Penyelenggaraan Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) di Indonesia bermula di kota Surabaya pada tahun 1991 dengan sebutan “Malam Tirakatan Mengenang Korban-Korban AIDS”. Malam Tirakatan AIDS yang pertama tersebut diselenggarakan pada hari Minggu tanggal 19 Mei 1991 dengan koordinasi oleh Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara (KKLGN) bekerjasama dengan Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos). Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari kedua organisasi tersebut saja, tetapi juga para Pekerja Sosial dan Pemuka Masyarakat yang prihatin dan peduli terhadap permasalahan HIV & AIDS. Acara Tirakatan AIDS dengan menyalakan lilin dilakukan dalam rangka menunjukkan solidaritas terhadap mereka yang menderita karena AIDS. MRAN selain untuk mengenang mereka yang sudah meninggal karena AIDS, sekaligus juga sebagai moment untuk menyadarkan berbagai kelompok masyarakat guna menjalani kehidupan seksual maupun perilaku lainnya yang sehat dan bebas dari penularan HIV & AIDS.
Saat ini di Surabaya sendiri semakin hari semakin banyak ditemukan kasus HIV & AIDS pada berbagai lapisan masyarakat, sehingga boleh dikatakan korban sudah mulai berjatuhan. Kasus yang ditemukan saat ini ternyata tidak hanya terbatas pada golongan/usia. Kasus yang ditemukan saat ini sudah beragam, dari yang usia anak-anak sampai dewasa, dan mulai dari kelompok yang berperilaku berisiko tinggi (seperti : pekerja seks, waria, gay, pengguna NAPZA suntik, dll) sampai pada kelompok yang berisiko rendah (seperti : anak-anak, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, dan karyawan perusahaan). Sampai akhir bulan Maret 2008 data AIDS di Jawa Timur adalah : HIV : 1.159, AIDS : 592, dan meninggal : 321 orang.
Dengan Malam Renungan AIDS ini diharapkan akan dapat memberikan wacana bagi masyarakat bahwa HIV & AIDS sudah ada di sekitar kita dan bukan hanya berada pada kelompok yang dianggap berperilaku berisiko tinggi saja, dengan demikian diharapkan akan menumbuhkan keberanian dan semangat perjuangan untuk melawannya. Malam Renungan AIDS merupakan kegiatan kemasyarakatan yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan Mei secara serentak di seluruh dunia. Kegiatan ini bersifat non politis, mengajak semua orang untuk sementara waktu melupakan kesibukannya dan melakukan renungan pada epidemi AIDS. Malam Renungan AIDS ini bertujuan untuk menyatukan semua orang untuk merenungkan dan memikirkan epidemi AIDS yang sudah banyak merenggut nyawa orang di seluruh dunia. Dengan Malam Renungan AIDS kita diajak juga untuk memberi dukungan kepada orang dengan HIV & AIDS (ODHA) dan orang yang hidup dengan HIV & AIDS (OHIDHA). Melalui Malam Renungan AIDS kita diajak bukan saja untuk peduli terhadap masalah AIDS, tetapi juga diajak untuk mengambil langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan. Jadi Malam Renungan AIDS bisa merubah penderitaan menjadi tekad dan tindakan yang akan membawa perubahan. Bagi tempat-tempat yang belum ditemukan kasus HIV & AIDS, Malam Renungan AIDS bisa berfungsi sebagai sarana menciptakan kepedulian dan penyampaian informasi agar kita bisa mencegah penyebaran HIV & AIDS ke daerah kita. Tentunya ini semua dilakukan dengan cara-cara yang manusiawi bukan memusuhi atau mendiskriminasi orang-orang yang mempunyai perilaku beresiko tertular atau menularkan HIV/AIDS. Di daerah dimana ada sejumlah orang yang terinfeksi HIV & AIDS, MRAN bisa berperan sebagai sarana untuk saling menguatkan dan saling memberikan dukungan.
Tema dari peringatan yang dilakukan oleh BPNA Jatim bersama LSM tahun ini sama dengan tema Nasional yaitu : “Nyalakan Lilin Simbul Keberanian Kita Bersama“. Makna dari tema ini antara lain : saat ini di wilayah Jawa Timur sendiri semakin hari semakin banyak ditemukan kasus HIV & AIDS sehingga boleh dikatakan bahwa korban hari demi hari mulai berjatuhan. HIV & AIDS dapat menyentuh siapa saja, tanpa mempedulikan usia, jenis kelamin, orientasi seksual, suku bangsa, agama, maupun tingkat sosial ekonomi. Oleh karena itu perjuangan dan keberanian menjadi konsep yang sangat penting dalam upaya pencegahan, perawatan maupun dukungan. Dengan adanya otonomi daerah, bentuk perjuangan ini semestinya menjadi lebih mudah lagi pada tingkat lokal. Berdasarkan hal inilah, Malam Renungan AIDS Nusantara 2008 mengingatkan dan mengobarkan semangat keberanian dalam proses perjuangan tersebut. MRAN 2008 mengajak kita semua merenung terhadap kejadian dan kenangan apa saja yang disebabkan oleh penularan HIV & AIDS, dan tentunya apa saja yang akan terjadi jika kita terus berpangku tangan. Namun harapan terus membentang jika kita semua setuju dan berbuat nyata melakukan suatu tindakan dalam semangat perjuangan, dan kesepakatan bersama menanggapi permasalahan HIV & AIDS.
Demi suksesnya Malam Renungan AIDS di Jawa Timur 2008, maka kami mengundang seluruh temen-temen aktifis individu maupun LSM Peduli AIDS di Surabaya dan sekitarnya untuk hadir pada Malam Renungan yaitu pada hari Selasa, 27 Mei 2008, pukul 18.00 sampai selesai, bertempat di Taman Bungkul, Surabaya. Demikian terimakasih atas perhatian temen-temen sekalian.
Dilaporkan oleh: Ian Sujianto, ian_media@yahoo.com