<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?>
<rss version="2.0" 
  xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
  xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
  xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
  xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#">

<channel>
<title>Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community</title>
<link>http://www.aids-ina.org</link>
<description>Sharing Knowledge and Facilitating Network for HIV and AIDS in Indonesia</description>
<dc:language>en-us</dc:language>
<dc:creator>administrator@aids-ina.org</dc:creator>
<dc:date>2010-03-11T09:27:51+07:00</dc:date>

<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
<sy:updateBase>2010-03-11T09:27:51+07:00</sy:updateBase>

<image>
<title>Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community</title>
<link>http://www.aids-ina.org</link>
<url>http://www.aids-ina.org/files/images/AIDsina.jpg</url>
<width>160</width>
<height>160</height>
<description>Sharing Knowledge and Facilitating Network for HIV and AIDS in Indonesia</description>
</image>
<item>
<title>[PMTCT]: Pengalaman lapangan dalam mengintegrasikan KB ke dalam program PMTCT</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=27</link>
<description>[Author: Naomi Rutenberg and Carolyn Baek] - Artikel ini merupakan tinjauan pengalaman lapangan dari layanan KB dalam program PMTCT di 10 negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin. KB adalah komponen baku dari program-program antenatal dan KIA yang di dalamnya program PMTCT ditawarkan. Tetapi tempat-tempat PMTCT seringkali kehilangan peluang untuk memberikan konseling KB kepada para klien HIV positif. Kebutuhan terhadap KB di kalangan perempuan HIV positif bervariasi tergantung pada keterbukaan masyarakat terhadap HIV/AIDS, norma fertilitas, dan pengetahuan program PMTCT. Di Kenya dan Zambia, tidak ada perbedaan dalam penggunaan kontrasepsi antara perempuan HIV positif dan perempuan HIV negative, tetapi perempuan HIV positif memiliki sikap yang lebih tegas (affirmative) terhadap kondom dan menggunakannya lebih sering daripada perempuan HIV negatif. Di Republik Dominika, India dan Thailand, di mana prevalensi HIV rendan dan angka sterilisasi tinggi, perempuan HIV positif ditawarkan sterilisasi dan diterima oleh sebagian besar perempuan. Artikel ini menarik implikasi kebijakan dari temuan ini dan merekomendasikan bahwa kebijakan-kebijakan seyogyanya didasarkan atas penghormatan hak-hak perempuan akan informasi pilihan reproduktif dalam konteks HIV/AIDS. </description>
<guid isPermaLink="false">27@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>PMTCT</dc:subject>
<dc:date>2009-11-06T00:48:57+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>[PMTCT]: Pengaruh tenaga kesehatan atas sterilisasi perempuan di kalangan perempuan HIV positif di Brazil</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=26</link>
<description>[Author: Kristine Hopkins, Regina Maria Barbosa, Daniela Riva Knauth, Joseph E. Potter] - Tulisan ini menggali preferensi dan hasil reproduksi perempuan HIV positif di dua kota di Brazil. Kami menggunakan 3 jenis data yang semuanya berasal dari perempuan yang melahirkan di rumah sakit umum: 1) rekam klinis dari 427 perempuan HIV positif; 2) wawancara mendalam pre- dan postpartum terhadap 60 perempuan HIV positif; dan 3) survei prospektif terhadap 363 perempuan dari populasi umum. Sampel HIV positif dikumpulkan dari perempuan yang melakukan perawatan prenatal antara Juli 1999 dan Juni 2000, dan survei populasi umum dilakukan terhadap perempuan yang memulai perawatan prenatal antara April 1998 dan Juni 1999. &lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di antara perempuan dengan sampel klinis ditemukan perbedaan besar dalam hal proporsi sterilisasi postpartum: 51% di Sao Paulo dan 4% di Porto Alegre dibandingkan dengan 3,4% dan 1,1% di kalangan perempuan dari populasi umum. Data kualitatif menunjukkan bahwa perempuan HIV positif dalam studi ini memiliki preferensi kuat untuk tidak memiliki anak lagi dan sterilisasi perempuan dipilih sebagai caranya. Oleh karena itu, kami menyimpulkan bahwa perbedaan besar tersebut disebabkan terutama karena perempuan HIV positif di kedua kota memiliki akses yang berbeda terhadap sterilisasi. Wawancara mendalam mengungkapkan bahwa perempuan di Sao Paulo sering didorong oleh staf klinik untuk melakukan sterilisasi postpartum. Sebaliknya prempuan HIV positif di klinik-klinik di Porto Alegre tidak ditawarkan sterilisasi sebagai pilihan dan mereka yang meminta sterilisasi berulangkali ditunda. Perbedaan yang&amp;nbsp; menonjol dalam sterilisasi postpartum bagi perempuan seropositif memerlukan perhatian dan diskusi di kalangan komunitas medis. Pada kebijakan nasional yang lebih tinggi tentang hak-hak reproduksi, mungkin perlu membuka kembali wacana tentang norma-norma prosedur postpartum dan mencurahkan lebih besar sumberdaya untuk memperluas pilihan kontrasepsi. &amp;nbsp;</description>
<guid isPermaLink="false">26@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>PMTCT</dc:subject>
<dc:date>2009-11-06T07:50:52+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>[PMTCT]: Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak di Vietnam dan Indonesia: Dinamika perawatan yang berbeda arah</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=25</link>
<description>[Author: Anita Petra Hardon, Pauline Oosterhoff, Johanna D. Imelda, Nguyen Thu Anh, Irwan Hidayana ] - Bagaimana perempuan dan tenaga kesehatan terdepan berkecimpung dalam pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak di daerah perkotaan di Vietnam dan Indonesia, di mana HIV masih dianggap sebagai stigma dan diasosiasikan dengan prostitusi dan narkoba suntik? Studi kualitatif ini menggali dinamika perawatan lokal dengan menggunakan pengamatan, FGD dan wawancara. Di Indonesia, penelitian dilakukan di program PMTCT berbasis masyarakat yang dikelola oleh sebuah LSM, sementara di Vietnam di layanan PMTCT rutin yang dilaksanakan oleh fasilitas kesehatan masyarakat di tingkat distrik dan propinsi. Pada kedua program ini (pendekatan yang diprakarsai tenaga kesehatan di Vietnam dan sistem yang lebih berorientasi pada klien di Indonesia) perempuan hamil menilai layanan tes HIV dalam layanan antenatal. Kecemasan muncul pada beberapa perempuan yang terbukti positif HIV. Mereka tidak puas dengan kualitas konseling dan kegagalan untuk memberikan pengobatan antiretroviral. Penerimaan tes HIV dalam layanan antenatal cukup tinggi, tetapi isu kebijakan utama menurut perspektif ibu hamil adalah apakah layanan PMTCT dapat memberikan kualitas konseling yang baik dan perawatan lanjutan yang diperlukan. Kami menemukan tenaga kesehatan lokal senang dengan program PMTCT. Di Vietnam, program ini menawarkan perlindungan bagi tenaga kesehatan terhadap HIV karena mereka dapat merujuk perempuan jauh dari layanan kesehatan distrik ketika akan bersalin. Di Indonesia, kader kesehatan masyarakat senang dengan insentif financial yang diperoleh karena memobilisasi klien untuk mengikuti program PMTCT. Kesimpulan kami bahwa untuk mencapai tujuan global mengurangi infeksi HIV pada anak-anak hingga 50% memerlukan penerjemahan program kesehatan masyarakat yang dirancang secara global ke dalam konteks lokal yang sensitive gender termasuk peluang-peluang lokal untuk perawatan lanjutan dan dukungan sosial. &lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Social Science and Medicine 69 (2009): 838-845 </description>
<guid isPermaLink="false">25@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>PMTCT</dc:subject>
<dc:date>2009-11-02T22:01:22+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>[Wanita Pekerja Seks]: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Penggunaan Kondom Di Kalangan Pasangan Tetap Wanita Pekerja Seks (Gendak).</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=24</link>
<description>[Author: Luciana Barliantari (lbarliantari@fhi.or.id)] - &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Studi Kelompok Dampingan Yayasan Perkumpulan Bandungwangi dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DKI Jakarta, Kotamadya Jakarta Timur&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini laju penularan HIV cenderung terus meningkat, demikian pula peningkatan jumlah kasus AIDS. Data epidemiologis menunjukkan bahwa penularan HIV di Indonesia sejak tahun 1995 semakin memprihatinkan. Di beberapa daerah, prevalensi HIV positif di kalangan pekerja seks meningkat sampai mendekati 5%. Tingkat epidemi ini telah mengarah pada level epidemi terkonsentrasi di kalangan populasi berisiko. Angka kumulatif kasus AIDS tertinggi per September 2007 dilaporkan dari Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Papua, dan Jawa Timur (www.aids-ina.org). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AIDS memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan struktur masyarakat. Penyakit ini mempertinggi angka kematian ibu dan anak di Indonesia dan mengancam keberlangsungan hidup angkatan kerja di Indonesia karena kasus AIDS banyak ditemukan pada kalangan usia produktif. Penyakit ini juga semakin menyulitkan usaha-usaha untuk menanggulangi kemiskinan di Indonesia (UNDP, 2001). Tahun 2010 diperkirakan akan ada sekitar 110.000 orang yang menderita atau meninggal karena AIDS, serta 1 &amp;ndash; 5 juta orang yang mengidap virus HIV. Seriusnya ancaman HIV dan AIDS membuat pencegahan penularan HIV&amp;amp;AIDS menjadi tujuan ke enam dari delapan tujuan penting dalam &lt;em&gt;Millenium Development Goals&lt;/em&gt; (MDGs).</description>
<guid isPermaLink="false">24@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Wanita Pekerja Seks</dc:subject>
<dc:date>2009-03-24T16:38:59+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>[Pendidikan HIV/AIDS]: Dampak Tenaga Kesehatan Atas Sterilisasi di Antara Perempuan HIV-positif di Brazil</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=23</link>
<description>[Author: Kristine Hopkins, Regina Maria Barbosa, Daniela Riva Knauth, Joseph E. Potter] - Tulisan ini membahas pilihan-pillihan reproduksi dan hasilnya pada perempuan HIV-positif di dua kota di Brazil. Penulis menggunakan 3 sumber data yang semuanya berasal dari perempuan yang melahirkan di rumah sakit umum (RSU): 1) catatan klinis dari 427 perempuan HIV-positif; 2) wawancara mendalam sebelum dan setelah melahirkan terhadap 60 perempuan HIv-positif&amp;rsquo; dan 3) survei prospektif yang dilakukan terhadap 363 perempuan dari masyarakat umum. Sampel HIV-positif dikumpulkan dari perempuan yang melakukan periksa kehamilan (prenatal) antara bulan Juli 1999 dan Juni 2000, dan survei masyarakat umum dilakukan terhadap perempuan yang memulai periksa kehamilan antara bulan April 1998 dan Juni 1999. Di antara perempuan dalam sample klinik, ditemukan perbedaan dramatis dalam proporsi sterilisasi setelah melahirkan (sterilized postpartum): 51% di Sao Paulo vs. 4% di Porto Alegre, dibandingkan dengan 3,4% di Sao Paulo vs 1,1% di Porto Alegre pada perempuan di masyarakat umum. Data kualitatif menunjukkan bahwa perempuan HIV-positif dalam studi ini memiliki preferensi yang kuat untuk tidak memiliki anak lagi di masa depan dan bahwa sterilisasi perempuan adalah jalan yang dipilih untuk mencapai tujuan tsb. Oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa perbedaan besar di atas terutama karena perempuan HIv-positif memiliki perbedaan akses ke sterilisasi di dua kota tsb.</description>
<guid isPermaLink="false">23@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Pendidikan HIV/AIDS</dc:subject>
<dc:date>2009-02-07T09:42:24+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>[Kebijakan]: &quot;Lipstick Girls&quot; dan &quot;FallenWomen&quot;: AIDS dan Pemikiran Konspirasi di Papua, Indonesia</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=22</link>
<description>[Author: Leslie Butt, University of Victoria] - Sebuah teori yang berkembang di Papua adalah mengkaitkan penyebaran pekerja seks dan HIV/AIDS dengan konspirasi pemerintah untuk menghapuskan penduduk asli Papua. Pemikiran konspirasi yang nyata oleh penduduk asli Papua berasal dari beragam bukti seperti legislasi pemisahan propinsi, pola industri seks, transformasi ekonomi, desas desus santet (&lt;em&gt;witchcraft&lt;/em&gt;) dan teknologi mobil terbaru.</description>
<guid isPermaLink="false">22@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Kebijakan</dc:subject>
<dc:date>2009-11-06T00:47:09+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>[Pendidikan HIV/AIDS]: Perkawinan bukanlah tempat yang aman: perkawinan heteroseksual dan kerentanan terkait HIV di Indonesia </title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=21</link>
<description>[Author: NADJA JACUBOWSKI] - Tulisan ini mengkaji kaitan antara perkawinan heteroseksual dan kerentanan perempuan terhadap HIV di Indonesia. Di negeri ini, hubungan atau relasi gender didominasi oleh kepercayaan dan praktik tradisional serta moralitas keagamaan. Data dari studi ini dikumpulkan melalui analisis dokumen dan penelitian arsip maupun wawancara terhadap para pakar. Temuan studi menunjukkan bahwa praktik tradisional seperti poligami, nikah dini dan kawin kontrak (mut&amp;rsquo;ah) memainkan peranan penting dalam meningkatkan kemungkinan perempuan tertular HIV dalam konteks masyarakat Indonesia. </description>
<guid isPermaLink="false">21@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Pendidikan HIV/AIDS</dc:subject>
<dc:date>2008-12-23T15:12:51+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>[Pendidikan HIV/AIDS]: Isu tanpa batas: HIV/AIDS di Asia Tenggara</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=20</link>
<description>[Author: Kristina Jönsson] - Laporan ini adalah sebuah upaya pertama untuk menganalisis hubungan antara strategi global, nasional dan local dalam memerangi HIV/AIDS seiring dengan meningkatnya globalisasi. Strategi-strategi macam apakah yang digunakan untuk melawan HIV/AIDS? Apa yang menyebabkan kebijakan tertentu lebih berhasil dari pada yang lain? Seperti apakah kapasitas negara dalam menangani isu HIV/AIDS? Dengan kata lain, kebijakan dan konteks pembuatan kebijakan yang berubah merupakan fokus dari analisis ini yang kemudian mempertanyakan tata kelola kesehatan dan peranan negara. Laporan ini memfokuskan pada HIV/AIDS di Asia Tenggara, sebuah wilayah dengan Negara-negara yang tinggi hingga rendah laju epidemic HIV dan yang berhasil kebijakan HIV/AIDSnya hingga yang kurang ada tindakan. Karena posisi geografis dan perbedaan keterpaparan terhadap HIV maka inti analisis ini bertolak dari pengalaman-pengalaman Thailand, Cambodia, Myanmar, Vietnam dan Laos.</description>
<guid isPermaLink="false">20@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Pendidikan HIV/AIDS</dc:subject>
<dc:date>2008-12-23T15:13:38+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>[Kebijakan]: Mengelola AIDS dalam dunia tanpa batas: Studi kasus dari Segitiga
Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapura</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=18</link>
<description>[Author: Johan Lindquist] - Ungkapan 'tanpa batas' amat sering digunakan dalam berbagai wacana tentang penyebaran HIV/AIDS maupun Segitiga Pertumbuhan (Growth Triangle), zona ekonomi transnasional yang idealnya mengikat pulau Batam (Indonesia), provinsi Johor (Malaysia) dan Singapura. Tulisan ini menyoroti bagaimana munculnya HIV sebagai sebuah masalah di SEgitiga Pertumbuhan dan di Batam khususnya, telah dibatasi sebagai sebuah problem dalam konteks Negara-bangsa (nation-state) ketimbang sebagai sebuah masalah transnasional yang menuntut kerjasama lintas batas. Sejalan dengan hal itu, tulisan ini memfokuskan pada upaya-upaya untuk menciptakan batas-batas di sekitar HIV, melalui identifikasi kelompok resiko, lokalisasi pelacur dan penyebaran kondom. Secara khusus menyoroti hubungan antara Batam dan Singapura, dan bagaimana organisasi non-pemerintah (LSM) dan pemerintah menangani isu-isu HIV/AIDS di kedua lokasi. Lebih jauh lagi, artikel ini memberikan perhatian lebih mendalam terhadap bentuk-bentuk logika budaya dan ekonomi yang seringkali
aneh/asing terhadap model-model pencegahan. Namun hal ini justru menimbulkan pertanyaaan-pertanyaan penting mengenai masalah pencegahan HIV dan kerjasama lintas-batas, serta pengaturan dan formasi dari jenis-jenis batas baru dalam sebuah 'dunia tanpa batas.'&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata kunci: HIV/AIDS, Batam, Indonesia, Singapura. &lt;br /&gt;

Pengirim: Irwan Hidayana, ihidayana@hotmail.com</description>
<guid isPermaLink="false">18@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Kebijakan</dc:subject>
<dc:date>2009-11-04T12:13:03+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>[Kebijakan]: Etika seksual dari tes HIV dan hak-hak dan tanggungjawab dari pasangan</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&amp;file=abstract&amp;idabstract=17</link>
<description>[Author: Ruth Dixon-Mueller] - Wacana dari kebanyakan komunitas AIDS internasional mendukung hak-hak individu di negara-negara berpenghasilan rendah untuk &amp;quot;berkata tidak&amp;quot; terhadap tes HIV rutin di pelayanan-pelayanan kesehatan. Jika dites dan diketahui positif, mereka berhak untuk tidak memberitahukan pasangan seksualnya apabila pengungkapan (disclosure) status HIV dapat mengakibatkan dampak buruk yang serius terhadap dirinya. Studi ini berargumen bahwa hak individu untuk menolak testing berarti mengabaikan hak pasangan seksualnya - laki-laki atau perempuan, tetap atau casual - akan informasi tentang resiko kesehatan yang mungkin mereka hadapi ketika memasuki atau melanjutkan sebuah relasi seksual atau terlibat dalam tindakan seksual tertentu. Apabila, sebagaimana dideklarasikan oleh PBB, semua orang memiliki hak untuk memutuskan secara bebas dan bertanggungjawab atas hal-hal yang berkaitan dengan seksualitasnya, -- termasuk kesehatan seksual dan reproduksi, bebas dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan - maka semua orang mempunyai hak dan tanggungjawab untuk mengetahui serostatus diri sendiri dan pasangannya dan melindungi diri mereka sendiri dan pasangannya dari infeksi menular seksual (IMS). Dukungan dari aktivis AIDS bagi kebijakan tes IMS/HIV rutin, konseling dan pengungkapan serostatus antara kedua pasangan dalam sebuah relasi seksual akan membantu untuk mempromosikan etika hak-hak yang setara dan tanggungjawab bersama bagi perilaku seksual dan akibat-akibatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengirim: Irwan Hidayana, ihidayana@hotmail.com </description>
<guid isPermaLink="false">17@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Kebijakan</dc:subject>
<dc:date>2009-03-14T10:55:22+07:00</dc:date>
</item>

</channel>
</rss>
