<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?>
<rss version="2.0" 
  xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
  xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
  xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
  xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#">

<channel>
<title>Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community</title>
<link>http://www.aids-ina.org</link>
<description>Sharing Knowledge and Facilitating Network for HIV and AIDS in Indonesia</description>
<dc:language>en-us</dc:language>
<dc:creator>administrator@aids-ina.org</dc:creator>
<dc:date>2013-05-18T21:33:06+07:00</dc:date>

<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
<sy:updateBase>2013-05-18T21:33:06+07:00</sy:updateBase>

<image>
<title>Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community</title>
<link>http://www.aids-ina.org</link>
<url>http://www.aids-ina.org/files/images/AIDsina.jpg</url>
<width>160</width>
<height>160</height>
<description>Sharing Knowledge and Facilitating Network for HIV and AIDS in Indonesia</description>
</image>
<item>
<title>Epidemi HIV/AIDS di Indonesia: Berjalankah perawatan kesehatan primer (primary health care) sebagai strategi pencegahan dan intervensi?</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=31</link>
<description>&lt;strong&gt;[Author: Kusman Ibrahim et.al]&lt;/strong&gt; - &lt;strong&gt;[Category: Kebijakan]&lt;/strong&gt; - Berlanjutnya peningkatan jumlah Odha di Indonesia berdampak pada masyarakat luas. Beragam kebijakan dan strategi telah diambil dan dilaksanakan untuk menanggulangi epidemic ini termasuk prakarsa perawatan kesehatan primer atau primary health care (PHC). Artikel ini menggambarkan epidemic HIV/AIDS&amp;nbsp; terkini di Indonesia dan menyoroti berbagai prakarsa pencegahan dan intervensi yang diperkenalkan untuk membatasi penyebaran dan dampak dari factor-faktor penyakit ini. &lt;br /&gt;</description>
<guid isPermaLink="false">31@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Kebijakan</dc:subject>
<dc:date>2010-11-10T09:49:26+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Tantangan bagi keterlibatan Odha dalam menjawab epidemi HIV/AIDS di Kamboja, India dan Indonesia</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=30</link>
<description>&lt;strong&gt;[Author: S. Paxton and D. Stephens]&lt;/strong&gt; - &lt;strong&gt;[Category: Kebijakan]&lt;/strong&gt; - Studi ini mengkaji tantangan-tantangan terhadap keterlibatan Odha dalam pembuatan kebijakan, rancangan proyek dan implementasi di Asia.&amp;nbsp; 48 wawancara dilakukan kepada para pemain kunci dalam sektor HIV di Kamboja, Indonesia dan India. Hambatan utama keterlibatan Odha adalah stigma yang berhubungan dengan AIDS. Kebanyakan orang didiagnosa terlambat dan minim dalam akses ke obat ARV. Mayoritas Odha yang bekerja dalam HIV/AIDS tidak mendapatkan pelatihan dalam kesehatan masyarakat atau pengelolaan organisasional. Hanya sedikit kesempatan pelatihan yang tersedia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;</description>
<guid isPermaLink="false">30@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Kebijakan</dc:subject>
<dc:date>2010-11-10T09:48:31+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Biaya terapi rumatan metadon berbasis rumah sakit dalam penanggulangan HIV/AIDS di kalangan penasun di Indonesia <br /></title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=29</link>
<description>&lt;strong&gt;[Author: Irvan Afriandi dkk]&lt;/strong&gt; - &lt;strong&gt;[Category: Kebijakan]&lt;/strong&gt; - Tujuan:&lt;br /&gt;Untuk menilai biaya terapi rumatan metadon bagi penasun di Bandung dan untuk memahami masalah keberlangsungan financial pada tingkat rumah sakit dan aksesibilitas financial serta daya tarik ekonomi pada tingkat kebijakan kesehatan. &lt;br /&gt;</description>
<guid isPermaLink="false">29@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Kebijakan</dc:subject>
<dc:date>2010-10-28T22:25:16+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Kendala finansial perawatan HIV, termasuk terapi ARV, pada pasien di tiga wilayah di Indonesia.</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=28</link>
<description>&lt;strong&gt;[Author: Sigit Riyarto dkk.]&lt;/strong&gt; - &lt;strong&gt;[Category: Orang dengan HIV/AIDS]&lt;/strong&gt; - Tulisan ini menilai besaran beban financial bagi perawatan kesehatan Odha karena pembayaran out of pocket serta dampak dari beban tersebut atas kemampuan financial mereka. Data dikumpulkan melalui survey cross-sectional terhadap 353 Odha dari 3 kota di Indonesia (Jakarta, Yogyakarta, dan Merauke). Sampel Responden di Jakarta&amp;nbsp; berasal dari satu RS dan satu LSM yang bergerak Odha. Di Yogyakarta dan Merauke, semua pasien HIV yang menjalani ART yang mendatangi RS terpilih pada periode wawancara diminta untuk berpartisipasi dalam survei. Survei mengumpulkan data tentang frekuensi dan besarnya pembayaran untuk perawatan HIV, dengan jawaban-jawaban yang dicek silang terhadap catatan medis. Hasil memperlihatkan bahwa Odha memiliki beban pembayaran yang berbeda-beda berdasarkan wilayah. Rata-rata, responden di Yogyakarta menghabiskan 68% dan Odha yang menjalani ART di Jakarta menghabiskan 96% dari pengeluaran bulanan mereka untuk perawatan yang terkait HIV. Hal ini mengindikasikan&amp;nbsp; beban finansial yang substansial bagi banyak pasien ART. &lt;br /&gt;</description>
<guid isPermaLink="false">28@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Orang dengan HIV/AIDS</dc:subject>
<dc:date>2010-10-28T22:22:16+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Pengalaman lapangan dalam mengintegrasikan KB ke dalam program PMTCT</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=27</link>
<description>&lt;strong&gt;[Author: Naomi Rutenberg and Carolyn Baek]&lt;/strong&gt; - &lt;strong&gt;[Category: PMTCT]&lt;/strong&gt; - Artikel ini merupakan tinjauan pengalaman lapangan dari layanan KB dalam program PMTCT di 10 negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin. KB adalah komponen baku dari program-program antenatal dan KIA yang di dalamnya program PMTCT ditawarkan. Tetapi tempat-tempat PMTCT seringkali kehilangan peluang untuk memberikan konseling KB kepada para klien HIV positif. Kebutuhan terhadap KB di kalangan perempuan HIV positif bervariasi tergantung pada keterbukaan masyarakat terhadap HIV/AIDS, norma fertilitas, dan pengetahuan program PMTCT. Di Kenya dan Zambia, tidak ada perbedaan dalam penggunaan kontrasepsi antara perempuan HIV positif dan perempuan HIV negative, tetapi perempuan HIV positif memiliki sikap yang lebih tegas (affirmative) terhadap kondom dan menggunakannya lebih sering daripada perempuan HIV negatif. Di Republik Dominika, India dan Thailand, di mana prevalensi HIV rendan dan angka sterilisasi tinggi, perempuan HIV positif ditawarkan sterilisasi dan diterima oleh sebagian besar perempuan. Artikel ini menarik implikasi kebijakan dari temuan ini dan merekomendasikan bahwa kebijakan-kebijakan seyogyanya didasarkan atas penghormatan hak-hak perempuan akan informasi pilihan reproduktif dalam konteks HIV/AIDS. </description>
<guid isPermaLink="false">27@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>PMTCT</dc:subject>
<dc:date>2010-10-05T17:18:08+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Pengaruh tenaga kesehatan atas sterilisasi perempuan di kalangan perempuan HIV positif di Brazil</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=26</link>
<description>&lt;strong&gt;[Author: Kristine Hopkins, Regina Maria Barbosa, Daniela Riva Knauth, Joseph E. Potter]&lt;/strong&gt; - &lt;strong&gt;[Category: PMTCT]&lt;/strong&gt; - Tulisan ini menggali preferensi dan hasil reproduksi perempuan HIV positif di dua kota di Brazil. Kami menggunakan 3 jenis data yang semuanya berasal dari perempuan yang melahirkan di rumah sakit umum: 1) rekam klinis dari 427 perempuan HIV positif; 2) wawancara mendalam pre- dan postpartum terhadap 60 perempuan HIV positif; dan 3) survei prospektif terhadap 363 perempuan dari populasi umum. Sampel HIV positif dikumpulkan dari perempuan yang melakukan perawatan prenatal antara Juli 1999 dan Juni 2000, dan survei populasi umum dilakukan terhadap perempuan yang memulai perawatan prenatal antara April 1998 dan Juni 1999. &lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di antara perempuan dengan sampel klinis ditemukan perbedaan besar dalam hal proporsi sterilisasi postpartum: 51% di Sao Paulo dan 4% di Porto Alegre dibandingkan dengan 3,4% dan 1,1% di kalangan perempuan dari populasi umum. Data kualitatif menunjukkan bahwa perempuan HIV positif dalam studi ini memiliki preferensi kuat untuk tidak memiliki anak lagi dan sterilisasi perempuan dipilih sebagai caranya. Oleh karena itu, kami menyimpulkan bahwa perbedaan besar tersebut disebabkan terutama karena perempuan HIV positif di kedua kota memiliki akses yang berbeda terhadap sterilisasi. Wawancara mendalam mengungkapkan bahwa perempuan di Sao Paulo sering didorong oleh staf klinik untuk melakukan sterilisasi postpartum. Sebaliknya prempuan HIV positif di klinik-klinik di Porto Alegre tidak ditawarkan sterilisasi sebagai pilihan dan mereka yang meminta sterilisasi berulangkali ditunda. Perbedaan yang&amp;nbsp; menonjol dalam sterilisasi postpartum bagi perempuan seropositif memerlukan perhatian dan diskusi di kalangan komunitas medis. Pada kebijakan nasional yang lebih tinggi tentang hak-hak reproduksi, mungkin perlu membuka kembali wacana tentang norma-norma prosedur postpartum dan mencurahkan lebih besar sumberdaya untuk memperluas pilihan kontrasepsi. &amp;nbsp;</description>
<guid isPermaLink="false">26@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>PMTCT</dc:subject>
<dc:date>2009-11-06T07:50:52+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak di Vietnam dan Indonesia: Dinamika perawatan yang berbeda arah</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=25</link>
<description>&lt;strong&gt;[Author: Anita Petra Hardon, Pauline Oosterhoff, Johanna D. Imelda, Nguyen Thu Anh, Irwan Hidayana ]&lt;/strong&gt; - &lt;strong&gt;[Category: PMTCT]&lt;/strong&gt; - Bagaimana perempuan dan tenaga kesehatan terdepan berkecimpung dalam pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak di daerah perkotaan di Vietnam dan Indonesia, di mana HIV masih dianggap sebagai stigma dan diasosiasikan dengan prostitusi dan narkoba suntik? Studi kualitatif ini menggali dinamika perawatan lokal dengan menggunakan pengamatan, FGD dan wawancara. Di Indonesia, penelitian dilakukan di program PMTCT berbasis masyarakat yang dikelola oleh sebuah LSM, sementara di Vietnam di layanan PMTCT rutin yang dilaksanakan oleh fasilitas kesehatan masyarakat di tingkat distrik dan propinsi. Pada kedua program ini (pendekatan yang diprakarsai tenaga kesehatan di Vietnam dan sistem yang lebih berorientasi pada klien di Indonesia) perempuan hamil menilai layanan tes HIV dalam layanan antenatal. Kecemasan muncul pada beberapa perempuan yang terbukti positif HIV. Mereka tidak puas dengan kualitas konseling dan kegagalan untuk memberikan pengobatan antiretroviral. Penerimaan tes HIV dalam layanan antenatal cukup tinggi, tetapi isu kebijakan utama menurut perspektif ibu hamil adalah apakah layanan PMTCT dapat memberikan kualitas konseling yang baik dan perawatan lanjutan yang diperlukan. Kami menemukan tenaga kesehatan lokal senang dengan program PMTCT. Di Vietnam, program ini menawarkan perlindungan bagi tenaga kesehatan terhadap HIV karena mereka dapat merujuk perempuan jauh dari layanan kesehatan distrik ketika akan bersalin. Di Indonesia, kader kesehatan masyarakat senang dengan insentif financial yang diperoleh karena memobilisasi klien untuk mengikuti program PMTCT. Kesimpulan kami bahwa untuk mencapai tujuan global mengurangi infeksi HIV pada anak-anak hingga 50% memerlukan penerjemahan program kesehatan masyarakat yang dirancang secara global ke dalam konteks lokal yang sensitive gender termasuk peluang-peluang lokal untuk perawatan lanjutan dan dukungan sosial. &lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Social Science and Medicine 69 (2009): 838-845 </description>
<guid isPermaLink="false">25@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>PMTCT</dc:subject>
<dc:date>2009-11-02T22:01:22+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Penggunaan Kondom Di Kalangan Pasangan Tetap Wanita Pekerja Seks (Gendak).</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=24</link>
<description>&lt;strong&gt;[Author: Luciana Barliantari (lbarliantari@fhi.or.id)]&lt;/strong&gt; - &lt;strong&gt;[Category: Wanita Pekerja Seks]&lt;/strong&gt; - &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Studi Kelompok Dampingan Yayasan Perkumpulan Bandungwangi dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DKI Jakarta, Kotamadya Jakarta Timur&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini laju penularan HIV cenderung terus meningkat, demikian pula peningkatan jumlah kasus AIDS. Data epidemiologis menunjukkan bahwa penularan HIV di Indonesia sejak tahun 1995 semakin memprihatinkan. Di beberapa daerah, prevalensi HIV positif di kalangan pekerja seks meningkat sampai mendekati 5%. Tingkat epidemi ini telah mengarah pada level epidemi terkonsentrasi di kalangan populasi berisiko. Angka kumulatif kasus AIDS tertinggi per September 2007 dilaporkan dari Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Papua, dan Jawa Timur (www.aids-ina.org). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AIDS memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan struktur masyarakat. Penyakit ini mempertinggi angka kematian ibu dan anak di Indonesia dan mengancam keberlangsungan hidup angkatan kerja di Indonesia karena kasus AIDS banyak ditemukan pada kalangan usia produktif. Penyakit ini juga semakin menyulitkan usaha-usaha untuk menanggulangi kemiskinan di Indonesia (UNDP, 2001). Tahun 2010 diperkirakan akan ada sekitar 110.000 orang yang menderita atau meninggal karena AIDS, serta 1 &amp;ndash; 5 juta orang yang mengidap virus HIV. Seriusnya ancaman HIV dan AIDS membuat pencegahan penularan HIV&amp;amp;AIDS menjadi tujuan ke enam dari delapan tujuan penting dalam &lt;em&gt;Millenium Development Goals&lt;/em&gt; (MDGs).</description>
<guid isPermaLink="false">24@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Wanita Pekerja Seks</dc:subject>
<dc:date>2009-03-24T16:38:59+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Dampak Tenaga Kesehatan Atas Sterilisasi di Antara Perempuan HIV-positif di Brazil</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=23</link>
<description>&lt;strong&gt;[Author: Kristine Hopkins, Regina Maria Barbosa, Daniela Riva Knauth, Joseph E. Potter]&lt;/strong&gt; - &lt;strong&gt;[Category: Pendidikan HIV/AIDS]&lt;/strong&gt; - Tulisan ini membahas pilihan-pillihan reproduksi dan hasilnya pada perempuan HIV-positif di dua kota di Brazil. Penulis menggunakan 3 sumber data yang semuanya berasal dari perempuan yang melahirkan di rumah sakit umum (RSU): 1) catatan klinis dari 427 perempuan HIV-positif; 2) wawancara mendalam sebelum dan setelah melahirkan terhadap 60 perempuan HIv-positif&amp;rsquo; dan 3) survei prospektif yang dilakukan terhadap 363 perempuan dari masyarakat umum. Sampel HIV-positif dikumpulkan dari perempuan yang melakukan periksa kehamilan (prenatal) antara bulan Juli 1999 dan Juni 2000, dan survei masyarakat umum dilakukan terhadap perempuan yang memulai periksa kehamilan antara bulan April 1998 dan Juni 1999. Di antara perempuan dalam sample klinik, ditemukan perbedaan dramatis dalam proporsi sterilisasi setelah melahirkan (sterilized postpartum): 51% di Sao Paulo vs. 4% di Porto Alegre, dibandingkan dengan 3,4% di Sao Paulo vs 1,1% di Porto Alegre pada perempuan di masyarakat umum. Data kualitatif menunjukkan bahwa perempuan HIV-positif dalam studi ini memiliki preferensi yang kuat untuk tidak memiliki anak lagi di masa depan dan bahwa sterilisasi perempuan adalah jalan yang dipilih untuk mencapai tujuan tsb. Oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa perbedaan besar di atas terutama karena perempuan HIv-positif memiliki perbedaan akses ke sterilisasi di dua kota tsb.</description>
<guid isPermaLink="false">23@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Pendidikan HIV/AIDS</dc:subject>
<dc:date>2009-02-07T09:42:24+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>&quot;Lipstick Girls&quot; dan &quot;FallenWomen&quot;: AIDS dan Pemikiran Konspirasi di Papua, Indonesia</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=22</link>
<description>&lt;strong&gt;[Author: Leslie Butt, University of Victoria]&lt;/strong&gt; - &lt;strong&gt;[Category: Kebijakan]&lt;/strong&gt; - Sebuah teori yang berkembang di Papua adalah mengkaitkan penyebaran pekerja seks dan HIV/AIDS dengan konspirasi pemerintah untuk menghapuskan penduduk asli Papua. Pemikiran konspirasi yang nyata oleh penduduk asli Papua berasal dari beragam bukti seperti legislasi pemisahan propinsi, pola industri seks, transformasi ekonomi, desas desus santet (&lt;em&gt;witchcraft&lt;/em&gt;) dan teknologi mobil terbaru.</description>
<guid isPermaLink="false">22@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Kebijakan</dc:subject>
<dc:date>2009-11-06T00:47:09+07:00</dc:date>
</item>

</channel>
</rss>
