A better strategic information for effecctive HIV - AIDS response in Indonesia   

Pilih Bahasa
(Select Interface Language)

English Indonesian
Google
 
Untuk Akses, Mohon Registrasi

Daftar Member Baru - Login Member
    HIV-tuberculosis co-infection is a global problem: resources need to be expanded and funding must be sustainable and predictable        PB IDI menyatakan bahwa kondom adalah alat kesehatan yang mampu mencegah penularan infeksi menular seksual (termasuk HIV) bila digunakan pada setiap kegiatan seks berisiko.        By enabling and empowering women to protect themselves and their partners with female condoms, we can begin saving lives and curbing the spread of HIV today.         Women need prevention now. They need access to the female condom and education on its use.        Indonesian AIDS Community (AIDS-INA) will use internet technologies for facilitating the dissemination and exchange of knowledge and experience in HIV/AIDS programme among all community members        Do you know that DFID provide £25 million in support of a large HIV and AIDS Programme in Indonesia started in 2005? Do you know where the fund have been allocated?        Apakah Menko KesRa atau Presiden SBY masih peduli terhadap penanggulangan penyakit menular, termasuk HIV-AIDS, TB, Malaria - di Indonesia? Indonesia sedang dalam kondisi sungguh sulit dengan dampak penularan yang terus meluas pada masyarakat yang miskin        Bila Konsep Akselerasi Upaya Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia tidak difahami dengan BENAR dan Berbasis evidence, maka TIDAK AKAN berhasil menahan laju epidemi HIV di Indonesia. Itu yang terjadi sekarang!        Further evidence to support a recommendation for exclusive breastfeeding by HIV-positive mothers in resource-limited settings        Deliver TB and HIV services in the context of fully functioning primary health care systems to ensure cases are detected, prevention is available and treatment accessible and sustained        Reach the most vulnerable populations with TB and HIV services Now!        The HIV service providers need to do : screening for TB and starting isoniazid preventive therapy if there is no sign of active TB.        To fight AIDS we must do more to fight TB (Nelson Mandella, 2004)        Violence makes women more susceptible to HIV infection and the fear of violent male reactions, physical and psychological, prevents many women from trying to find out more about it, discourages them from getting tested and stops them from getting treatmen        People at high risk of HIV exposure should be tested every three to six months in identifying recently infected people then we have to be able to counsel them to modify high-risk sexual behavior and desist from transmitting the virus        About half of new HIV cases occur when the person transmitting the virus is in the early stages of infection and unlikely to know if he or she is HIV-positive        HIV/AIDS Epidemic in Indonesia: not one ( single) epidemic but many (multiple) (riono, pandu)        Combating HIV-AIDS requires more than prevention and treatment. It requires improving the conditions under which people are free to choose safer life strategies and conditions.        Para pecandu yang butuh alat suntik (insul) steril, hubungi LSM setempat - Lihat pada Jejaring Layanan        Kurangi Dampak Akibat Bencana Napza dengan Upaya Pemulihan Pecandu yang komprehensif (metadon, Jarums steril, tes HIV dan Hep C, Pengobatan dan Dukungan)        Treatment without prevention is simply unsustainable! Pengobatan saja tanpa upaya pencegahan yang serius dan sistematik sama saja BOHONG!        1 Desember: keprihatinan global atas kegagalan kita!        Gunakan alat suntik steril untuk hindari penularan HIV dan Hepatitis        Pakai kondom pada setiap kegiatan seks berisiko, dapat mencegah penularan HIV        HIV tidak mudah menular dari satu orang ke orang lain        Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) adalah institusi koordinasi BUKAN Pelaksana program atau Implementor!!        Profesi Kesehatan perlu terlibat dan dilibatkan secara aktif dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS        Perluasan Masalah HIV-AIDS di Indonesia TIDAK mungkin dibatasi oleh wilayah administratif tertentu saja        Hindari diskriminasi dan stigmatisasi pada orang rawan dan orang yang telah terkena HIV        AIDS adalah kenyataan, lakukan tes HIV bila ingin tahu status anda        AIDS-INA - Sarana komunitas AIDS Indonesia untuk menyampaikan gagasan serta tukar informasi    

Menu

Referensi
 Kliping Baru: Kliping/Berita AIDS dan Narkoba dari Media Masa di Indonesia
 Estimasi
 Data Kasus
 Artikel
 Publikasi
 Perpustakaan
 Daftar Istilah

Jejaring
 KPAP/KPAK
 LSM-Institusi
 Individu
 Layanan AIDS
 Website
 Laporan Keg.

Agenda
 Internasional
 Nasional

Informasi Dasar
  Adiksi
  Harm Reduction
  HIV-AIDS
  IMS/RTI
  Tes HIV

Translate with
Google Translate

Lilin Kenangan

Lilin Kenangan
Lilin Kenangan dipersembahkan untuk:
"sahabat ODHA, jangan pernah putus asa tetap bersemangat menjalani hidup ! tidak perlu malu dengan orang disekitar, kuat kan lah diri mu. masih banyak orang yang perduli dan sayang pada mu... NEVER GIVE UP !!!"
oleh:
bone seno
Banten

Nyalakan Lilin Anda

Partisipasi Anda

 Umpan Balik
 Kirim Kegiatan
 Kirim berita
 Join Mailist aids-ina

Pencarian


Google

Yang sedang online

Saat ini ada
84 tamu, 1 anggota
dan
Hari ini dikunjungi oleh 884 tamu/anggota

Pengunjung

Site ini telah dikunjungi
13608695 kali
sejak August 2006

Donation & Report

AIDsina Production: for Healthly Community
Bangun Informasi AIDS untuk Semua Bersama Kami!
Bangun Informasi AIDS untuk Semua Bersama Kami!

Dukungan

Republik Indonesia

Departemen Kesehatan RI

AIDS Data Hub

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional

Ikatan Dokter Indonesia

Power by
PHP Nuke

HIV/AIDS

Cari pada Topik Ini:   
[ Kembali ke Halaman Depan | Pilih Topik Baru ]
Kliping: Sepuluh Persen Penduduk Ciamis Diduga Idap HIV
Topik: HIV/AIDS
TRIBUNNEWS.COM, 23 Mei 2013

CIAMIS - Sejak klinik Galuh Medika di RSU Ciamis dibuka, hanya ada 10 pasien terduga HIV yang berobat ke klinik khusus untuk pasien penderita HIV/AIDS tersebut. Dari 10 pasien yang pernah dan sedang ditangani di klinik Galuh Medika, 8 orang positip mengidap HIV.

"Dari 8 pasien yang positip mengidap HIV tersebut, lima orang masih rutin berobat di Galuh Medika dan dua orang dirujuk ke RSHS. Sementara seorang lagi drop out dengan alasan domisilinya jauh dari RSU Ciamis," ujar salah seorang konselor HIV/AIDS yang juga pengelola klinik Galuh Medika, dr Ramdhan Fasya, Selasa (21/5/2013).

Ditemui seusai pertemuan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Ciamis di Sekretariat PPNI Ciamis, Ramdhan mengatakan kedelapan penderita HIV yang ditangani klinik Galuh Medika, awalnya merupakan pasien yang menjalani rawat inap di ruang perawatan RSU Ciamis yang kemudian diketahui sebagai pasien pengidap HIV.

"Mereka yang ditangani klinik Galuh Medika hampir semuanya terjaring dari pasien rawat inap. Nyaris tidak ada yang datang berobat atau konsultasi dengan kesadaran sendiri," ujarnya.

Warga yang merasa sudah sudah terpapar HIV, kata Ramdhan, dapat menggunakan layanan kesehatan klinik Galuh Medika RSU Ciamis ini. Ramdhan mengatakan identitas pasien yang berobat di klinik Galuh Medika akan dirahasiakan. Penanganan pasien penderita HIV/AIDS di Klinik Galuh Medika RSU Ciamis, kata Ramdhan, tidak terbuka seperti poliklinik yang umum.

Di klinik Galuh Medika, ujar Ramdhan, penderita HIV tidak hanya mendapatkan obat gratis tetapi juga layanan CST (care support and treatment).

Menurut aktivis LSM Wisma yang peduli HIV/AIDS, sejak 2007 hingga 2013, pihaknya sudah mendampingi 43 pengidap HIV di Ciamis untuk mendapatkan pengobatan dan layanan kesehatan yang layak.

"Dua belas orang di antaranya sudah meninggal dunia. Dan 12 lainnya sampai sekarang masih rutin didampingi untuk berobat, yakni 5 orang berobat di RSU Ciamis dan lebihnya di luar Ciamis. Mereka dapat obat gratis dan hanya bayar retribusi saja," ujar seorang aktivis LSM Wisma, Yogi.

Dua belas penderita HIV yang didampingi LSM Wisma, menurut Yogi, di antaranya 5 orang perempuan. Para penderita HIV ini, kata Yogi, berasal dari kalangan rumah tangga, PSK, waria, dan adanya juga LSL (lelaki penyuka laki-laki).

Kasi Pengendalian Pemberantasan Penyakin dan Penanggulangan Bencana (P4B) Dinkes Ciamis, H Osep Hernandi SMK MKes, mengatakan di Ciamis sejak 1999-2010, terdata pengidap HIV (34 orang) dan AIDS (36 orang). Sedangkan pada 2013, ujar Osep, di Ciamias tercata 9 orang penderita HIV dan 1 penderita AIDS.

Dikirim oleh toto pada (3 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Dituduh Korupsi, KPA Kediri Boikot Jual Kondom
Topik: HIV/AIDS
TEMPO.CO, 22 Mei 2013

Kediri - Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Kediri memboikot pembagian kondom kepada masyarakat. Langkah ini ditempuh sebagai bentuk protes terhadap Kepolisian Resor Kediri yang menyelidiki dugaan korupsi dalam program kondom gratis oleh outlet kondom binaan KPA.

Sekretaris KPA Kabupaten Kediri Bambang Wahyu mengatakan seluruh outlet yang menjual kondom di Kediri mulai hari ini sepakat menghentikan penjualan kondom. Outlet-outlet ini tersebar di seluruh lokalisasi, kafe, hotel, tempat karaoke, dan sejumlah lokasi rawan penularan penyakit seksual yang melayani pria hidung belang. "Daripada dituduh korupsi, lebih baik tidak jualan," kata Bambang, Rabu 22 Mei 2013.

Para penjual kondom ini, menurut Bambang mengaku resah setelah mendengar kegiatan mereka diperiksa polisi. Polisi menduga pemilik outlet yang bernaung di bawah koordinasi KPA Kediri melakukan penjualan kondom yang seharusnya dibagikan gratis kepada masyarakat.

Sejak tahun 2011, Kabupaten Kediri menjadi salah satu dari 10 daerah yang menerima distribusi kondom cuma-cuma dari KPA Nasional untuk dibagikan kepada masyarakat beresiko tinggi. Ini karena jumlah penderita HIV/AIDS di kabupaten ini telah mencapai 471 orang per tahun 2013.

Untuk menekan angka itu, KPA Kediri mendapat program mendirikan outlet penyedia kondom di daerah rawan. Sesuai peruntukannya, kondom itu memang tidak dijual alias diberikan gratis kepada pria hidung belang.

Namun dalam pelaksanaannya, pemilik outlet menjual kondom itu sebesar Rp 300-500 per biji. Bambang berdalih uang itu untuk pengganti biaya distribusi kondom dari kantor KPA ke outlet. Harga itu jauh lebih murah dibanding harga kondum pabrikan yang mencapai Rp 5.000 per buah. "Selain itu kalau dibagi gratis masyarakat akan meragukan kualitas kondom," kata Bambang.

Praktik tersebut menurut dia masih diperbolehkan dan diatur dalam Pedoman Pelaksanaan Proyek yang ditetapkan KPA Nasional. Dalam salah satu klausul pemilik outlet diperbolehkan menarik biaya untuk distribusinya. Sebab pemerintah tidak menyediakan budget apapun untuk program ini.

Polisi yang menangkap adanya dugaan praktik penjualan di atas ketentuan berancang-ancang melakukan penyidikan. Apalagi beberapa outlet diketahui menjual kondom hingga Rp 1.000 per buah. "Kami masih mempelajarinya," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kediri Ajun Komisaris Edy Herwianto.

Dikirim oleh toto pada (3 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Polisi Usut Dugaan Kasus Korupsi Kondom di Kediri
Topik: HIV/AIDS
TRIBUNNEWS.COM, 22 Mei 2013

KEDIRI - Polres Kediri, Jawa Timur mengusut penyimpangan kasus dugaan peredaran kondom di lokalisasi.

Karena kondom gratis itu diperjualbelikan kepada konsumen lokalisasi.

Namun pengusutan itu mendapat reaksi dari para pegiat pokja lokalisasi. Dua pokja yang telah diperiksa dari lokalisasi Gedangsewu dan Bolodewo.

"Saya sudah dipanggil sekali untuk dimintai keterangan serta dimintai buku catatan penjualan kondom," ungkap Sholeh, dari Pokja Bolodewo kepada Surya Online (Tribunnews.com Network), Rabu (22/5/2013).

Dijelaskan Sholeh, penyidik Polres Kediri sudah dua minggu ini menangani kasus tersebut. Menyusul penyidikan itu membuat resah para pengurus pokja yang lain.

Para pengurus pokja lokalisasi kemudian menggelar pertemuan bersama dengan KPA Kabupaten Kediri membahas masalah tersebut.

Kondom gratis tersebut memang didistribusikan KPA Kabupaten Kediri ke lokalisasi untuk mencegah berkembangkan penyakit infeksi menular seksual (IMS) serta virus HIV/Aids.

Dikirim oleh toto pada (3 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Aktivis HIV/AIDS Kediri Mogok Bagikan Kondom
Topik: HIV/AIDS
KOMPAS.com, 22 Mei 2013

KEDIRI - Para aktivis sosial yang bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Kediri, Jawa Timur mogok membagikan kondom bantuan pada seluruh eks lokalisasi maupun outlet-outlet di tempat berrisiko tinggi penularan HIV/ADIS, Rabu (22/5/2013).

Selain mogok membagikan kondom, para relawan yang tergabung dalam kelompok kerja (Pokja) di bawah naungan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) itu juga beramai-ramai mengembalikan sisa jatah alat kontrasepsi yang diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan kepada KPAD setempat.

Sanusi, perwakilan relawan mengatakan, aksi itu sebagai bentuk protes terhadap langkah kepolisian Kabupaten Kediri yang tengah menyelidiki dugaan pelanggaran aturan atas biaya distribusi kondom bantuan kepada masyarakat.

"Kepolisian mempermasalahkan biaya Rp 1.000 yang dibebankan pada tiap kondom," kata Sanusi.

Padahal, kata Sanusi, biaya itu tidak menjadi masalah karena sudah sesuai kesepakatan masing-masing outlet maupun pihak KPAD. Kesepakatan itu menurutnya juga dibuat berdasarkan ketentuan yang dikeluarkan oleh KPA Nasional tentang penentuan harga yang disesuaikan dengan kemampuan daerah.

Ia menambahkan, dalam ketentuan itu tertera biaya per kondom Rp 500 atau disesuaikan dengan kondisi di masing-masing daerah. Kelebihan biaya itu, menurutnya, juga diperuntukkan sebagai dana operasional outlet mengingat tidak adanya budget khusus untuk pembiayaan outlet itu.

"Dari sini seharusnya tidak ada masalah," katanya.

Tindakan kepolisian yang mengusut masalah biaya kondom sejak Maret lalu itu, menurut Sanusi, membuat para relawan, terutama pengelola outlet-outlet yang dititipi kondom resah karena diperiksa polisi. Sehingga mereka sepakat untuk melakukan pemogokan ini.

"Mereka yang minoritas itu telah bekerja secara sukarela, kini menjadi khawatir dan takut karena berurusan dengan kepolisian. Dari semua daerah di Indonesia, hanya kepolisian Kediri yang seperti ini," kata Sanusi.

Sanusi menyayangkan sikap kepolisian Kediri. Apalagi, kata Sanusi, selama ini kepolisian juga sama-sama menjadi anggota tim penanggulangan penyakit HIV/AIDS sejak tahun 2007 silam.

"Kalau ini salah, kepolisian juga harus ikut tanggung jawab," tandasnya.

Dikirim oleh toto pada (4 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Mengenal SS dan Ajak Sosialisasi Tentang HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Suarasurabaya.net, 22 Mei 2013

Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Yayasan Kemasyarakatan yang ada di Kota Surabaya, Rabu (22/5/2013) melakukan kunjungan di Suara Surabaya Media (SS Media).

Ada 3 perwakilan yayasan yang datang, untuk mengenal SS Media lebih jauh. "Rencana ada 5 yayasan yang datang, tapi akhirnya hanya 3 yayasan yang bisa bergabung untuk datang dan mengenal SS lebih jauh, " kata Amir koordinator sekaligus Media Official kunjungan media ke SS Media.

Yayasan yang datang antara lain yayasan Orbit (LSM yang menangani pencandu narkoba dan korban HIV/AIDS), yayasan Perwakos (Persatuan Waria Kota Surabaya), yayasan Genta Surabaya (yayasan yang melakukan pendampingan lokalisasi ).

Kunjungan kali ini dimaksudkan untuk mengenal SS Media lebih dalam, dan untuk sharing sekaligus kerjasama dalam sosialisasi seputar permasalahan HIV/Aids di Surabaya.

"Ingin sharing dengan teman-teman media sekaligus ingin sosialisasi, karena selama ini populasi kunci seperti PSK, pecandu narkoba, waria, jumlah mereka stagnan bisa diatasi, justru angka pengidap HIV aids di luar itu terus meningkat, tertinggi didominasi ibu rumah tangga," jelas Amir kepada suarasurabaya.net.

Kunjungan dari beberapa yayasan di Surabaya disambut hangat oleh Eddy Prastyo Manager New Media. "Suatu kehormatan teman-teman datang ke sini, menyempatkan waktu untuk mengenal lebih jauh SS Media," kata dia

Eddy menambahkan, hubungan seperti ini harus selalu dipupuk, agar hubungan simbiosis mutualisme terjalin dengan baik.

Tiga yayasan itu juga mendapat kesempatan untuk masuk ke ruang kerja New Media, bahkan mendapatkan kesempatan untuk merasakan on air di ruang Gate Keeper Radio Suara Surabaya.

Dikirim oleh toto pada (4 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Minim Tenaga, Dokter di Lapas Cirebon Kewalahan
Topik: HIV/AIDS
Liputan6.com, 22 Mei 2013

Kelebihan kapasitas penjara membuat dokter yang bertugas di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Narkotika (Lapasustik) di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat merasa kewalahan. Apalagi penyakit yang mendominasi napi (narapidana) adalah HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TB).

"Persoalan HIV/AIDS menjadi fokus penanganan di Lapasustik. Maklum, sebagian besar pemakai narkoba, khususnya yang menggunakan jarum suntik rentan terpapar narkoba," ujar salah seorang tenaga medis yang bertugas di lapas, dr. Pepen Zaelan saat ditemui Liputan6.com di kantornya, seperti ditulis Rabu (22/5/2013).

Menurutnya saat ini lapas sangat kewalahan menangani pasien karena kapasitas sudah melampaui batas. Yang seharusnya diisi 460 napi, diisi 920 napi. "Sedangkan dokter cuma ada 2 orang, Perawat 3, dan dokter gigi 1 orang. Ini memengaruhi pelayanan. Apalagi TB dan HIV/AIDS. Semua ditangani di satu poliklinik kecil. Kita kewalahan. Disini setidaknya butuh 3 orang dokter umum, 2 dokter gigi, dan beberapa perawat," jelasnya.

Hingga saat ini, menurut Zaenal, ada 36 kasus HIV positif, 3 kasus AIDS, dan 8 pasien Tuberkulosis (TB) ditemukan di lapas.

Dikirim oleh toto pada (4 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Penghuni LP Narkoba Cirebon Rutin Cek Kesehatan
Topik: HIV/AIDS
TRIBUNNEWS.COM, 22 Mei 2013

CIREBON - Dari 927 orang penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Narkotika Cirebon, sebanyak 38 orang d iantaranya mengidap HIV/ AIDS, tiga diantaranya AIDS.

"Sudah dilakukan theraphi kepada 11 orang dan untuk mengetahui atau memastikan penderita kita selalu melakukan skrining massal," tutur Kepala LP Narkotika Cirebon Anas kepada rombongan press tour Kementerian Kesehatan, Selasa (21/5/2013).

Sesuai dengan aturan baku, setiap ada orang baru yang masuk ke LP menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kondisinya apakah berstatus HIV AIDS atau Tuberkolosis (TB).

Untuk masalah ini, LP telah mengandeng LSM yang peduli terhadap ODHA yang selalu datang untuk melakukan pemeriksaan ataupun melakukan penyuluhan.

"Meski poliklinik sederhana tetap kami melakukan upaya preventif dengan adakan penyuluhan, morning meeting tiap blok. Kita ingin tahu masalah. Penyuluhan kehiatan sebaya seminggu 2 kali. Kita juga membentuk pendamping minum obat untuk TB," katanya.

Dikirim oleh toto pada (9 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: PBB: Kematian akibat AIDS Menurun, Pengobatan Meningkat di Afrika
Topik: HIV/AIDS
Kompas, 22 Mei 2013

Laporan terbaru PBB mengatakan kematian akibat AIDS di Afrika menurun, sementara jumlah orang Afrika yang mendapat pengobatan untuk HIV – virus penyebab AIDS – terus meningkat.

Laporan oleh Program Gabungan PBB Untuk HIV/AIDS mengatakan jumlah orang di Afrika yang mendapat obat-obat anti-retroviral naik dari hampir satu juta tahun 2005 menjadi lebih dari tujuh juta orang tahun lalu.

Mereka mengatakan kematian akibat AIDS turun hampir sepertiga dalam periode tersebut, dan jumlah pengidap HIV baru juga menurun.

Banyak negara di Afrika telah mengambil berbagai langkah dalam satu dekade ini guna memastikan para pengidap HIV mendapat akses ke pengobatan.

Laporan itu, yang dirilis Selasa, mengatakan Afrika masih mengalami wabah HIV paling parah dibanding kawasan-kawasan lain di dunia. Dikatakan, hampir 70 persen pengidap HIV di dunia tinggal di benua itu.

Dikirim oleh toto pada (7 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Penderita HIV/AIDS di Magelang Capai 49 Orang
Topik: HIV/AIDS
Suaramerdeka.com, 21 Mei 2013

MAGELANG - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Magelang saat ini mencapai 49 orang. "Itu yang tercatat nama maupun alamatnya. Sesuai aturan kami tidak boleh menyebutkan identitasnya termasuk jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Magelang, Drs Surasmono MM, Selasa (21/5).

Namun berdasar asumsi dari Komisi Penanggulangan AIDS Pusat, jumlah penderita di kota ini mencapai 200 orang. "Mereka punya hitungan sendiri, bagaimana cara menghitungnya kami tidak tahu. Yang jelas informasi ini merupakan peringatan dan harus diantisipasi," tutur mantan Sekda Kota Magelang tersebut.

Dia mengaku tidak tahu strata sosial penderita maupun apakah setiap tahun jumlah penderita meningkat atau tidak. "Yang jelas penularannya disebabkan karena hubungan seks bebas berganti-ganti pasangan, transfusi darah, jarum suntik yang digunakan bergantian oleh pecandu narkoba dan air susu ibu," ujarnya.

Selain itu, suami yang menderita HIV/AIDS kemudian hubungan intim dengan istrinya dan mengandung, maka anak dalam kandungan juga tertular. "Yang mengerikan seperti itu. Cabang bayi yang tidak berdosa terkena HIV/AIDS karena perbuatan ayahnya. Juga ibu terkena kemudian memberi air susu ibu maka bayinya akan tertular," ungkapnya.

Untuk mengobati para penderita, lanjut Surasmono, pihaknya mengantar penderita berobat ke RSUD Temanggung, RS Dr Sardjito Yogyakarta dan RS di Ambarawa.

"Rumah sakit di Kota Magelang belum ada pengobatan HIV/AIDS. Kami sedang mengusulkan ke Pemprov Jateng dan pemerintah pusat supaya RSU Tidar dan RS Tentara dr Sudjono dilengkapi fasilitas pengobatan penyakit tersebut," terangnya sambil berharap usulan itu secepatnya bisa direalisasi, sehingga penderita tidak perlu berobat ke luar kota.

Dia menambahkan, HIV adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh. Penderita rutin diberi obat supaya tidak berkembang menjadi AIDS. Namun penyakit itu tidak bisa disembuhkan.

"Orang yang punya risiko tinggi terkena HIV, antara lain mereka yang sering ganti pasangan dan pecandu narkoba, sebaiknya periksa. Pemeriksaan bisa di RSU Tidar, Puskesmas Magelang Selatan maupun Balai Pengobatan Paru-Paru di Magelang. Rahasia dijamin oleh instansi yang memeriksanya," tegasnya.

Dikirim oleh toto pada (7 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Pulang dari Malaysia, N Malah Tertular HIV dari Suami
Topik: HIV/AIDS
Liputan6.com, 21 Mei 2013

Indramayu
: Wanita N (33) tidak pernah menyangka kalau dirinya bisa terinfeksi HIV akibat ulah suaminya. N yang bekerja sebagai buruh cuci hanya bisa menerima takdirnya.

Tahun 2009, N pulang ke Indonesia dengan alasan ingin istirahat dan membantu keluarga, setelah sebelumnya menjadi tenaga kerja di Malaysia. Tapi, kepulangannya itu justru membuatnya terinfeksi HIV/ AIDS.

"Saya sungguh tidak pernah menyangka bisa seperti ini. Saya pergi jadi TKW di Malaysia sejak 2006-2009. Saya sengaja pulang untuk istirahat sekitar 6 bulan," jelas N saat ditemui Liputan6.com bersama penggiat HIV/ AIDS di Kantor Bupati Indramayu, Jawa Barat, Selasa (21/5/2013).

Menurut N, tahun 2009, suaminya terkena TB (tuberkulosis). Tapi setelah 3 bulan tidak ada perubahan dan berobat ke ke rumah sakit, suami divonis mengidap HIV AIDS stadium 4," jelasnya.

Mengetahui dirinya tertular, N sempat putus asa dan marah pada suami. Penyakitnya membuat N tidak bisa lagi berangkat ke Malaysia. Tentu saja kondisinya membuat N tidak bisa lagi mencari nafkah. Padahal N memiliki anak kembar.

"Sampai akhirnya, saya terkena HIV positif. Saya merasa kesulitan. Dulu obat-obatan bisa didapatkan secara gratis, tapi sekarang saya harus bayar mahal. Selain itu, tidak semua rumah sakit di Indramayu memiliki fasilitas untuk ODHA (orang dengan HIV/AIDS)," katanya.

Tekanan lingkungan membuat N merasa tidak percaya diri dan tidak nyaman lagi untuk bekerja."Paling-paling terima jasa menyetrika dan menjahit baju," ujar N.

Dikirim oleh toto pada (8 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Ibu-ibu dengan HIV di Indramayu Merasa Diperlakukan Diskriminatif
Topik: HIV/AIDS
Detik, 21 Mei 2013

Indramayu, Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, ibu-ibu yang terinfeksi HIV (Human Imunnodeficiency Virus) di Indramayu, Jawa Barat harus menanggung beban ganda. Selain harus menjalani pengobatan seumur hidup, juga masih harus menghadapi stigma negatif.

"Kami merasa masih mendapat diskriminasi, masih mendapatkan stigma. Salah satunya susah dapat pekerjaan," kata Wd (25 tahun), ibu rumah tangga asli Indramayu yang mengidap HIV dalam temu media dalam rangka Press Tour Kementerian Kesehatan di Kantor Bupati Indramayu, dan ditulis pada Selasa (21/5/2013).

Wd yang tengah hamil ini merasa orang-orang di lingkungannya menganggap perempuan yang bisa mengidap HIV hanya pekerja seks. Dengan stigma seperti ini, urusan mencari kerja menjadi lebih sulit. Belum lagi untuk menjalani pengobatan secara teratur, ia jadi harus sering bolos kerja.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Nv (33 tahun), ibu rumah tangga yang didiagnosis HIV positif sejak 2010. Ibu dari 2 anak kembar ini mengaku bukan pekerja seks, hanya ibu rumah tangga yang merantau sebagai tenaga kerja Indonesia demi menghidupi suami dan keluarganya.

Ia mengetahui dirinya terinfeksi HIV setelah pulang ke Tanah Air pada 2009, lalu suaminya sakit pada tahun berikutnya. Sang suami didagnosis TB (Tuberculosis), tetapi tidak sembuh dengan pengobatan biasa. Akhirnya ketahuan, suaminya positif HIV dan Nv sendiri telah tertular.

Sama seperti Wd, status sebagai ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) menyulitkannya untuk mencari kerja. Saat ini ia cuma bisa bekerja sebagai tukang setrika dengan upah Rp 20 ribu/hari yang tentunya sangat tidak mencukupi untuk menghidupi keluarga mengingat suaminya sudah tidak produktif karena sakit.

"Sekarang saya susah cari kerja, cuma bisa bantu-bantu setrika. Sehari cuma dapat Rp 20 ribu sementara saya harus jadi tulang punggung keluarga karena suami sudah tidak sempurna," kata Nv.

Adanya perlakuan diskriminatif terhadap ODHA diakui juga oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Dr Dedi Rohendi, MARS. Menurutnya, terbatasnya pengetahuan masyarakat sering memunculkan stigma negatif dan perlakuan diskriminatif yang merugikan ODHA.

"Pernah di suatu sekolah, ada seorang guru perempuan mengalami masalah serupa. Suaminya HIV positif, dia (si guru perempuan) sampai disuruh keluar dari tempat kerjanya. Tapi yang ini sudah diselesaikan," kata Dr Dedi.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu memang menunjukkan, kasus HIV-AIDS paling banyak diderita kalangan pekerja seks yakni 460 kasus. Meski demikian, kasus pada ibu rumah tangga tidak kalah banyak yakni 120 kasus atau menempati peringkat ketiga setelah wiraswasta yakni 141 kasus.

Bagaimanapun, ODHA berhak menjalani hidupnya dengan layak. Dengan pengobatan teratur, pengidap HIV juga bisa produktif seperti manusia lainnya. Pandangan bahwa HIV cuma ditularkan melalui perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkoba juga perlu dikikis, sebab kenyataannya banyak ibu rumah tangga yang jadi korban.

Dikirim oleh toto pada (7 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Jumlah Kasus HIV AIDS di Indramayu Tinggi
Topik: HIV/AIDS
REPUBLIKA.CO.ID, 21 Mei 2013

INDRAMAYU -- Jumlah kasus human immunodeficiency virus (HIV)/acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, tinggi. Kasus terbanyak disebabkan oleh perilaku heteroseksual.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indramayu, Dedi Rohendi, menyebutkan, berdasarkan data kumulatif sejak 1993 hingga Maret 2013, jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Indramayu mencapai 957 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 127 penderitanya telah meninggal dunia. Dengan demikian, hingga kini tercatat ada 830 kasus HIV/AIDS.

''Angka ini tinggi,'' ujar Dedi, saat menerima kunjungan lapangan tematik media massa di lingkungan Kemenkes, di Pendopo Bupati Indramayu, Senin (20/5).

Dedi menjelaskan, berdasarkan faktor risikonya, kasus HIV/AIDS terjadi akibat perilaku heteroseksual yang mencapai 825 kasus. Sedangkan sisanya, berupa faktor perinatal (55 kasus), biseksual (33 kasus), tidak diketahui (19 kasus), homoseksual (16 kasus), tatto (enam kasus), dan IDU atau injeksi (tiga kasus).

Dikirim oleh toto pada (7 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: 69 Persen Penderita HIVAIDS di Indramayu Didominasi Perempuan
Topik: HIV/AIDS
Liputan6.com, 20 Mei 2013

Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Indramayu terus melonjak. Data dari tahun 1993 sampai Desember 2012 mencatat setidaknya ada 956 ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Dengan jumlah 126 orang meninggal.

Begitu disampaikan Bupati Indramayu Ana Sopanah dalam Temu Media dalam menjelaskan Epidemi kasus HIV AIDS di kantor bupati Indramayu, Senin (20/5/2013).

"Peningkatan ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti transmisi seksual yang mencapai 93 persen dan lainnya 7 persen," jelas Ana.

Yang mengejutkan, dari seluruh ODHA, perempuan yang paling banyak terinfeksi HIV/ AIDS yaitu mencapai 69 persen. "Laki-laki hanya sekitar 31 persen".

Dikirim oleh toto pada (7 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Mayoritas Penderita AIDS Merupakan Usia Produktif
Topik: HIV/AIDS
PRLM, 20 Mei 2013

PANGANDARAN - Di tahun 2013 hingga kini tercatat sebanyak 36 orang terjangkit virus HIV, dan 29 orang menderita AIDS di Kabupaten Ciamis. Mayoritas dari mereka adalah kategori usia produktif.

Pengelola Program Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Ciamis Pendi Saputra menjelaskan, penularannya saat ini bukan dari jarum suntik. Tetapi dari berhubungan seksual. “Dari 36 kasus di Kabupaten Ciamis secara keseluruhan paling banyak berasal dari wilayah Kabupaten Pangandaran,” ujarnya, Senin (20/5/2013).

Pendi menjelaskan, dari data yang ada sejak tahun 2011 memang terjadi perpindahan tren. Dari yang sebelumnya banyak yang terjangkit akibat jarum suntik, kini berubah. “Sekarang yang banyak jarum suntik itu di Ciamis. Kalau di Pangandaran, mereka adalah ibu rumah tangga. Mereka tertular karena suaminya yang positif terjangkit,” ucapnya.

Dengan jumlah yang masih terbilang tinggi itu, Pendi berupaya untuk terus melakukan kampanye dan memberikan penjelasan serta pemahaman kepada masyarakat, khususnya mereka yang bekerja atau berprofesi sebagai Wanita Penjaja Seks (WPS).

Dikirim oleh toto pada (8 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Asuransi Wajib Cover Perawatan dan Pengobatan AIDS
Topik: HIV/AIDS
Tidak jarang penolakan klaim asuransi berujung pada terbukanya status HIV seseorang kepada perusahaannya hingga terjadi pemecatan.

Jaringnews.com, 20 Mei 2013

JAKARTA
- Hadirnya kebijakan baru Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 21 tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS, telah membawa angin segar baru pemenuhan hak asasi bagi Orang dengan HIV (ODHA) untuk mendapatkan jaminan pembiayaan asuransi swasta. Pasal 47 ayat 1 kebijakan baru ini telah mewajibkan setiap penyelanggara asuransi kesehatan untuk menanggung sebagian atau seluruh biaya pengobatan dan perawatan tertanggung yang terinfeksi HIV sesuai dengan besarnya premi. Dalam ayat 2 pertanggungan itu wajib dicantumkan di dalam informasi pada polis.

"Kebijakan baru ini perlu segera disosialisasikan kepada kementrian keuangan dan perusahaan asuransi kesehatan swasta. Tidak ada alasan lagi mereka menolak klaim perawatan bagi ODHA yang menjadi peserta asuransi" ucap Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif dari Indonesia AIDS Coalition, sebuah LSM berbasis komunitas ODHA yang bekerja untuk promosi Good Governance dalam program AIDS.

Selama ini, klaim kesehatan ODHA selalu ditolak oleh asuransi swasta dan penolakan ini kerapkali terjadi bahkan ketika ODHA tersebut telah mengikuti asuransi swasta tersebut jauh sebelumnya. Tidak jarang penolakan klaim asuransi ini berujung pada terbukanya status HIV seseorang kepada perusahaannya hingga terjadi pemecatan.

Dengan jumlah ODHA mencapai 32 ribu, beban pembiayaan perawatan dan pengobatan ODHA harus dipecah untuk ditanggung pemerintah serta sektor privat. AIDS adalah masalah kita bersama dan sudah sepantasnya sektor asuransi swasta juga mengambil bagian dalam upaya menahan laju infeksi HIV.

Aksi nyata Kemenkes kali ini menunjukkan komitment riil pemerintah dalam upaya memutus ketergantungan pendanaan program penanggulangan AIDS dari donor kepada pemerintah kita sepenuhnya.

"Besar pembiayaan yang harus ditanggung oleh asuransi swasta sebenarnya tidak akan terlalu besar karena ARV sudah ditanggung penuh oleh pemerintah. ARV juga telah terbukti sangat efektif sehingga ODHA yang sudah ARV relatif tidak membutuhkan perawatan khusus berbiaya besar seperti yang selama ini ditakutkan perusahaan asuransi swasta", Aditya menambahkan.

Dikirim oleh toto pada (6 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Belasan Orang di Ciamis Terjangkit HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
TRIBUNNEWS.COM, 20 Mei 2013

CIAMIS - Angka pria penyuka pria (gay/homo) di Ciamis cukup tinggi, yaitu sebanyak 1.500 orang yang tersebar di 36 kecamatan di Ciamis. Data menyejutkan itu diperoleh Dinas Kesehatan Ciamis dari para volunturir HIV/AIDS yang bekerja di wilayah Ciamis.

"Data tersebut kami peroleh setelah kami melakukan komunikasi intensif dengan kelompok lelaki suka lelaki (LSL) selama 4 bulan terakhir," ujar H Osep Hernandi SKM MKes, volunturir HIV/AIDS dari Dinkes Ciamis yang juga pengurus Komisi Peduli AIDS (KPA) Ciamis kepada Tribun, Minggu (19/5/2013).

Dari pertemuan terakhir pada hari Rabu (15/5) yang dihadiri sekitar 40 orang perwakilan dari LSM peduli HIV/AIDS, KPA, Dinkes, dan perwakilan sejumlah komunitas LSL, menurut Osep, diperoleh fakta bahwa di Ciamis berkembang gaya hidup pria suka pria. "Sebagian besar dari kelompok umur remaja antara 14 tahun hingga 25 tahun," ujar Osep.

Dinkes Ciamis dan KPA, kata Osep, perlu melakukan komunikasi dengan kelompok LSL. Pasalnya menurut Osep, dari 11 penderita HIV yang ditemukan selama Januari hingga Mei tahun 2013, ditemukan penderita HIV dari kelompok LSL.

Osep mengatakan selama ini kelompok pria penyuka pria ini, luput dari pendataan. "Selama ini pendataan atau pelacakan penderita HIV/AIDS cenderung dilakukan kepada PSK, penghuni lembaga pemasyarakatan dan panti rehabilitasi. Sementara kelompok LSL nyaris tidak tersentuh," ujar Osep.

Sepanjang Januari hingga April 2013, ujar Osep, terdata ada 10 penderita HIV/AIDS di Ciamis. Dari jumlah sebanyak itu, ujar Osep, 9 orang positif terjangkit HIV dan seorang penderita AIDS. Dan selama bulan Mei 2013, terdata dua orang penderita HIV.

Dikirim oleh toto pada (17 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Pangandaran Dirikan Posko Kesehatan Antisipasi Penyebaran Virus HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
PRLM, 19 Mei 2013

PANGANDARAN - Guna mengantisipasi dan mendeteksi dini adanya penyebaran atau yang terjangkit virus HIV Aids, kini didirikan posko kesehatan. Nantinya, posko tersebut akan melayani pemeriksaan masyarakat umum, dan mereka yang bekerja atau berprofesi sebagai Wanita Penjaja Seks (WPS).

Posko tersebut didirikan di Dusun Padasuka RT 1 RW 17, Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Posko tersebut merupakan yang pertama di Kabupaten Ciamis juga Kabupaten Pangandaran.

“Alasan didirikan pos? Daerah ini beresiko. Maksudnya, daerah pariwisata beresiko adanya penyakit HIV Aids. Kita berharap di sini jangan sampai ada yang terjangkit penyakit itu,” ucap Kepala Seksi Penanggulangan Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana (P4B) Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, Osep Hernandi, Minggu (19/5/13).

Osep menjelasakan, pos tersebut dapat digunakan dan masyarakat umum dapat memeriksakan kesehatannya. Terlebih bagi mereka yang bekerja atau Wanita Penjaja Seks (WPS).

“Mereka yang bekerja atau berprofesi di sini dapat memeriksakan kesehatannya di pos ini. Ini daerah wisata, yang biasanya ada jasa WPS,” ucapnya.

Osep menegaskan, HIV dapat dicegah. Dan, berharap tidak ada yang menderita atau terjangkit oleh virus tersebut.

Menurut dia, kalaupun nantinya ada yang menderita dari hasil pemeriksaan, diharapkan jangan minder. Pasalnya, mereka akan dirangkul dan diobati.

“Ini posko kesehatan pelayanan konsultasi pertama di Kabupaten Ciamis, dan Kabupaten Pangandaran. Kita melakukan antisipasi. Ada tidaknya praktek seks, bukan kita menyatakan. Kita hanya mendekatkan pelayanan,” ujarnya.

Dikirim oleh toto pada (13 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Bayang-bayang HIV/AIDS di Antara Fatanah dan Perempuan Simpanannya
Topik: HIV/AIDS
The Globe Journal, 18 Mei 2013

Jakarta - Cerita wanita-wanita sekitar Ahmad Fathanah dan kehidupan seseorang yang gonta-ganti pasangan menjadi perhatian dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Ari Fahrial Syam.

Ia terpanggil untuk mengingatkan bahwa kehidupan seks bebas berisiko berbagai penyakit, terutama Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Berdasarkan pengalaman klinisnya sebagai dokter spesialis penyakit dalam, pasien HIV ada pada semua kalangan.

Penyakit ini bisa mengenai semua profesi. Ibu rumah tangga (IRT) yang tidak gonta-ganti pasangan pun menderita HIV, karena mungkin tertular dari suaminya yang suka “jajan” diluar.

Menurut Ari, dari sudut kesehatan, gonta-ganti pasangan berisiko terkena penyakit. Kelompok penyakit akibat gonta-ganti pasangan ini dimasukan sebagai sexually transmitted disease (STD).

Selain penyakit STD, para wanita yang gonta-ganti pasangan berisiko terkena kanker mulut rahim. Sedangkan untuk laki-laki, penyakit itu akan menambah risiko menderita kanker prostat di kemudian hari.

“Pasien HIV positif atau hepatitis B atau C sama dengan orang normal, yang tanpa infeksi virus tersebut. Yang membedakan, di dalam darah pasien mengandung virus tersebut, sedang yang lain tidak. Ketiga penyakit virus ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual,” paparnya.

Oleh karena secara fisik tidak dapat dibedakan siapa yang mengandung virus sangat berbahaya tersebut, seseorang berisiko mengalami penyakit infeksi yang berbahaya dan mematikan jika berhubungan seks dengan yang bukan istrinya. Apalagi, fase tanpa keluhan penderita infeksi virus ini dapat berlangsung 5-10 tahun hingga menampakkan gejala.

“Saya sering mendapatkan pasien mengalami HIV AIDS saat ini dan diduga tertular lima atau sepuluh tahun yang lalu. Pasalnya, mereka menyampaikan setelah menikah lima tahun belakangan ini mereka tidak pernah berhubungan seks dengan orang lain, kecuali istri atau suami sahnya,” ungkap dia.

Ari menjelaskan, penyakit HIV AIDS merupakan penyakit yang berbahaya dan mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh virus HIV, yang sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang established dan dapat digunakan secara luas.

Namun demikian, obat-obat anti retroviral (ARV) saat ini sudah mampu menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi lagi. Berdasarkan bukti klinik, pengobatan dengan ARV bisa menekan penyebaran virus sampai lebih dari 90%.

Di Indonesia, tambah dia, ARV saat ini masih gratis dan akses mendapatkannya mudah. Namun, angka penggunaan ARV di Indonesia masih rendah. Pasien-pasien HIV tidak mau mengonsumsi ARV dengan berbagai alasan, seperti ingin lebih cepat menghadap Yang Maha Kuasa.

Menurut Ari, gejala klinis akibat virus baru muncul pada penderita infeksi HIV yang sudah lanjut, jika daya tahan tubuhnya sudah menurun.

Berbagai infeksi oportunistik akan muncul, seperti sariawan karena jamur kandida, TBC paru, infeksi otak, diare kronik karena infeksi jamur atau parasit, dan timbul hitam-hitam di kulit.

Selain itu, pasien HIV yang sudah masuk tahap lanjut ini berat badannya turun. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan jumlah leukosit akan kurang dari 5.000 dengan limfosit kurang dari 1.000.

“Diare kronik, sariawan di mulut, dan berat badan turun merupakan gejala utama jika pasien sudah mengalami infeksi HIV lanjut dan masuk fase AIDS,” kata dia.

Ari mengatakan, cara pencegahan infeksi tersebut hanya dengan berhenti gonta-ganti pasangan dan menyetop gratifikasi seks.

Ia memperingatkan agar orang yang pernah melakukan hubungan seksual, terutama di luar nikah, untuk memeriksa status HIV.

Saran yang sama juga berlaku pada orang yang pernah menggunakan jarum suntik yang tidak steril, atau pernah menggunakan narkoba jarum suntik.

Dikirim oleh toto pada (14 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Ratusan Ribu Remaja Negeri Mengidap HIV
Topik: HIV/AIDS
Berita8.com, 18 Mei 2013

Lebih dari 180.000 remaja di Nigeria hidup dengan HIV, demikian disampaikan UNICEF di Markas PBB, New York.

Jumlah tersebut disiarkan selama dialog nasional mengenai remaja yang hidup dengan HIV di Nigeria, guna meringankan penderitaan pasien muda.

Dialog itu diselenggarakan oleh Positive Action for Treatment Access (PATA) melalui kerja sama dengan UNICEF dan Lembaga Nasional bagi Pemantauan AIDS (NACA), organisasi swadaya masyarakat yang bekerja untuk menjamin setiap orang memiliki akses ke layanan kesehatan yang layak.

Meskipun Nigeria telah melakukan banyak langkah pencegahan buat generasi muda, masih banyak pekerjaan perlu dilakukan guna menanggulangi kebutuhan remaja yang hidup dengan HIV, demikian laporan Xinhua.

Dikirim oleh toto pada (14 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: ITD Unair kembangkan terapi racun lebah pembunuh virus HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
LENSAINDONESIA.COM: 17 Mei 2013

Pusat Studi Perlebahan di Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga sedang melakukan penelitian Bioproduct dari obatan-obatan herbal. Salah satunya memanfaatkan terapi racun lebah sebagai pembunuh virus infeksi HIV/AIDS.

“Sejauh ini di dunia hanya ada satu rumah sakit yang menyediakan Bee Therapy, yakni di Jepang. Untuk di Indonesia, para peneliti mencoba mengembangkan pengobatan secara medis dari hasil lebah dan sengatan lebah itu sendiri,” ujar Prof. Dr. Hendro Wardoyo, pengembang terapi sengat lebah. Baca juga: Menristek batal hadiri pameran hasil uji coba laboratorium ITD Unair dan Sudin Dikmen Jaktim intens sosialisasi bahaya seks.

Ada 13 macam manfaat yang dihasilkan lebah jenis ‘Apis Mellyfera’ yang dikembangkan ITD Unair. Diantaranya, madu, royal jelly, propolis, hingga yang paling terbaru, Bee Venom yakni pengobatan dengan sengatan lebah beracun.

Menurut penelitian Prof. Dr. Hendro, venom atau racun yang terkandung dalam sengatan lebah memiliki 120 komponen. 60 persennya sudah terdeteksi mampu mengurangi kesakitan hingga kematian.

Venom dalam sengatan lebah berfungsi menormalkan syaraf tubuh. Yang disebabkan pola makan dan pola hidup sehari-hari yang tidak normal. Kemudian, racun itu juga mampu membunuh kuman-kuman dalam tubuh. “Jika dikaitkan dengan infeksi virus, venom ini berfungsi menormalkan syarat-syarat dalam tubuh. Nantinya membentuk perbaikan syaraf-syaraf untuk mempertahankan kekebalan tubuh. Sehingga membentuk antibodi kesehatan,” jelasnya.

Berdasarkan penelitian sekaligus praktek terapi yang sudah dilakukan di Yogyakarta, sudah ada 4 pasien positif HIV/AIDS yang mengalami peningkatan kondisi setelah melakukan terapi.

“Ada 4 pasien sudah periksa dengan terapi sengatan racun lebah, juga rutin minum madu. Setelah 8 kali terapi dasar yaitu sengatan dititik-titik tertentu, pasien kami kondisi kesehatannya lebih membaik,” ujar Prof. Herdro saat ditemui di Pameran Press Tour dan Gathering di Kampus C Unair, kemarin.

Dikirim oleh toto pada (17 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Miliki Berbagai Penyakit Infeksi, Indonesia Seharusnya Unggul di Riset
Topik: HIV/AIDS
Berita Satu, 16 Mei 2013

Surabaya - Indonesia seharusnya bisa unggul di bidang riset karena didukung sejumlah potensi keuntungan seperti memiliki berbagai tanaman obat dan berbagai penyakit infeksi.

Ketua Lembaga Penyakit Tropis atau Tropical Disease Universitas Airlangga, Prof Nasronuddin mengatakan, dengan adanya beragam penyakit infeksi, Indonesia memiliki banyak mikroba, yang apabila dikendalikan membawa manfaat meningkatkan harkat, mensejahterakan masyarakat melalui produk-produk yang diolah dalam penelitian.

"Indonesia memiliki keuntungan memiliki berbagai penyakit. Negara-negara maju tidak memiliki berbagai penyakit infeksi," katanya saat menerima kunjungan wartawan ke Lembaga Penyakit Tropis di Surabaya, Kamis (16/5).

Lembaga Penyakit Tropis yang menjadi satu dari tiga pusat unggulan iptek di Indonesia ini ditetapkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi pada 2012, sebagai pusat unggulan iptek nasional di bidang kesehatan dan obat dengan tema riset biologi molekuler.

Nasronuddin menambahkan, lembaga riset medis Lembaga Penyakit Tropis memiliki 15 studi spesialis antara lain influenza, dengue, HIV/AIDS, hepatitis, malaria, stem cell, human genetics, naturak products, molecular oncology, bee health product development, proteomic, tuberculosis, leprosy, entomology dan intestinal infection.

Ia menjelaskan dalam penelitian lembaganya, sudah dihasilkan enzim untuk menggemukan sapi. Hal ini untuk menjawab tantangan Indonesia teerkait ketersediaan daging sapi, yang faktanya masih mengalami kekurangan daging.

Selain itu, lembaga penyakit sedang mengembangkan terapi stem cell untuk penderita ginjal sehingga tidak lagi memerlukan cuci darah seumur hidup seperti saat ini. Penderita nantinya hanya perlu disuntik peremajaan dengan terapi stem cell.

Di samping itu ada pula pengembangan obat anti virus hepatitis c, terapi sengat lebah dan penularan amoeba lewat air.

Sejak awal berdiri hingga saat ini Lembaga Penyakit Tropis memang bekerjasama dengan konsorsium nasional dan internasional seperti Jepang, Australia, Thailand dan Belanda.

"Meskipun bekerja sama dengan pihak luar, hak paten 100 persennya milik Indonesia dan hanya mentransfer teknologi dari luar," ucapnya.

Dikirim oleh toto pada (15 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Penyebaran HIV/AIDS di Kota Manado tertinggi di Sulut
Topik: HIV/AIDS
Merdeka, 14 Mei 2013

Kota Manado tertinggi penyebaran Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome HIV/AIDS) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dengan jumlah 485 kasus, hingga Februari 2013.

"Mobilitas penduduk di Kota Manado jauh lebih dinamis bila dibandingkan dengan pedesaan. Hal ini juga bisa memungkinkan terjadinya transaksi seksual yang berisiko terjadinya penularan," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Sulawesi Utara, dr Tangel Kairupan di Manado, Selasa (14/5).

Seperti diberitakan Antara, Kota Manado bila dibandingkan dengan kabupaten dan kota lainnya hiruk pikuknya jauh lebih tinggi, dan membuka peluang tumbuhnya tempat-tempat hiburan malam dan tempat rekreasi yang bisa menjadi awal penularan HIV.

"Karena itu KPA sekarang ini tidak hanya fokus pada sosialisasi. Tapi yang terpenting adalah bagaimana menjangkau populasi kunci seperti pekerja seks komersil, waria dan kelompok rentan lainnya. Kami targetkan pada 2015 sudah 80 persen populasi kunci yang terjangkau," kata dia.

Dari data yang ada, di Kota Manado ditemukan sebanyak 485 kasus, di mana 156 di antaranya adalah HIV dan sisanya 329 kasus adalah AIDS, sementara di Kota Bitung sebanyak 269 kasus, dimana 166 kasus adalah HIV dan sisanya 103 kasus adalah AIDS.

Kabupaten Minahasa menjadi terbanyak ketiga dengan 135 kasus, dimana 36 kasus dikategorikan HIV dan 99 kasus adalah AIDS, sementara terbanyak ke empat adalah Minahasa Selatan dengan 117 kasus dimana sebanyak 27 kasus adalah HIV dan sisanya 90 kasus AIDS.

Dikirim oleh toto pada (13 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Empat Bulan, Pengidap HIV Bertambah 15 Orang
Topik: HIV/AIDS
Kaltim Post, 14 Mei 2013

BALIKPAPAN - Jumlah pengidap HIV/AIDS di Balikpapan terus meningkat. Pada 21 Januari lalu jumlahnya 606 orang. Namun memasuki pekan kedua Mei, jumlahnya mencapai 621 orang atau bertambah 15 orang. Jumlah ini diprediksi bakal terus bertambah karena masih banyak pengidap HIV AIDS yang masih malu dan tidak melaporkan diri ke Dinas Kesehatan.

Sebelumnya, pada November 2012 jumlah pengidap penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini mencapai 575 orang atau meningkat sekitar 80 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 300 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Dyah Muryani, mengatakan, penyebaran HIV/AIDS paling banyak melalui hubungan seksual. “Langkah paling mudah dan murah untuk mencegah penyebaran itu adalah menggunakan kondom. Tapi nyatanya masih banyak yang tidak mau menggunakannya,” ujarnya, kemarin (13/5).

Ia menjelaskan, dari jumlah penderita tersebut didominasi laki-laki dewasa. Tetapi, ada juga 3 orang di antaranya yang masih balita, yang diakibatkan faktor keturunan. Meski demikian, dalam beberapa pekan terakhir tren menunjukkan pertambahan jumlah pengidap HIV didominasi oleh ibu rumah tangga.

Diketahui, jumlah tersebut merupakan akumulasi data sejak 2005 lalu. Tahun ini, setidaknya sudah ada 3 orang meninggal karena virus tersebut. Pengidap HIV/AIDS di Balikpapan, rentan usianya juga semakin muda. Dari 20 tahun hingga 40 tahun dengan jumlah 70 persen dari total penderita. Padahal, dahulu rentang usia pengidap sekitar 25 hingga 60 tahun.

Dikirim oleh toto pada (23 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Seluruh Perawat di Bogor Siap Sosialisasikan Bahaya HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Pos Kota, 14 Mei 2013

BOGOR – Komisi Penanggulangan HIV/Aids daerah Kota Bogor, terus melakukan sosialisasi dalam rangka meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan bahayanya penyakit ini.Sosialisasinya kali ini, KPAD bekerjasama dengan PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Kota Bogor.

Bertempat di aula Dinas Kesehatan Kota Bogor, ratusan perawat mendapat pembekalan dari asisten administrasi Kemasyarakatan dan Pembangunan, Azrin Syamsudin, yang juga Ketua harian KPAD Kota Bogor. Sementara narasumber utamanya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Rubaeah, dan Sekretaris KPAD Kota Bogor, Yeti Rochyati.

Ketua PPNI Kota Bogor, Yusniar Ritonga mengatakan, sosialisasi bahaya HIV/AIDS merupakan rangkaian dari acara peringatan Hari Perawat Sedunia yang jatuh Minggu (12/5).

“Perawat dari 12 rumah sakit dan klinik swasta yang ada di Kota Bogor, menjadi peserta. Sosialisasi ini untuk mengingatkan perawat, akan bahaya HIV/AIDS. Pasalnya perawat bersentuhan langsung dengan pasiennya,”kata Yusniar. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr Rubaeah mengatakan, semua puskesmas yang ada di Kota Bogor, siap memberikan pelayanan VCT (Voluntary Couseling and Testing) kepada masyarakat yang akan melakukan pemeriksaan HIV/AIDS. “VCT telah kita disiapkan di puskesmas dan sejumlah rumah sakit untuk membantu masyarakat mengenal apa itu HIV/AIDS. Rahasia masyarakat sangat dijamin,”ujarnya.

Walau fasilitas telah disediakan, ia mengakui, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke VCT masih rendah. Haktor kurang pemahaman tentang HIV/AIDS dan adanya stigma yang menyebabkan orang dengan HIV/AIDS di kucilkan dari kelompok, menjadi faktor apatisnya warga melakukan pemeriksaan.

dr Rubaeah menambahkan, berdasarkan laporan dari sejumlah Puskesmas kebanyakan para ibu hamil atau ibu rumah tangga masih menolak untuk di tes VCT. Padahal, sangat baik dan penting pemeriksaan VCT untuk pencegahan dini, melindungi ibu dan anak dari penyebaran penyakit berbahaya ini.

Dikirim oleh toto pada (19 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: 75 Persen Pengidap HIV Usia Remaja
Topik: HIV/AIDS
INILAH.COM, 13 Mei 2013

Tanjungpinang - Jumlah pengidap HIV/AIDS di Provinsi Kepri yang terdeteksi setiap tahun cenderung meningkat. Pada tahun 2011, dari data di 7 kabupaten/kota terdapat sebanyak 704 orang. Sedangkan pada tahun 2012 meningkat menjadi 852 orang, dan 75 persen penderitanya adalah remaja.

Sementara itu data pengidap AIDS dari tahun 2011 berjumlah 265 orang dan telah meninggal 66 orang. Pada tahun 2012 penderita AIDS berjumlah 308 dan meninggal sebanyak 108, sementara untuk tahun 2013 sudah ditemukan orang yang terjangkit namun belum ada laporan resmi dari 7 kabupaten/kota di Kepri.

Data tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyelamatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, dr Inrike disela acara kegiatan sosialisasi bahaya HIV/AIDS bagi kalangan pelajar di Halaman Belakang Gedung Daerah Kepri di Tanjungpinang, Minggu (12/5).

"Dari data tersebut pengidap HIV/AIDS 65 persennya terdapat di Kota Batam disusul dari Kabupaten Karimun dan Kota Tanjungpinang. Sementara pengidap HIV/AIDS Laki-laki sebanyak 52 persen sementara perempuan sebanyak 48 persen," jelasnya.

Inrike juga menambahkan, selain itu kasus HIV/AIDS yang ditemukan juga kebanyakan dari usia remaja dari umur 15 hingga 29 tahun dan juga dari ibu rumah tangga yang terpapar dari suami.

"Dari data tersebut 75 persen pengidap HIV/AIDS merupakan anak remaja dan disusul oleh ibu rumah tangga. Penanggulangan dan penanganan HIV/AIDS di Kepri telah membuka layanan di tiga wilayah, yakni di Kota Batam, Karimun dan Tanjungpinang dengan voluntary counseling and testing (VCT). VCT adalah proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidental dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV," ungkap Inrike.

Sementara itu, Gubernur Kepri HM Sani yang turut hadir pada acara tersebut mengatakan, HIV/AIDS merupakan penyakit yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan baru sebatas mencegah. Adapun pencegahan itu harus dimulai sejak dini, dengan melakukan berbagai sosialisasi.

"Untuk mencegah HIV/AIDS, kita semua harus membentengi diri. Pelajaran yang paling mendasar adalah di dalam diri kita sendiri. Sosialisasi seperti ini hanya mediasi saja. Selebihnya diri sendirilah yang menentukan," kata Sani.

Sani menambahkan, sosialisasi harus secara terus-menerus dilakukan, dimana saja dan kapan saja. Semua pihak harus terlibat baik tokoh agama, tokoh masyarakat termasuk media.

"Kenapa saya katakan demikian, karena mensosialisasikan bahaya AIDS ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua, termasuk para tokoh agama," ujar Sani lagi.

Kegiatan sosialisasi bahasa HIV/AIDS tersebut diselenggarakan oleh Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Kepri. Dalam laporannya, Ketua TP PKK Kepri Aisyah Sani mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan karena merasa prihatin mendengar laporan dari Dinas Kesehatan yang menyebutkan bahwa pengidap HIV/AIDS di Kepri banyak dari kalangan remaja, yakni pada usia rata-rata 15 sampai 29 tahun.

Hal itu tentu sangat memprihatinkan, karena remaja yang notabene sebagai generasi penerus bangsa, namun justru terjerumus dalam hal yang seharusnya tidak terjadi.

"Data yang saya dapat dari Dinas Kesehatan tersebut sangat memprihatinkan. Pemuda adalah generasi penerus bangsa, sehingga sudah seharusnya melakukan hal-hal yang positif dan kreatif. Jauhi narkoba dan hindari seks bebas. Semua itu hanya menimbulkan mudarat daripada manfaat," pesan Aisyah Sani.

Katanya, lebih memprihatinkan lagi, saat ini bahkan banyak kalangan ibu hamil yang juga mengidap HIV/AIDS, sehingga ketika bayi mereka lahir dalam keadaan tertular penyakit yang mematikan tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana menyampaikan, sosialisasi pencegahan HIV/AIDS bagi kalangan pelajar memang sedang digalakkan oleh Pemerintah Provinsi Kepri.

Dikirim oleh toto pada (23 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: 65 persen penderita HIV/AIDS di Kepri remaja
Topik: HIV/AIDS
Waspada Online, 12 Mei 2013

TANJUNGPINANG - Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Kepulauan Riau, Aisyah Sani mengatakan sebanyak 65 persen penderita "human immunodeficiency virus infection/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS)" di daerah setempat adalah remaja.

"Kami prihatin mendengar laporan dari Dinas Kesehatan yang menyebutkan bahwa pengidap HIV/AIDS di Kepulauan Riau (Kepri) mencapai 65 persen dari kalangan remaja, usia rata-rata 15 sampai dengan 29 tahun," kata Aisyah Sani saat sosialisasi bahaya HIV/AIDS kepada para pelajar di Tanjungpinang, hari ini.

Menurut Aisyah, hal tersebut sangat memprihatinkan, karena remaja sebagai generasi penerus bangsa justru terjerumus dalam hal yang seharusnya tidak terjadi.

"Pemuda adalah generasi penerus bangsa, sehingga sudah seharusnya melakukan hal-hal yang positif dan kreatif. Jauhi narkoba dan hindari seks bebas. Semua itu hanya menimbulkan mudarat daripada manfaat," kata istri Gubernur Kepri Muhammad Sani tersebut.

Yang lebih memprihatinkan menurut dia, saat ini bahkan banyak kalangan ibu hamil yang juga mengidap HIV/AIDS, sehingga ketika bayi mereka lahir dalam keadaan tertular penyakit yang mematikan tersebut.

Sementara itu Gubernur Kepri, Muhammad Sani yang membuka sosialisasi tersebut mengatakan satu-satunya cara yang bisa dilakukan baru sebatas mencegah. Adapun pencegahan itu harus dimulai sejak dini, dengan melakukan berbagai sosialisasi.

"Untuk mencegah HIV/AIDS, kita semua harus membentengi diri. Pelajaran yang paling mendasar adalah di dalam diri kita sendiri karena sosialisasi seperti ini hanya mediasi saja. Selebihnya diri sendirilah yang menentukan," kata Sani.

Menurut Sani, sosialisasi bahaya HIV/AIDS harus secara terus-menerus dilakukan, di mana saja dan kapan saja. Semua pihak harus terlibat, termasuk wartawan. "Kenapa saya katakan demikian, karena mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua termasuk para tokoh agama," ujar Sani.

Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana menyampaikan, sosialisasi HIV/AIDS bagi kalangan pelajar sedang digalakkan oleh Pemprov Kepri.

Dikirim oleh toto pada (27 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Dalam 15 Tahun Terakhir, 144 Warga Banten Meninggal Akibat HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Berita Satu, 11 Mei 2013

Serang - Selama kurang lebih 15 tahun terakhir, atau sejak tahun 1998 sampai dengan Maret 2013, tercatat sebanyak 144 warga Banten yang meninggal akibat mengidap HIV/AIDS. Total warga Banten yang mengidap HIV/AIDS selama kurun waktu itu sendiri mencapai sebanyak 2.731 orang, yang terdiri atas 1.844 yang terinfeksi HIV serta 887 yang sudah menderita AIDS.

Project Officer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Banten, Arif Mulyawan mengatakan, dari data yang didapat Dinas Kesehatan Provinsi Banten, untuk di Kabupaten Serang yang berstatus HIV mencapai 350 orang, penderita AIDS sebanyak 60 orang, dan kasus kematian akibat HIV/AIDS sebanyak 21 orang. Lalu untuk di Kota Serang, penderita HIV sebanyak 45 orang, AIDS 71 orang dan kasus kematian 26 orang.

Selanjutnya, di Kabupaten Pandeglang, penderita HIV sebanyak 48 orang, AIDS 22 orang dan kasus kematian 13 orang; Kabupaten Lebak penderita HIV 46 orang, AIDS sebanyak 57 orang dan kasus kematian 13 orang; Kabupaten Tangerang, penderita HIV 487 orang, penderita AIDS sebanyak 239 orang dan kasus kematian 14 orang. Lantas di Kota Tangerang penderita HIV sebanyak 674 orang, AIDS 311 orang dan kasus kematian 21 orang; serta di Kota Tangerang Selatan penderita HIV sebanyak 85 orang, AIDS sebanyak 28 orang dan kasus kematian 1 orang.

"Sedangkan untuk di Kota Cilegon, kasus HIV sebanyak 115 orang, AIDS sebanyak 79 orang dan kasus kematian sebanyak 35 orang," jelas Arif, di Serang, Jumat (10/5). Arif juga mengatakan bahwa Provinsi Banten telah masuk 10 besar tertinggi kasus HIV/AIDS di Indonesia. Bahkan, estimasi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ada di Banten saat ini mencapai sebanyak 5.250 orang. "Memang, penanganan yang dilakukan oleh pemerintah harus serius, karena perkembangan kasus HIV/AIDS ini begitu cepat," terangnya.

Dikatakan pula, penularan HIV/AIDS yang ada di Banten umumnya karena perilaku seks yang tidak benar atau tidak dengan pasangannya. "Penularanya lebih karena faktor seks bebas," ujarnya.

Sayangnya, dari informasi yang dihimpun pula, lima klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) serta Care, Support and Treatment (CST) untuk penanganan penderita HIV/AIDS, yaitu di RSUD Serang, RSUD Cilegon, RSUD Tangerang, RS Alkadar Kota Tangerang, RS Husada Insani Kota Tangerang dan RSUD Kabupaten Lebak, justru vakum dalam melayani pasiennya. Hal itu terjadi karena minimnya operasional untuk menjalankan klinik-klinik tersebut.

Dikirim oleh toto pada (20 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Penderita HIV/AIDS Masih Alami Diskriminasi Dalam Pelayanan Kesehatan
Topik: HIV/AIDS
REPUBLIKA.CO.ID, 09 Mei 2013

BANDARLAMPUNG -- Koordinator Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), Baby Nasution, mengatakan, perempuan penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome di Lampung masih mengalami diskriminasi dalam pelayanan kesehatan.

"Penjelasan dari beberapa perempuan yang terkana HIV/AIDS tersebut, mengaku kesulitan mendapatkan pelayanan seperti kesehatan reproduksi dan pelayanan kesehatan anak dan ibu," kata Baby Nasution di Bandarlampung, Kamis (9/5).

Menurutnya, keluhan diskriminasi dari perempuan positif HIV/AIDS di Lampung cukup tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. "Selain perlakuan diskriminasi, stigma negatif dari masyarakat dan keluarga juga masih tinggi," ujarnya.

Dalam pertemuan yang membahas tentang kesehatan reproduksi perempuan, beberapa peserta positif HIV/AIDS sempat menangis karena mendapat perlakuan yang tidak wajar dari masyarakat, bahkan dari keluarga sendiri.

"Padahal, memperoleh pelayanan kesehatan dan kesetaraan adalah hak semua warga negara, lantas mengapa ada pembedaan," tuturnya menjelaskan.

Selain stigma negatif, hal lain yang membuat Baby prihatin adalah perempuan positif HIV/AIDS di Lampung kurang bermunculan di media.

"Ini ada apa, justru yang saya temukan banyak nama-nama mereka yang menjadi sumber disamarkan namanya, kondisi ini berbeda di Sumatera lainnya, justru mereka malah berebut untuk muncul di media, tanpa harus malu," katanya menegaskan.

Berdasarkan catatan IPPI di Lampung, perempuan positif HIV/AIDS di provinsi itu terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Terdapat sekitar 400-an perempuan yang dinyatakan positif HIV/AIDS dan penularan tersebut. Menurut salah satu perempuan positif di Lampung Ade Komariyah, mereka adalah perempuan rumah tangga yang proses penularannya dari pasangannya sendiri.

"Perempuan yang kurang mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi justru rentan tertular penyakit tersebut," ujar Ade menambahkan.

Dikirim oleh toto pada (22 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Sering 'jajan', polisi dan PNS di Batam kena HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Merdeka, 09 Mei 2013

Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Batam mencatat terdapat 59 pegawai negeri sipil (PNS), Polri, ibu rumah tangga dan anak-anak yang terjangkit human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) pada 2013.

"Jumlah PNS dan Polri yang terjangkit jauh lebih banyak daripada ibu rumah tangga dan anak-anak," kata Sekretaris KPA Batam, Pieter Pureklolong di Batam, Rabu.

Dia mengatakan, sebenarnya PNS, Polri, ibu rumah tangga dan anak-anak bukan golongan rentan terhadap penyakit mematikan tersebut.

"Meski awalnya bukan golongan yang rentan seperti pegawai seks komersial (PSK), pengguna narkoba, penyuka sesama jenis, pelaut, namun sejak 2007 sudah ditemukan penyakit tersebut menjangkiti PNS, Polri, ibu rumah tangga dan anak-anak," kata dia.

Pieter mengatakan penyebaran HIV/AIDS pada kaum ibu dan anak-anak yang dilahirkan rata-rata disebabkan perilaku buruk suami yang suka membeli seks dengan pekerja seks komersial.

"Pada 2013 ada 144 kasus HIV/AIDS dan 63 di antaranya positif AIDS. Dari jumlah tersebut 18 sudah meninggal dunia atau rata-rata enam meninggal per bulan," kata dia.

Sementara untuk PNS dan Polri, rata-rata karena mereka juga berperilaku menyimpang dan tidak setia pada pasangannya.

"Akibat perilaku menyimpang tersebut, sudah banyak masyarakat tidak termasuk golongan rentan telah terjangkit penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut," kata Pieter.

Ia mengatakan data tersebut diperoleh dari beberapa rumah sakit di Kota Batam seperti RSUD Embung Fatimah, Rumah Sakit Budi Kemuliaan, dan beberapa puskesmas rujukan bagi penderita HIV/AIDS di Batam.

"Hingga akhir April ada 2.350 orang yang memeriksakan pada beberapa rumah sakit tersebut dan 144 dinyatakan terjangkit HIV/AIDS," kata dia.

Menurut Pieter, Batam merupakan wilayah keenam di Indonesia dengan kasus serta perkembangan epidemi HIV dan AIDS tertinggi setelah Papua, DKI Jakarta, Bali, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Dikirim oleh toto pada (20 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
Kliping: Warga Resos SK Terkendala dalam Sosialisasi Kondom
Topik: HIV/AIDS
Suaramerdeka.com, 09 Mei 2013

SEMARANG
- Warga binaan kompleks resosialiasi Argo Rejo atau Sunan Kuning (SK), Semarang Barat, mengaku banyak mengalami kendala dalam upaya menyosialisasikan penggunaan kondom bagi pelanggannya.

Pipit, salah seorang peer edicator (PE), yakni semacam orang yang dituakan di sebuah wisma (sebutan untuk rumah yang dihuni oleh beberapa pekerja seks komersial) mengatakan, "Iya memang kebanyakan para pelanggan itu susah untuk disuruh memakai kondom pelindung," kata Pipit, Kamis (9/5).

Padahal adalah hukumnya wajib bagi semua konsumen yang akan melakukan hajat seksualnya di SK untuk menggunakan kondom sebagai upaya untuk pencegahan penyakit menular seperti HIV-Aids.

Untuk itu, Silvy dan beberapa PE lainnya memiliki cara, "Kalau pelanggan nggak mau pakai kondom, kami-kami yang memakai kondom wanita," kata Silvy, saat berada di pertemuan si Aula Resos Argo Rejo, Kamis (9/5).

Dikirim oleh toto pada (17 kali dibaca), (selengkapnya... | Kliping | Nilai: 0)

    
    ilahi Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
To Facilitate a Network for HIV-AIDS Worker in Indonesia