susu, pisang, dan kacang-kacangan ditambahkan.

Biskuit tersebut bertekstur renyah dan meleleh di mulut sehingga anak-anak pengidap HIV/AIDS mudah mengunyahnya.

Meski ditujukan untuk anak pengidap HIV/AIDS, bukan berarti sweepo tidak bisa dikonsumsi anak lainnya. "Sweepo bisa dikonsumsi siapa saja, karena kandungannya yang penuh nutrisi," kata Veni.

Biskuit ini juga telah menjalani uji rasa. Hasilnya biskuit ini disukai 82 persen reponden anak. Jumlah responden adalah 57 anak berusia 5 sampai 14 tahun. Penelitian ini membuktikan betapa Indonesia kaya akan bahan berkualitas. Namun tetap dibutuhkan tangan kreatif untuk membentuknya jadi pangan bermutu.

"Semoga prestasi ini tidak berhenti di sini. Karena kami juga selalu memantau perkembangan teknologi untuk produk kami," kata Nutrifood Head of Marketing Communnication, Angelique Dewi Permatasari.

Dikirim oleh toto pada (101 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Penyebaran HIV/AIDS jadi perhatian dunia
Topik: HIV/AIDS
Waspada Online, 23 Juli 2013

MEDAN - Penyebaran HIV/AIDS saat ini sudah memperihatinkan. Angka penderitanya terus bertambah. Penyakit ini menyentuh semua kalangan usia termasuk bayi dan ibu rumah tangga. Tentunya hal ini menjadi perhatian kita semua. Hal ini disampaikan Plt Walikota Medan, Dzulmi Eldin, diwakili Sekda Medan Syaiful Bahri Lubis, di Grand Antares Medan, hari ini.

Lokakarya ini dibuka ditandai dengan penyematan bet nama oleh Sekda Medan kepada 2 orang perserta yakni Ny Kahaidir dari Kecamatan Medan Belawan dan Lina. Peserta berjumlah 42 orang dari kader-kader PKK yang mewakili Kecamatan se kota Medan.

Ia mengingatkan, bahwa penyebaran penyakit HIV dan AIDS ini, bukanlah hanya menjadi perhatian pemerintah daerah, pusat saja, bahkan menjadi perhatian dunia. Untuk itu mari kita berperan aktif dan bekerjasama dalam menyebarluaskan informasi tentang bahaya HIV dan AIDS, ” ujarnya.

Bagi seluruh peserta diharapkan dapat mengikuti kegiatan lokakarya ini dengan sebaik-baiknya dan sungguh-sungguh, sehingga benar-benar dapat menghasilkan rumusan yang bermanfaat bagi penanggulangan HIV dan AIDS khususnya di kota Medan.

Ahmad Raja Nasution selaku Kabag Administrasi Kesejahteraan Rakyat dalam laporannya mengatakan, maksud dan tujuan kegiatan ini untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan tentang peran penting PKK Kecamatan untuk lebih aktif terlibat dalam meningkatkan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.

Selain itu untuk meningkatkan kepedulian pengurus PKK Kecamatan terutama Pokja IV, hendaknya terlibat aktif dalam pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS di tengah-tengah masyarakat.

Dikirim oleh toto pada (92 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: HIV/AIDS tulari 15 warga Pacitan hanya dalam tempo enam bulan
Topik: HIV/AIDS
LENSAINDONESIA.COM, 23 Juli 2013

Tingkat penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Pacitan kian tinggi. Dalam waktu enam bulan, terhitung sejak Januari-Juni tahun ini telah ada 15 warga yang terjangkit penyakit mematikan tersebut.

“Angka penularan cukup tinggi. Demikian pula resiko bertambahnya penderita,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan, Eko Budiono.

Data Dinkes mencatat selama kurun 2005 sampai 2013 tercatat ada 75 orang warga menderita HIV/AIDS. Meski dibanding kota-kota besar angka penderita itu termasuk kecil, tetapi hal itu tetap menjadi perhatian serius pihak terkait. Sebab, penularan penyakit yang disebut `penyakit kutukan` ini seperti fenomena gunung es. Dimana ketika ditemukan satu orang terjangkit, maka 1.000 orang disekitarnya berpotensi tertular.

Mantan Kepala Badan Keluarga Berencana Dan Pemberdayaan Perempuan (KB Dan PP) ini berharap agar masyarakat dengan resiko tertular tinggi untuk menjalani voluntary conseling and testing (VCT). Namun diakuinya upaya deteksi dini semacam itu tidak mudah. Karena disatu sisi inisiatif dari mereka yang berada dalam kelompok rentan tertular masih rendah. Beberapa kelompok tersebut diantaranya pecandu narkoba dan orang yang sering berganti-ganti pasangan seks. “Alasannya mereka malu untuk memeriksakan diri. Apalagi jika benar-benar terinfeksi,” tandas Eko.

Kondisi itu pula membuat penanganannya terlambat. Bahkan acapkali penyakit baru diketahui setelah penderita meninggal dunia. Dari 75 orang yang terjangkit, sebanyak 42 diantaranya telah meregang nyawa. Dari sisi usia, HIV/AIDS tak mengenal jenjang. Sebab ada diantara penderita masih berusia kurang dari lima tahun. Namun sebagian besar memang didominasi usia produktif.

Mengingat kian seriusnya potensi dan ancaman penyebaran HIV/AIDS maka Dinkes perlu menggandeng lebih banyak pihak untuk ikut berperan serta menanggulangi. Salah satunya kaum perempuan melalui PKK Kabupaten. Dengan sosialisasi para ibu-ibu lebih memahami bahaya sekaligus menghindari penularan penyakit yang satu itu.

Dikirim oleh toto pada (89 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
    ilahi Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
To Facilitate a Network for HIV-AIDS Worker in Indonesia