<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?>
<rss version="2.0" 
  xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
  xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
  xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
  xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#">

<channel>
<title>Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community</title>
<link>http://www.aids-ina.org</link>
<description>Sharing Knowledge and Facilitating Network for HIV and AIDS in Indonesia</description>
<dc:language>en-us</dc:language>
<dc:creator>administrator@aids-ina.org</dc:creator>
<dc:date>2013-05-22T19:42:27+07:00</dc:date>

<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
<sy:updateBase>2013-05-22T19:42:27+07:00</sy:updateBase>

<image>
<title>Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community</title>
<link>http://www.aids-ina.org</link>
<url>http://www.aids-ina.org/files/images/AIDsina.jpg</url>
<width>160</width>
<height>160</height>
<description>Sharing Knowledge and Facilitating Network for HIV and AIDS in Indonesia</description>
</image>
<item>
<title>1 dari 3 orang terinfeksi HIV mengalami stigma dan diskriminasi dilingkungannya</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=5683</link>
<description>&lt;strong&gt;Aang Sutrisna&lt;/strong&gt;, 06 Desember 2011
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Akhirnya kemarin kasus perlakuan stigma dan diskriminasi yang dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan di Jakarta dan terjadi pada seorang anak dimana orang tuanya terinfeksi HIV bisa mendapatkan penyelesaian yang elegan. Lembaga pendidikan tersebut akhirnya mau mengakui kekeliruannya dan meminta maaf secara terbuka pada orang tua dari anak tersebut dan menerima kembali anak tersebut. Sungguh sebuah momentum yang sangat berharga bagi upaya-upaya pengurangan sikap stigma dan diskriminasi terhadap orang terinfeksi HIV
Dalam budaya masyarakat yang masih memegang nilai-nilai luhur tradisional, ada pepatah yang mengatakan bahwa seseorang akan menuai hasil dari apa yang telah diperbuatnya. Pepatah yang cukup populer dan terlanjur mengakar tersebut kemudian berkembang menjadi wacana seputar adanya hukum karma. Tidak heran jika ada seseorang yang tertimpa suatu musibah akibat berperilaku buruknya, maka banyak orang cenderung mengatakan bahwa hal itu adalah buah dari perilaku buruknya, hukum karma telah berlaku padanya. Pandangan tersebut cenderung menggiring manusia untuk mudah memberi vonis berupa stigma tertentu pada seseorang yang pada akhirnya akan melahirkan sikap diskriminasi pada orang tersebut. UNAIDS mendefiniskan stigma dan diskriminasi terkait dengan HIV sebagai ciri negatif yang diberikan pada seseorang sehingga menyebabkan tindakan yang tidak wajar dan tidak adil terhadap orang tersebut berdasarkan status HIV-nya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ada dua hal penting yang bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa telah terjadi stigma dan diskriminasi terhadap orang terinfeksi HIV. Pertama, pihak yang menjatuhkan stigma ataupun diskriminasi kepada seorang yang terinfeksi HIV, harus mengetahui bahwa orang tersebut terinfeksi HIV. Kedua, stigma ataupun diskriminasi yang dilakukan memang karena status orang tersebut sebagai orang terinfeksi HIV, bukan karena sebab lainnya. Stigma dan diskriminasi juga dapat timbul dari perasaan takut yang diakibatkan kurangnya pengetahuan tentang cara penularan dan pemahaman yang salah tentang HIV.</description>
<guid isPermaLink="false">5683@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>1 dari 3 orang terinfeksi HIV mengalami stigma dan diskriminasi dilingkungannya</dc:subject>
<dc:date>2011-12-19T15:29:17+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Dampak HIV Pada Pendidikan Anak di Rumah Tangga Orang Dengan HIV</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=5682</link>
<description>&lt;strong&gt;Aang Sutrisna&lt;/strong&gt;, 06 Desember 2011
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pentingnya pendidikan sebagai dasar utama pencegahan HIV menyebabkan semakin besarnya kebutuhan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan.  Pada tahun 2000, sebuah terminologi baru di dalam pendidikan diperkenalkan, yaitu &amp;lsquo;education vaccine&amp;rsquo;. Pendidikan dilihat sebagai ujung tombak upaya pencegahan penyebaran HIV (World Bank, 2002; Boler Tania and Kate Carroll, undated; Vandemoortele, Jan and Enrique Delamonica, 2000).  Namun, fakta menunjukkan hal yang menyedihkan. Walaupun pendidikan dipercaya bisa mengurangi HIV, banyak ODHA terpaksa harus mengurangi bahkan berhenti menjalani pendidikannya karena HIV dan AIDS.  Secara global , HIV dan AIDS dipandang sebagai tantangan yang sangat besar dalam sektor pendidikan yang masih merupakan salah satu faktor penghambat pencapaian MDG untuk pendidikan bagi semua pada tahun 2015. (UNESCO, 2001; Wijngaarden Jan and Sheldon Shaeffer, 2004).
HIV dan AIDS memberikan dampak negatif terhadap akses dan kualitas pendidikan yang mungkin didapatkan oleh seorang anak. Sering kali anak-anak dari rumah tangga ODHA terpaksa untuk mangkir dari sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga atau untuk ikut membantu merawat anggota keluarga yang sakit. Biaya untuk pendidikan anak sering juga dikorbankan untuk pemenuhan kebutuhan pengobatan dan perawatan anggota keluarga yang sakit. Dari segi kualitas, selain anak tidak bisa berkonsentrasi sekolah karena permasalahan dan kondisi yang dia alami, sering juga anak harus menghadapi kondisi tidak nyaman karena masih besarnya stigma di masyarakat terkait infeksi HIV yang diderita salah seorang anggota keluarganya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Survei Dampak Sosial Ekonomi Pada Individu dan Rumah Tangga Dengan HIV di 7 provinsi di Indonesia tahun 2009 yang dilakukan oleh BPS dan JOTHI, dimana 996 rumah tangga (Ruta) dengan salah satu atau lebih anggota rumah tangganya (ART) terinfeksi HIV dan 996 ruta tanpa orang terinfeksi HIV sebagai ruta kontrol berpartipasi, menunjukan adanya dampak nyata HIV terhadap pendidikan. Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah, dimana persentase anggota rumah tangga kelompok umur 13-15 Thn (Setingkat SLTP), 16-18 Thn (SLTA) dan 19-24 Thn (Perguruan Tinggi) di Rumah Tangga Dengan HIV jauh lebih rendah dibanding Rumah Tangga Non-HIV.
Jurang perbedaan persentase partisipasi sekolah antara rumah tangga dengan HIV dan Non-HIV semakin lebar seiring dengan semakin tingginya tingkat pendidikan. Hal ini dapat dilihat pada disamping dimana persentase perbedaan partisipasi sekolah antara rumah tangga dengan HIV dan Non-HIV pada tingkat SLTP adalah 10% meningkat menjadi 19% pada tingkat SLTA dan 50% pada pendidikan yang lebih tinggi dari SLTA. Sehingga dapat disimpulkan bahwa anak-anak dari rumah tangga Non-ODHA cenderung memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dari pada keluarga ODHA.  Padahal tingkat pendidikan berkorelasi positif dengan kualitas hidup, makin tinggi pendidikan seseorang maka idealnya makin berkualitas hidupnya karena pengetahuan dan wawasan luas yang dimilikinya.
Keberadaan anggota rumah tangga yang terinfeksi HIV sedikit banyak telah mempengaruhi kemampuan ekonomi rumah tangga, akhirnya mungkin anak-anak usia sekolah menjadi putus sekolah karena orangtua mereka tidak mampu membayar biaya sekolah mereka sebagai akibat menurunnya pendapatan keluarga atau pengeluaran kesehatan yang meningkat. Anak-anak, terutama perempuan, dapat ditarik keluar dari sekolah untuk merawat orang sakit anggota keluarga atau untuk menambah pendapatan keluarga.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Selain berdampak pada tingginya angka putus sekolah, infeksi HIV juga berdampak pada rendahnya tingkat kehadiran anak di sekolah. Persentase anak yang sering bolos sekolah dari anggota rumah tangga yang masih sekolah di rumah tangga dengan HIV jauh lebih tinggi (17%) dibanding rumah tangga Non-HIV (7%). Pengalaman pernah tidak naik kelas dari anak yang masih sekolah pada rumah tangga dengan HIV (16%) juga lebih tinggi dibanding rumah tangga Non-HIV. Hal ini bisa saja berkaitan dengan tingkat sering tidak masuk sekolah yang lebih tinggi pada rumah tangga dengan HIV. Selain itu, pengalaman pindah sekolah pada anak usia yang masih sekolah dari rumah tangga dengan HIV (16%) lebih dari 2 kali lipat dari rumah tangga Non-HIV (7%).</description>
<guid isPermaLink="false">5682@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Dampak HIV Pada Pendidikan Anak di Rumah Tangga Orang Dengan HIV</dc:subject>
<dc:date>2011-12-19T15:26:45+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Duh 1 dari 2 Siswa SLTA etnis Papua di Kab. Mimika pernah berhubungan seks</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=5681</link>
<description>&lt;strong&gt;Aang Sutrisna&lt;/strong&gt;, 05 Desember 2011
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Hampir semua responden Survei Perilaku Siswa SLTA di Kabupaten Mimika pernah mendengar tentang HIV dan AIDS,  dan juga pernah mengikuti berbagai penyuluhan terkait program pengendalian HIV di sekolahnya. Hal ini sejalan dengan hasil Focus Group Discussion (FGD) dengan  para guru yang intinya menyatakan bahwa penyuluhan HIV sudah cukup intensif dilakukan dilingkungan sekolah. Selain itu, Guru juga merupakan sumber informasi tentang HIV dan AIDS yang paling banyak disebutkan oleh responden. Temuan ini berbeda dengan hasil survei perilaku pada siswa SLTA di 6 kota lainnya (Yogyakarta,  Tangerang,  Pontianak, Samarinda, Jakarta           dan Surabaya) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2007-2009, dimana televisi merupakan sumber informasi yang paling sering disebutkan oleh respondennya.
Program penyuluhan terbukti mampu memberikan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap tingkat pengetahuan komprehensif tentang cara penularan dan pencegahan HIV. Hal ini dibuktikan oleh rasio odds 10.1 dengan 95% CI 3.2 &amp;ndash; 32.2 dan nilai p &amp;lt;0.01 yang bisa diartikan bahwa responden yang pernah mengikuti program penyuluhan 10 kali lebih mungkin untuk memiliki pengetahuan komprehensif. Walaupun demikian 1 dari 2 responden masih memiliki pemahaman yang keliru tentang cara pencegahan dan penularan HIV.
Banyaknya responden yang memiliki pemahaman keliru tentang cara penularan dan pencegahan HIV, sedikit banyak berkontribusi pada tingginya perilaku stigma pada ODHA yang mencapai 35% responden. Indikasi hubungan atau pengaruh tingkat pengetahuan komprehensif dengan perilaku stigma ditunjukan oleh hasil analisis regresi yang signifikan secara statistik (Rasio Odd 2.4; 95% CI 1.3 &amp;ndash; 4.4; nilai p = 0.008). Persentase perilaku stigma tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil survei perilaku di 6 kota lainnya yang berkisar antara 28% - 49%.
Persentase responden Survei Perilaku Siswa SLTA di Kabupaten Mimika yang mengaku pernah berhubungan seks (26%) 2.5 &amp;ndash; 9 kali lebih tinggi dibanding hasil survei perilaku pada siswa SLTA di 6 kota lainnya yang berkisar antara 3% (Tanggerang) - 11% (Surabaya). Apalagi jika dibandingkan dengan persentase responden etnis/suku Papua yang pernah berhubungan seks (41%) maka perbedaannya menjadi yaitu 4 &amp;ndash; 12 kali lebih tinggi. Selain itu, 1 dari 2 reponden yang mengaku pernah berhubungan seks juga mengaku melakukannya dengan lebih dari 1 pasangan seks dalam 1 tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa SLTA pada umumnya dan siswa SLTA etnis/suku Papua di Kabupaten Mimika jauh lebih berisiko untuk terinfeksi HIV ataupun menghadapi masalah kesehatan reproduksi lainnya dibanding siswa SLTA di kota-kota lainnya dimana survei perilaku sejenis pernah dilakukan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Alasan berhubungan seks yang sering disebutkan oleh siswa SLTA laki-laki peserta FGD adalah karena ingin mencoba dan mengikuti teman sebaya, sehingga banyak juga diantaranya yang berhubungan seks dengan Wanita Pekerja Seks karena tidak mempunyai pacar atau pacarnya tidak mau diajak berhubungan seks. Sedangkan pada siswa SLTA perempuan peserta FGD, alasan yang diungkapkan cukup mencengangkan karena lebih banyak yang melakukan hubungan seks untuk mendapatkan uang dan melakukannya dengan laki-laki yang lebih tua usianya seperti Karyawan, Supir Taxi dan juga TNI/Polisi. Temuan ini perlu mendapat perhatian yang serius dari semua pihak karena risiko terinfeksi HIV perempuan muda yang berhubungan seks dengan laki-laki yang jauh lebih tua menjadi jauh lebih tinggi dibanding dengan laki-laki sebaya.
Alasan berhubungan seks responden survei perilaku siswa SLTA laki-laki di Kabupaten Mimika sejalan dengan temuan dari Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) yang dilakukan Badan Pusat Statistik tahun 2007, dimana alasan berhubungan seks 1 dari 2 laki-laki usia 15-24 tahun dan belum menikah adalah karena ingin tahu. Sedangkan alasan berhubungan seks responden perempuan berbeda dengan hasil SKRRI, dimana pada responden SKRRI alasan sebagian besar responden perempuan berhubungan seks adalah karena terjadi begitu saja (38%) dan karena dipaksa oleh pasangannya (21%).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Beberapa faktor yang mempengaruhi riwayat hubungan seks responden Survei Perilaku Siswa SLTA di Kabupaten Mimika adalah riwayat menonton adegan/film porno, status tinggal dengan orang tua, serta pengetahuan komprehensif tentang cara pencegahan dan penularan HIV. Hasil survei kuantitatif tersebut didukung dengan temuan dari FGD dengan siswa/siswi SLTA yang menyatakan sering melakukan hubungan seks sambil atau setelah menonton film porno  dan tempat melakukan hubungan seks yang paling sering  adalah tempat kos yang diistilahkan dengan &amp;ldquo;Mabes&amp;rdquo;.
Konsistensi penggunaan kondom dalam hubungan seks 1 tahun terakhir dari responden masih sangat rendah, dimana alasan yang paling sering diungkapkan untuk tidak menggunakan kondom adalah karena sayang/cinta pasangannya dan malu untuk membeli kondom. Walaupun demikian jika dibandingkan dengan hasil survei perilaku pada siswa SLTA di 6 kota lainnya (3%-18%), tingkat konsistensi penggunaan kondom dalam hubungan seks 1 tahun terakhir siswa SLTA di Kabupaten Mimika termasuk kedalam kelompok yang tinggi.
Rendahnya tingkat penggunaan kondom dan tingginya frekuensi hubungan seks responden Survei Perilaku Siswa SLTA di Kabupaten Mimika menyebabkan tingginya tingkat kehamilan yang tidak diinginkan dari responden perempuan maupun pasangan responden laki-laki. Persentase responden perempuan yang pernah mengalami kehamilan yang  tidak diinginkan tersebut bahkan hingga hampir 10 kali lebih tinggi dibanding hasil SKRRI pada perempuan usia 15-24 tahun yang belum menikah.
Analisis regresi berganda beberapa variabel yang diduga berpengaruh terhadap kehamilan yang tidak diinginkan seperti status tinggal dengan orang tua, pengetahuan komprehensif tentang cara penularan dan pencegahan HIV, cakupan program penyuluhan dan suku/etnis orang tua menunjukan bahwa hanya suku/etnis yang berpengaruh secara statistik. Responden atau pasangan responden suku/etnis Papua yang pernah berhubungan seks 2 &amp;ndash; 8.5 kali lebih mungkin hamil dibanding responden Non-Papua (Rasio Odd 4.3; 95% CI 2.1 &amp;ndash; 8.5; nilai p &amp;lt; 0.001). Bahkan responden atau pasangan responden suku/etnis Papua yang hamil 8 kali lebih banyak yang meneruskan kehamilannya hingga melahirkan dibanding responden Non-Papua, yang juga berarti lebih banyak responden suku/etnis Papua yang terpaksa tidak melanjutkan sekolahnya akibat hamil karena dari hasil FGD dengan para guru diketahui bahwa sekolah akan mengeluarkan siswi yang hamil.</description>
<guid isPermaLink="false">5681@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Duh 1 dari 2 Siswa SLTA etnis Papua di Kab. Mimika pernah berhubungan seks</dc:subject>
<dc:date>2011-12-19T15:23:33+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Kinerja = Rc x C x E x V x Pf x Rw</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=5142</link>
<description>&lt;strong&gt;Aang Sutrisna&lt;/strong&gt;, 08 November 2011
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Bincang-bincang sore dengan teman dari Papua yang sedang menyelesaikan S2 di FKM-UI tentang Performance atau Kinerja KPAD didaerahnya membuat saya tergugah untuk melihat kembali referensi lama yang masih sangat relevan. Referensi berjudul &amp;quot;Managing Performance Managing People&amp;quot; yang ditulis oleh M Ainsworth, N Smith dan A Millership mengatakan bahwa kinerja bisa digambarkan dengan rumus P = Rc x C x E x V x Pf x Rw
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dimana P sendiri bisa berarti Productivity, Performance atau Perhaps  yang dalam bahasa kita sering disebut sebagai Kinerja seharusnya didefinisikan dan diukur secara tepat. Apakah P = Produktivitas (dapat dihitung secara kuantitatif), atau P = Performance yang biasanya merupakan perubahan perilaku/sistem (seharusnya bisa dinilai secara kuantitatif maupun kualitatif), ataukah P = Perhaps yang mengandalkan penilaian yang subjektif. Ditempat kerja saya sekarang, penilaian subjektif tersebut menggunakan istilah keren &amp;quot;well-informed expert judgement&amp;quot;. Apapun itu namanya, pada dasarnya kinerja harus bisa diukur. </description>
<guid isPermaLink="false">5142@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Kinerja = Rc x C x E x V x Pf x Rw</dc:subject>
<dc:date>2011-11-08T14:41:40+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Jumlah Desa dengan Kasus Penyalahgunaan Napza di Sulawesi Selatan Meningkat 4 Ka</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=5114</link>
<description>&lt;strong&gt;Aang Sutrisna&lt;/strong&gt;, 02 November 2011
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Melanjutkan posting sebelumnya tentang data dari 3 pertanyaan PODES 2008 yang sebenarnya bisa bermanfaat dalam proses perencanaan program pengendalian HIV dan penyalahgunaan Narkotika dan Zat Adiktif lainnya (Napza). Pada posting kali ini saya mencoba melakukan sedikit analisis terhadap data dari 2 pertanyaan terkait penyalahgunaan Napza yaitu apakah didesa/kelurahan anda pernah terjadi kasus penyalahgunaan Napza dan kasus peredaran Napza dalam 1 tahun terakhir.
</description>
<guid isPermaLink="false">5114@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Jumlah Desa dengan Kasus Penyalahgunaan Napza di Sulawesi Selatan Meningkat 4 Ka</dc:subject>
<dc:date>2011-11-03T14:28:33+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>1 dari 3 kelurahan di Kota Tarakan dan Sorong memiliki tempat transaksi seks</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=5113</link>
<description>&lt;strong&gt;Aang Sutrisna&lt;/strong&gt;, 01 November 2011
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pengumpulan data Potensi Desa (PODES) 2011 baru saja usai dilakukan BPS, dan katanya hasil pendataan tersebut bisa diakses untuk umum awal Januari 2012. Mudah-mudahan bisa tepat waktu dan segera bisa dimanfaatkan oleh berbagai pihak.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pendataan PODES telah dilaksanakan sejak tahun 1980 bersamaan dengan penyelenggaraan Sensus Penduduk 1980. Pengumpulan data PODES biasanya dilakukan sebanyak 3 kali dalam kurun waktu 10 tahun, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Sensus Penduduk, Sensus Pertanian, dan Sensus Ekonomi. Namun demikian sejak tahun 2008, pendataan PODES dilaksanakan secara independen dari rangkaian kegiatan sensus. Data hasil pendataan PODES hingga saat ini merupakan satu-satunya sumber data tematik berbasis wilayah yang mampu menggambarkan potensi suatu wilayah setingkat desa di seluruh Indonesia.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Bagi pelaku program pengendalian HIV hasil pendataan PODES juga bisa sangat berguna, dimana setidaknya ada 3 pertanyaan penting didalam pendataan tersebut yang bisa bermanfaat untuk membantu memilih lokasi prioritas, yaitu pertanyaan  tentang apakah ada tempat transaksi seks komersial serta kejadian penyalahgunaan narkoba dan peredaran narkoba dalam 1 tahun terakhir di satu desa. </description>
<guid isPermaLink="false">5113@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>1 dari 3 kelurahan di Kota Tarakan dan Sorong memiliki tempat transaksi seks</dc:subject>
<dc:date>2011-11-03T14:23:26+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Pengetahuan Komprehensif HIV Orang Muda Indonesia Meningkat 15 kali lipat? </title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=5112</link>
<description>&lt;strong&gt;Aang Sutrisna&lt;/strong&gt;, 31 Oktober 2011
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu indikator pencapaian MDG tujuan 6A (mengendalikan penyebaran HIV dan mulai menurunkan kasus baru pada 2015) adalah tingkat pengetahuan komprehensif tentang HIV dan AIDS pada orang muda (15-24 tahun). Menurut buku petunjuknya, pengetahuan komprehensif yang dimaksud adalah tahu bahwa dengan menggunakan kondom pada hubungan seks dan saling setia dengan 1 pasangan seks bisa mengurangi risiko tertular HIV serta HIV tidak menular melalui gigitan nyamuk ataupun menggunakan peralatan makan/minum bersama dengan orang yang sudah terinfeksi dan tahu bahwa orang yang terlihat sehat bisa saja sudah terinfeksi HIV.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita melihat laporan perkembangan yang dirilis oleh United Nation tahun 2011 rerata pencapaiannya secara keseluruhan masih cukup rendah yaitu sekitar 33% pada laki-laki dan 20% pada perempuan yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV dan AIDS. Dan, jika kita lihat kembali laporan perkembangan yang dirilis oleh UN pada tahun 2009, sebenarnya bisa kita katakan tidak ada peningkatan yang berarti untuk tingkat pengetahuan komprehensif HIV dan AIDS pada orang muda. Karena pada tahun 2009 persentasenya adalah 31% pada laki-laki dan 19% pada perempuan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana dengan pencapaian indikator tersebut di negara kita tercinta ini? </description>
<guid isPermaLink="false">5112@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Pengetahuan Komprehensif HIV Orang Muda Indonesia Meningkat 15 kali lipat? </dc:subject>
<dc:date>2011-11-03T14:17:06+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Ladang bagi Kebijakan yang membawa Kebajikan</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=2854</link>
<description>&lt;strong&gt;Oleh: Ciptasari Prabawanti&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;Praktisi di bidang HIV dan AIDS, Lingkar Studi Perubahan Perilaku&lt;br /&gt;
&lt;/em&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang anak belajar berjalan diawali dari mendongakkan kepala, mengangkat badan, merangkak, merambat, melangkah, jatuh, melangkah lagi, hingga akhirnya berjalan, bahkan berlari.  
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sebuah komunitas istimewa melakukan hal serupa.  Mereka belajar bagaimana mengelola masyarakat agar mampu menjaga &amp;rsquo;kesehatan&amp;rsquo; diri.  Merapatkan barisan, membagi tugas, mengidentifikasi masalah, membangun kesadaran diri, membangun komitmen, membuat kesepakatan, menyusun peraturan dan menerapkannya, melakukan kontrol, mengevaluasi dan mencoba kembali, begitu seterusnya.  Bukan proses dan hasil yang serta merta sempurna, namun tanpa disadari, mereka telah menjalankan fungsi-fungsi esensial dalam kesehatan masyarakat.</description>
<guid isPermaLink="false">2854@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Ladang bagi Kebijakan yang membawa Kebajikan</dc:subject>
<dc:date>2010-02-22T18:04:33+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Pendekatan Multilevel dalam Upaya Penanggulangan IMS di Kalangan PSK</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=2711</link>
<description>&lt;strong&gt;Oleh: Ciptasari Prabawanti&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;Praktisi di bidang HIV dan AIDS, Lingkar Studi Perubahan Perilaku&lt;/em&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Awalnya hanyalah upaya sederhana, memberikan edukasi secara individu kepada setiap pekerja seks di lokasi hiburan.  Kalau pun lebih banyak yang berkumpul, terjadi dalam kelompok kecil saja, sebanyak 5 hingga 10 orang.  Kegiatan semacam ini berlangsung dalam waktu cukup lama.  Hingga 6 atau 7 tahun yang lalu, kegiatan semacam ini masih diyakini mampu membuat perubahan perilaku pada mereka yang diedukasi.  Hingga akhirnya disadari, dibutuhkan upaya menyeluruh yang terencana agar perubahan perilaku pada Pekerja Seks Komersial terjadi.</description>
<guid isPermaLink="false">2711@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Pendekatan Multilevel dalam Upaya Penanggulangan IMS di Kalangan PSK</dc:subject>
<dc:date>2010-01-26T17:04:14+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Program Pencegahan HIV Pada Pria berisiko Tinggi Intervensi ke Sopir Truk</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=1256</link>
<description>&lt;strong&gt;Oleh:&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Henri Puteranto,&lt;/em&gt; &lt;/strong&gt;penulis adalah penggiat di isu HIV dan AIDS, anggota Lingkar Diskusi Perubahan Perilaku
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pendahuluan
&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Data Survielan Terpadu Biologis Perilaku HIV/IMS  (STBP) tahun 2007 oleh Depkes dan BPS menunjuk tingginya kasus infeksi menular seksual (IMS) di kalangan sopir truk. Sopir truk menjadi kelompok yang paling rentan dibanding dengan kelompok pekerjaan lain terhadap bahaya HIV dan AIDS. Situasi ini pernah ditulis menjadi bahan penelitian yang mengenai prilaku seksual oleh Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan bersama Ford Foundation pada tahun 1999. Penelitian tersebut mengungkapkan kerentanan perilaku seksual para sopir truk selama mengendarai truknya. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah mengapa sopir truk menjadi kelompok pekerja yang paling rentan, kategori sopir truk mana yang mempunyai perilaku rentan terhadap penularan penyakit ini, serta respon seperti apa yang perlu dilakukan.</description>
<guid isPermaLink="false">1256@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Program Pencegahan HIV Pada Pria berisiko Tinggi Intervensi ke Sopir Truk</dc:subject>
<dc:date>2009-06-17T02:33:44+07:00</dc:date>
</item>

</channel>
</rss>
