Saat ini ada 77 tamu, 0 anggota dan Hari ini dikunjungi oleh 575 tamu/anggota
Pengunjung
Site ini telah dikunjungi 13859658 kali sejak August 2006
Donation & Report
Dukungan
Power by
Menghadapi Masalah HIV/AIDS Melalui Peran Ulama di Aceh Dilaksanakan oleh: Kanwil Departemen Agama Propinsi NAD Dilaksanakan pada: 4 – 8 Oktober 2007
Sebanyak 23 ulama dan tokoh masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) mengikuti Pelatihan Pelatih (ToT) HIV dan AIDS di Wisma Haji Banda Aceh, 4 – 8 Oktober 2007.
Acara di penghujung Ramadhan itu diselenggarakan Kanwil Departemen Agama Provinsi NAD dengan dukungan UNICEF. Peserta berasal dari delapan kabupatan/kota, yaitu Kota Banda Aceh, Kota Sabang, Kab. Aceh Barat, Kab. Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Kota Langsa, Kab. Aceh Tamiang, dan Kab. Aceh Tengah.
Di hari pertama, nampak sekali sikap negatif peserta terhadap masalah HIV dan AIDS. Melalui angket sikap, diketahui mayoritas peserta berpendapat AIDS penyakit kutukan Tuhan (53%); Orang dengan HIV dan AIDS (Odha) harus dikarantina (62%); ataupun Odha jangan menikah (52%). Menurut para peserta, kondom bukanlah sarana mengatasi masalah HIV dan AIDS (62%) karena justru menyuburkan praktek perzinahan. Sikap tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh minimnya pengetahuan peserta tentang HIV dan AIDS, terbukti dari nilai pre-test mereka yang rendah, yakni rata-rata 41,2.
Para narasumber, Dr. Toha Muhaimin (YPI / PP Muhammadiyah) dan Zulfendy, SKM (KPAD NAD), dihujani berbagai komentar pedas dari para peserta yang hampir semuanya bergelar Tengku. Beberapa peserta berpendapat agar pabrik kondom sebaiknya ditutup saja, karena dianggap memperbanyak praktek perzinahan. Dua orang peserta dengan berapi-api bahkan mengatakan bahwa cara paling efektif mengatasi masalah HIV dan AIDS adalah dengan membinasakan orang-orang yang diketahui HIV positif.
Menghadapi situasi seperti itu, strategi yang digunakan fasilitator terhadap para sesepuh berilmu agama tinggi tersebut adalah dengan memperbanyak diskusi dan dialog interaktif antar peserta. Beberapa peserta yang berusia lebih muda menyampaikan pandangan positif mereka agar para ulama jangan terlalu menstigma Odha karena HIV bisa menyerang siapa saja, termasuk ibu rumah tangga, bayi, bahwa kalangan ustadz sekalipun. Proses ini kelihatannya cukup efektif.
Pada hari kedua, fasilitator meminta peserta untuk praktek ceramah tentang pengertian HIV dan AIDS; hal-hal yang menularkan HIV; hal-hal yang tidak menularkan HIV; cara pencegahan penularan HIV; serta bagaimana sebaiknya bersikap terhadap Odha. Melalui penuturan tiga orang wakil kelompok, mulai kelihatan peningkatan pengetahuan peserta tentang materi dasar HIV dan AIDS. Semuanya berpendapat bahwa Odha tidak boleh didiskriminasi, malahan sebaiknya dibantu mengatasi masalah psikososial yang dihadapinya. Turut tampil sebagai nara sumber Dr. Cut Maneh (Dinkes Provinsi NAD) yang menyampaikan materi Kespro, Narkoba, HIV dan AIDS.
Titik balik perubahan sikap peserta adalah ketika tampilnya Cempaka (nama samaran), seorang perempuan HIV positif di hadapan mereka. Peserta seakan tak percaya bahwa seorang ibu rumah tangga asli Aceh yang santun tersebut adalah seorang HIV positif. Perempuan muda berkerudung itu mengatakan bahwa dirinya terinfeksi HIV dari suaminya dan belum lama melahirkan seorang bayi melalui bantuan layanan PMTCT dari RSU Zainal Abidin. Keberanian Cempaka tampil terbuka di hadapan para alim ulama Aceh tersebut sangat luar biasa. Menurut Baby Rivona (aktivis Medan Aceh Partnership/MAP) yang memfasilitasi kehadiran Cempaka, selama ini tak pernah ada Odha yang berani ”open status” di hadapan para senior panutan umat tersebut. Namun, berbekal ilmu public speaking yang pernah dilatihkan MAP kepadanya serta keterpanggilan diri untuk berbuat sesuatu yang bermakna strategis, maka Cempaka dengan tegar menyuarakan harapan teman-teman Odha kepada para ulama peserta pelatihan. Baby sendiri juga tampil mantap menyampaikan materi stigma dan diskiminasi serta contoh-contoh kasus nyata HIV dan AIDS di negeri serambi Mekkah yang menerapkan syariat Islam.
Di hari ketiga, fasilitator meminta peserta melakukan studi kasus di tiga kelompok. Pertanyaan yang diajukan adalah: Sebagai ulama dan tokoh masyarakat yang telah mengikuti Pelatihan Penanggulangan HIV dan AIDS, apa yang akan Bapak lakukan (sarankan) terhadap situasi sebagai berikut: 1) Seorang HIV positif yang diusir oleh tetangganya; 2) Seorang lelaki HIV positif yang berniat menikah, calon istri sangat mencintainya; 3) Sebuah kampung yang remajanya berperilaku risiko tinggi. Dalam suasana diskusi antar kelompok yang hangat, ternyata kelihatan sekali perbedaan sikap peserta dibandingkan hari pertama. Mereka sepakat bahwa Odha yang sedang menghadapi masalah harus dibantu, tidak boleh didiskriminasi. Seorang peserta yang dipanggil Syech dengan tegas mengatakan bahwa niat lelaki HIV positif untuk menikah harus didukung. Istrinya tidak akan tertular HIV karena suaminya harus selalu menggunakan kondom ketika berhubungan seksual dengannya. Penyebutan kondom secara eksplisit oleh sang Syech merupakan surprise bagi para peserta pelatihan ataupun fasilitator dan panitia. Sebelumnya, praktis tak ada ruang sama sekali untuk membicarakan kondom sebagai salah satu cara pencegahan penularan HIV di Aceh. Bahkan beberapa peserta sempat ada yang berpendapat bahwa sebaiknya pabrik kondom dihapuskan. Gaya penyampaian sang Syech yang santai dan percaya diri amat menyegarkan dan menarik simpati seluruh hadirin.
Di akhir acara diskusi studi kasus, tiga orang Tengku yang cukup sepuh mengaku bahwa selama ini mereka memiliki pemahaman yang salah tentang HIV dan AIDS. Kini, mereka berkesimpulan bahwa AIDS bukanlah penyakit kutukan. Selama ini mereka beranggapan HIV dan AIDS hanya terdapat di kalangan PSK, selain itu Odha berasal dari luar Aceh. Kini mereka merasa terpanggil untuk menyebarluaskan informasi HIV dan AIDS yang benar. Nara sumber terakhir Dr. Muslim Ibrahim, MA (Ketua Majelis Permusyawaratan Umat Provinsi NAD) menyampaikan materi Kespro, Narkoba, HIV dan AIDS dalam Pandangan Islam. Menurut Beliau, wawasan para peserta saat ini tentang HIV dan AIDS pasti lebih luas dibandingkan dirinya sendiri.
Melalui angket sikap di akhir pelatihan, diketahui bahwa mayoritas peserta tidak setuju jika AIDS merupakan penyakit kutukan (69%); tidak setuju jika Odha dikarantina (85%); dan tidak setuju jika Odha dilarang menikah (65%). Sementara sebanyak 53% peserta mengatakan bahwa kondom merupakan cara untuk mengatasi masalah HIV dan AIDS. Tingkat pengetahuan peserta meningkat tajam, nilai post-testnya rata-rata 71,8 atau terjadi peningkatan 73% dari nilai pre-test.
Pada sessi diskusi tindak lanjut, peserta antusias untuk segera berbuat sesuatu di masyarakat. Mereka telah berfikir untuk melakukan koordinasi kegiatan dengan KPAD di wilayahnya.
Sesuai rencana program Kanwil Depag NAD dan UNICEF, setelah ToT ini peserta akan mengadakan pelatihan bagi 30 orang ulama dari berbagai kecamatan di tiap-tiap kabupatan/kota. Dalam waktu dekat, akan diadakan pelatihan di Kabupaten Aceh Tengah dan Kota Lhokseumawe. Selanjutnya, ulama dari kecamatan tersebut akan melakukan penjangkauan langsung ke masyarakat untuk menyebarluaskan informasi HIV dan AIDS, tentu saja melalui jalur dakwah, baik lewat mimbar Jumat, majlis taklim, ataupun pertemuan-pertemuan agama lainnya.
Hingga saat ini, tercatat 17 kasus HIV dan AIDS di Provinsi NAD. Para ulama dan tokoh masyarakat bertekad untuk berkontribusi positif dalam mencegah bertambahnya kasus HIV dan AIDS di Provinsi NAD. Pengalaman negara lain bisa menjadi contoh tentang kisah sukses penanggulangan HIV dan AIDS melalui peran ulama, seperti di Negara Uganda, Afrika. Sementara di Thailand, para bikshu agama Budha berperan aktif menyebarluaskan informasi HIV dan AIDS serta memberikan semangat hidup kepada Odha (Husein Habsyi, konsultan dan fasilitator pelatihan)