<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?>
<rss version="2.0" 
  xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
  xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
  xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
  xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#">

<channel>
<title>Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community</title>
<link>http://www.aids-ina.org</link>
<description>Sharing Knowledge and Facilitating Network for HIV and AIDS in Indonesia</description>
<dc:language>en-us</dc:language>
<dc:creator>administrator@aids-ina.org</dc:creator>
<dc:date>2013-05-22T22:35:06+07:00</dc:date>

<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
<sy:updateBase>2013-05-22T22:35:06+07:00</sy:updateBase>

<image>
<title>Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community</title>
<link>http://www.aids-ina.org</link>
<url>http://www.aids-ina.org/files/images/AIDsina.jpg</url>
<width>160</width>
<height>160</height>
<description>Sharing Knowledge and Facilitating Network for HIV and AIDS in Indonesia</description>
</image>
<item>
<title>Penghuni LP Narkoba Cirebon Rutin Cek Kesehatan</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7625</link>
<description>&lt;strong&gt;TRIBUNNEWS.COM&lt;/strong&gt;, 22 Mei 2013 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;CIREBON&lt;/strong&gt; - Dari 927 orang penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Narkotika Cirebon, sebanyak 38 orang d iantaranya mengidap HIV/ AIDS, tiga diantaranya AIDS.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sudah dilakukan theraphi kepada 11 orang dan untuk mengetahui atau memastikan penderita kita selalu melakukan skrining massal,&amp;quot; tutur Kepala LP Narkotika Cirebon Anas kepada rombongan press tour Kementerian Kesehatan, Selasa (21/5/2013).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sesuai dengan aturan baku, setiap ada orang baru yang masuk ke LP menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kondisinya apakah berstatus HIV AIDS atau Tuberkolosis (TB).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Untuk masalah ini, LP telah mengandeng LSM yang peduli terhadap ODHA yang selalu datang untuk melakukan pemeriksaan ataupun melakukan penyuluhan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski poliklinik sederhana tetap kami melakukan upaya preventif dengan adakan penyuluhan, morning meeting tiap blok. Kita ingin tahu masalah. Penyuluhan kehiatan sebaya seminggu 2 kali. Kita juga membentuk pendamping minum obat untuk TB,&amp;quot; katanya. </description>
<guid isPermaLink="false">7625@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Penghuni LP Narkoba Cirebon Rutin Cek Kesehatan</dc:subject>
<dc:date>2013-05-22T11:59:39+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>PBB: Kematian akibat AIDS Menurun, Pengobatan Meningkat di Afrika</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7624</link>
<description>&lt;strong&gt;Kompas&lt;/strong&gt;, 22 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Laporan terbaru PBB mengatakan kematian akibat AIDS di Afrika menurun, sementara jumlah orang Afrika yang mendapat pengobatan untuk HIV &amp;ndash; virus penyebab AIDS &amp;ndash; terus meningkat.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Laporan oleh Program Gabungan PBB Untuk HIV/AIDS mengatakan jumlah orang di Afrika yang mendapat obat-obat anti-retroviral naik dari hampir satu juta tahun 2005 menjadi lebih dari tujuh juta orang tahun lalu.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Mereka mengatakan kematian akibat AIDS turun hampir sepertiga dalam periode tersebut, dan jumlah pengidap HIV baru juga menurun.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Banyak negara di Afrika telah mengambil berbagai langkah dalam satu dekade ini guna memastikan para pengidap HIV mendapat akses ke pengobatan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Laporan itu, yang dirilis Selasa, mengatakan Afrika masih mengalami wabah HIV paling parah dibanding kawasan-kawasan lain di dunia. Dikatakan, hampir 70 persen pengidap HIV di dunia tinggal di benua itu.</description>
<guid isPermaLink="false">7624@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>PBB: Kematian akibat AIDS Menurun, Pengobatan Meningkat di Afrika</dc:subject>
<dc:date>2013-05-22T11:55:00+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Penderita HIV/AIDS di Magelang Capai 49 Orang</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7623</link>
<description>&lt;strong&gt;Suaramerdeka.com&lt;/strong&gt;, 21 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;MAGELANG&lt;/strong&gt; - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Magelang saat ini mencapai 49 orang. &amp;quot;Itu yang tercatat nama maupun alamatnya. Sesuai aturan kami tidak boleh menyebutkan identitasnya termasuk jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan,&amp;quot; kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Magelang, Drs Surasmono MM, Selasa (21/5).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Namun berdasar asumsi dari Komisi Penanggulangan AIDS Pusat, jumlah penderita di kota ini mencapai 200 orang. &amp;quot;Mereka punya hitungan sendiri, bagaimana cara menghitungnya kami tidak tahu. Yang jelas informasi ini merupakan peringatan dan harus diantisipasi,&amp;quot; tutur mantan Sekda Kota Magelang tersebut.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dia mengaku tidak tahu strata sosial penderita maupun apakah setiap tahun jumlah penderita meningkat atau tidak. &amp;quot;Yang jelas penularannya disebabkan karena hubungan seks bebas berganti-ganti pasangan, transfusi darah, jarum suntik yang digunakan bergantian oleh pecandu narkoba dan air susu ibu,&amp;quot; ujarnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Selain itu, suami yang menderita HIV/AIDS kemudian hubungan intim dengan istrinya dan mengandung, maka anak dalam kandungan juga tertular. &amp;quot;Yang mengerikan seperti itu. Cabang bayi yang tidak berdosa terkena HIV/AIDS karena perbuatan ayahnya. Juga ibu terkena kemudian memberi air susu ibu maka bayinya akan tertular,&amp;quot; ungkapnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Untuk mengobati para penderita, lanjut Surasmono, pihaknya mengantar penderita berobat ke RSUD Temanggung, RS Dr Sardjito Yogyakarta dan RS di Ambarawa.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Rumah sakit di Kota Magelang belum ada pengobatan HIV/AIDS. Kami sedang mengusulkan ke Pemprov Jateng dan pemerintah pusat supaya RSU Tidar dan RS Tentara dr Sudjono dilengkapi fasilitas pengobatan penyakit tersebut,&amp;quot; terangnya sambil berharap usulan itu secepatnya bisa direalisasi, sehingga penderita tidak perlu berobat ke luar kota.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dia menambahkan, HIV adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh. Penderita rutin diberi obat supaya tidak berkembang menjadi AIDS. Namun penyakit itu tidak bisa disembuhkan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Orang yang punya risiko tinggi terkena HIV, antara lain mereka yang sering ganti pasangan dan pecandu narkoba, sebaiknya periksa. Pemeriksaan bisa di RSU Tidar, Puskesmas Magelang Selatan maupun Balai Pengobatan Paru-Paru di Magelang. Rahasia dijamin oleh instansi yang memeriksanya,&amp;quot; tegasnya.</description>
<guid isPermaLink="false">7623@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Penderita HIV/AIDS di Magelang Capai 49 Orang</dc:subject>
<dc:date>2013-05-22T11:48:52+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Pulang dari Malaysia, N Malah Tertular HIV dari Suami</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7622</link>
<description>&lt;strong&gt;Liputan6.com&lt;/strong&gt;, 21 Mei 2013 
&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;
Indramayu&lt;/strong&gt;: Wanita N (33) tidak pernah menyangka kalau dirinya bisa terinfeksi HIV akibat ulah suaminya. N yang bekerja sebagai buruh cuci hanya bisa menerima takdirnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Tahun 2009, N pulang ke Indonesia dengan alasan ingin istirahat dan membantu keluarga, setelah sebelumnya menjadi tenaga kerja di Malaysia. Tapi, kepulangannya itu justru membuatnya terinfeksi HIV/ AIDS.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya sungguh tidak pernah menyangka bisa seperti ini. Saya pergi jadi TKW di Malaysia sejak 2006-2009. Saya sengaja pulang untuk istirahat sekitar 6 bulan,&amp;quot; jelas N saat ditemui Liputan6.com bersama penggiat HIV/ AIDS di Kantor Bupati Indramayu, Jawa Barat, Selasa (21/5/2013).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Menurut N, tahun 2009, suaminya terkena TB (tuberkulosis). Tapi setelah 3 bulan tidak ada perubahan dan berobat ke ke rumah sakit, suami divonis mengidap HIV AIDS stadium 4,&amp;quot; jelasnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Mengetahui dirinya tertular, N sempat putus asa dan marah pada suami. Penyakitnya membuat N tidak bisa lagi berangkat ke Malaysia. Tentu saja kondisinya membuat N tidak bisa lagi mencari nafkah. Padahal N memiliki anak kembar.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sampai akhirnya, saya terkena HIV positif. Saya merasa kesulitan. Dulu obat-obatan bisa didapatkan secara gratis, tapi sekarang saya harus bayar mahal. Selain itu, tidak semua rumah sakit di Indramayu memiliki fasilitas untuk ODHA (orang dengan HIV/AIDS),&amp;quot; katanya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Tekanan lingkungan membuat N merasa tidak percaya diri dan tidak nyaman lagi untuk bekerja.&amp;quot;Paling-paling terima jasa menyetrika dan menjahit baju,&amp;quot; ujar N.</description>
<guid isPermaLink="false">7622@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Pulang dari Malaysia, N Malah Tertular HIV dari Suami</dc:subject>
<dc:date>2013-05-22T11:43:35+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Ibu-ibu dengan HIV di Indramayu Merasa Diperlakukan Diskriminatif</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7621</link>
<description>&lt;strong&gt;Detik&lt;/strong&gt;, 21 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Indramayu&lt;/strong&gt;, Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, ibu-ibu yang terinfeksi HIV (Human Imunnodeficiency Virus) di Indramayu, Jawa Barat harus menanggung beban ganda. Selain harus menjalani pengobatan seumur hidup, juga masih harus menghadapi stigma negatif.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami merasa masih mendapat diskriminasi, masih mendapatkan stigma. Salah satunya susah dapat pekerjaan,&amp;quot; kata Wd (25 tahun), ibu rumah tangga asli Indramayu yang mengidap HIV dalam temu media dalam rangka Press Tour Kementerian Kesehatan di Kantor Bupati Indramayu, dan ditulis pada Selasa (21/5/2013).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Wd yang tengah hamil ini merasa orang-orang di lingkungannya menganggap perempuan yang bisa mengidap HIV hanya pekerja seks. Dengan stigma seperti ini, urusan mencari kerja menjadi lebih sulit. Belum lagi untuk menjalani pengobatan secara teratur, ia jadi harus sering bolos kerja.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Hal yang sama juga dirasakan oleh Nv (33 tahun), ibu rumah tangga yang didiagnosis HIV positif sejak 2010. Ibu dari 2 anak kembar ini mengaku bukan pekerja seks, hanya ibu rumah tangga yang merantau sebagai tenaga kerja Indonesia demi menghidupi suami dan keluarganya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ia mengetahui dirinya terinfeksi HIV setelah pulang ke Tanah Air pada 2009, lalu suaminya sakit pada tahun berikutnya. Sang suami didagnosis TB (Tuberculosis), tetapi tidak sembuh dengan pengobatan biasa. Akhirnya ketahuan, suaminya positif HIV dan Nv sendiri telah tertular.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sama seperti Wd, status sebagai ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) menyulitkannya untuk mencari kerja. Saat ini ia cuma bisa bekerja sebagai tukang setrika dengan upah Rp 20 ribu/hari yang tentunya sangat tidak mencukupi untuk menghidupi keluarga mengingat suaminya sudah tidak produktif karena sakit.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang saya susah cari kerja, cuma bisa bantu-bantu setrika. Sehari cuma dapat Rp 20 ribu sementara saya harus jadi tulang punggung keluarga karena suami sudah tidak sempurna,&amp;quot; kata Nv.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Adanya perlakuan diskriminatif terhadap ODHA diakui juga oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Dr Dedi Rohendi, MARS. Menurutnya, terbatasnya pengetahuan masyarakat sering memunculkan stigma negatif dan perlakuan diskriminatif yang merugikan ODHA.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pernah di suatu sekolah, ada seorang guru perempuan mengalami masalah serupa. Suaminya HIV positif, dia (si guru perempuan) sampai disuruh keluar dari tempat kerjanya. Tapi yang ini sudah diselesaikan,&amp;quot; kata Dr Dedi.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu memang menunjukkan, kasus HIV-AIDS paling banyak diderita kalangan pekerja seks yakni 460 kasus. Meski demikian, kasus pada ibu rumah tangga tidak kalah banyak yakni 120 kasus atau menempati peringkat ketiga setelah wiraswasta yakni 141 kasus.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ODHA berhak menjalani hidupnya dengan layak. Dengan pengobatan teratur, pengidap HIV juga bisa produktif seperti manusia lainnya. Pandangan bahwa HIV cuma ditularkan melalui perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkoba juga perlu dikikis, sebab kenyataannya banyak ibu rumah tangga yang jadi korban.
</description>
<guid isPermaLink="false">7621@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Ibu-ibu dengan HIV di Indramayu Merasa Diperlakukan Diskriminatif</dc:subject>
<dc:date>2013-05-22T11:31:39+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Jumlah Kasus HIV AIDS di Indramayu Tinggi</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7620</link>
<description>&lt;strong&gt;REPUBLIKA.CO.ID&lt;/strong&gt;, 21 Mei 2013 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;INDRAMAYU&lt;/strong&gt; -- Jumlah kasus human immunodeficiency virus (HIV)/acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, tinggi. Kasus terbanyak disebabkan oleh perilaku heteroseksual.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indramayu, Dedi Rohendi, menyebutkan, berdasarkan data kumulatif sejak 1993 hingga Maret 2013, jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Indramayu mencapai 957 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 127 penderitanya telah meninggal dunia. Dengan demikian, hingga kini tercatat ada 830 kasus HIV/AIDS.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
''Angka ini tinggi,'' ujar Dedi, saat menerima kunjungan lapangan tematik media massa di lingkungan Kemenkes, di Pendopo Bupati Indramayu, Senin (20/5).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dedi menjelaskan, berdasarkan faktor risikonya, kasus HIV/AIDS terjadi akibat perilaku heteroseksual yang mencapai 825 kasus. Sedangkan sisanya, berupa faktor perinatal (55 kasus), biseksual (33 kasus), tidak diketahui (19 kasus), homoseksual (16 kasus), tatto (enam kasus), dan IDU atau injeksi (tiga kasus).</description>
<guid isPermaLink="false">7620@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Jumlah Kasus HIV AIDS di Indramayu Tinggi</dc:subject>
<dc:date>2013-05-22T11:27:34+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>69 Persen Penderita HIVAIDS di Indramayu Didominasi Perempuan</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7619</link>
<description>&lt;strong&gt;Liputan6.com&lt;/strong&gt;, 20 Mei 2013 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Indramayu terus melonjak. Data dari tahun 1993 sampai Desember 2012 mencatat setidaknya ada 956 ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Dengan jumlah 126 orang meninggal.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Begitu disampaikan Bupati Indramayu Ana Sopanah dalam Temu Media dalam menjelaskan Epidemi kasus HIV AIDS di kantor bupati Indramayu, Senin (20/5/2013).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Peningkatan ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti transmisi seksual yang mencapai 93 persen dan lainnya 7 persen,&amp;quot; jelas Ana.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Yang mengejutkan, dari seluruh ODHA, perempuan yang paling banyak terinfeksi HIV/ AIDS yaitu mencapai 69 persen. &amp;quot;Laki-laki hanya sekitar 31 persen&amp;quot;.
</description>
<guid isPermaLink="false">7619@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>69 Persen Penderita HIVAIDS di Indramayu Didominasi Perempuan</dc:subject>
<dc:date>2013-05-22T11:18:50+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Mayoritas Penderita AIDS Merupakan Usia Produktif</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7618</link>
<description>&lt;strong&gt;PRLM&lt;/strong&gt;, 20 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;PANGANDARAN&lt;/strong&gt; - Di tahun 2013 hingga kini tercatat sebanyak 36 orang terjangkit virus HIV, dan 29 orang menderita AIDS di Kabupaten Ciamis. Mayoritas dari mereka adalah kategori usia produktif.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pengelola Program Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Ciamis Pendi Saputra menjelaskan, penularannya saat ini bukan dari jarum suntik. Tetapi dari berhubungan seksual. &amp;ldquo;Dari 36 kasus di Kabupaten Ciamis secara keseluruhan paling banyak berasal dari wilayah Kabupaten Pangandaran,&amp;rdquo; ujarnya, Senin (20/5/2013).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pendi menjelaskan, dari data yang ada sejak tahun 2011 memang terjadi perpindahan tren. Dari yang sebelumnya banyak yang terjangkit akibat jarum suntik, kini berubah. &amp;ldquo;Sekarang yang banyak jarum suntik itu di Ciamis. Kalau di Pangandaran, mereka adalah ibu rumah tangga. Mereka tertular karena suaminya yang positif terjangkit,&amp;rdquo; ucapnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dengan jumlah yang masih terbilang tinggi itu, Pendi berupaya untuk terus melakukan kampanye dan memberikan penjelasan serta pemahaman kepada masyarakat, khususnya mereka yang bekerja atau berprofesi sebagai Wanita Penjaja Seks (WPS).</description>
<guid isPermaLink="false">7618@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Mayoritas Penderita AIDS Merupakan Usia Produktif</dc:subject>
<dc:date>2013-05-22T11:14:38+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Asuransi Wajib Cover Perawatan dan Pengobatan AIDS</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7617</link>
<description> &lt;em&gt;Tidak jarang penolakan klaim asuransi berujung pada terbukanya status HIV seseorang kepada perusahaannya hingga terjadi pemecatan&lt;/em&gt;.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Jaringnews.com&lt;/strong&gt;, 20 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;
JAKARTA&lt;/strong&gt; - Hadirnya kebijakan baru Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 21 tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS, telah membawa angin segar baru pemenuhan hak asasi bagi Orang dengan HIV (ODHA) untuk mendapatkan jaminan pembiayaan asuransi swasta. Pasal 47 ayat 1 kebijakan baru ini telah mewajibkan setiap penyelanggara asuransi kesehatan untuk menanggung sebagian atau seluruh biaya pengobatan dan perawatan tertanggung yang terinfeksi HIV sesuai dengan besarnya premi. Dalam ayat 2 pertanggungan itu wajib dicantumkan di dalam informasi pada polis.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kebijakan baru ini perlu segera disosialisasikan kepada kementrian keuangan dan perusahaan asuransi kesehatan swasta. Tidak ada alasan lagi mereka menolak klaim perawatan bagi ODHA yang menjadi peserta asuransi&amp;quot; ucap Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif dari Indonesia AIDS Coalition, sebuah LSM berbasis komunitas ODHA yang bekerja untuk promosi Good Governance dalam program AIDS.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Selama ini, klaim kesehatan ODHA selalu ditolak oleh asuransi swasta dan penolakan ini kerapkali terjadi bahkan ketika ODHA tersebut telah mengikuti asuransi swasta tersebut jauh sebelumnya. Tidak jarang penolakan klaim asuransi ini berujung pada terbukanya status HIV seseorang kepada perusahaannya hingga terjadi pemecatan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dengan jumlah ODHA mencapai 32 ribu, beban pembiayaan perawatan dan pengobatan ODHA harus dipecah untuk ditanggung pemerintah serta sektor privat. AIDS adalah masalah kita bersama dan sudah sepantasnya sektor asuransi swasta juga mengambil bagian dalam upaya menahan laju infeksi HIV.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Aksi nyata Kemenkes kali ini menunjukkan komitment riil pemerintah dalam upaya memutus ketergantungan pendanaan program penanggulangan AIDS dari donor kepada pemerintah kita sepenuhnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Besar pembiayaan yang harus ditanggung oleh asuransi swasta sebenarnya tidak akan terlalu besar karena ARV sudah ditanggung penuh oleh pemerintah. ARV juga telah terbukti sangat efektif sehingga ODHA yang sudah ARV relatif tidak membutuhkan perawatan khusus berbiaya besar seperti yang selama ini ditakutkan perusahaan asuransi swasta&amp;quot;, Aditya menambahkan.</description>
<guid isPermaLink="false">7617@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Asuransi Wajib Cover Perawatan dan Pengobatan AIDS</dc:subject>
<dc:date>2013-05-22T11:10:01+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Belasan Orang di Ciamis Terjangkit HIV/AIDS</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7616</link>
<description>&lt;strong&gt;TRIBUNNEWS.COM&lt;/strong&gt;, 20 Mei 2013 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;CIAMIS&lt;/strong&gt; - Angka pria penyuka pria (gay/homo) di Ciamis cukup tinggi, yaitu sebanyak 1.500 orang yang tersebar di 36 kecamatan di Ciamis. Data menyejutkan itu diperoleh Dinas Kesehatan Ciamis dari para volunturir HIV/AIDS yang bekerja di wilayah Ciamis.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Data tersebut kami peroleh setelah kami melakukan komunikasi intensif dengan kelompok lelaki suka lelaki (LSL) selama 4 bulan terakhir,&amp;quot; ujar H Osep Hernandi SKM MKes, volunturir HIV/AIDS dari Dinkes Ciamis yang juga pengurus Komisi Peduli AIDS (KPA) Ciamis kepada Tribun, Minggu (19/5/2013).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari pertemuan terakhir pada hari Rabu (15/5) yang dihadiri sekitar 40 orang perwakilan dari LSM peduli HIV/AIDS, KPA, Dinkes, dan perwakilan sejumlah komunitas LSL, menurut Osep, diperoleh fakta bahwa di Ciamis berkembang gaya hidup pria suka pria.
&amp;quot;Sebagian besar dari kelompok umur remaja antara 14 tahun hingga 25 tahun,&amp;quot; ujar Osep.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dinkes Ciamis dan KPA, kata Osep, perlu melakukan komunikasi dengan kelompok LSL. Pasalnya menurut Osep, dari 11 penderita HIV yang ditemukan selama Januari hingga Mei tahun 2013, ditemukan penderita HIV dari kelompok LSL.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Osep mengatakan selama ini kelompok pria penyuka pria ini, luput dari pendataan. &amp;quot;Selama ini pendataan atau pelacakan penderita HIV/AIDS cenderung dilakukan kepada PSK, penghuni lembaga pemasyarakatan dan panti rehabilitasi. Sementara kelompok LSL nyaris tidak tersentuh,&amp;quot; ujar Osep.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sepanjang Januari hingga April 2013, ujar Osep, terdata ada 10 penderita HIV/AIDS di Ciamis. Dari jumlah sebanyak itu, ujar Osep, 9 orang positif terjangkit HIV dan seorang penderita AIDS. Dan selama bulan Mei 2013, terdata dua orang penderita HIV.</description>
<guid isPermaLink="false">7616@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Belasan Orang di Ciamis Terjangkit HIV/AIDS</dc:subject>
<dc:date>2013-05-20T09:54:14+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Pangandaran Dirikan Posko Kesehatan Antisipasi Penyebaran Virus HIV/AIDS</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7615</link>
<description>&lt;strong&gt;PRLM&lt;/strong&gt;, 19 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;PANGANDARAN&lt;/strong&gt; - Guna mengantisipasi dan mendeteksi dini adanya penyebaran atau yang terjangkit virus HIV Aids, kini didirikan posko kesehatan. Nantinya, posko tersebut akan melayani pemeriksaan masyarakat umum, dan mereka yang bekerja atau berprofesi sebagai Wanita Penjaja Seks (WPS).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Posko tersebut didirikan di Dusun Padasuka RT 1 RW 17, Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Posko tersebut merupakan yang pertama di Kabupaten Ciamis juga Kabupaten Pangandaran.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;ldquo;Alasan didirikan pos? Daerah ini beresiko. Maksudnya, daerah pariwisata beresiko adanya penyakit HIV Aids. Kita berharap di sini jangan sampai ada yang terjangkit penyakit itu,&amp;rdquo; ucap Kepala Seksi Penanggulangan Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana (P4B) Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, Osep Hernandi, Minggu (19/5/13).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Osep menjelasakan, pos tersebut dapat digunakan dan masyarakat umum dapat memeriksakan kesehatannya. Terlebih bagi mereka yang bekerja atau Wanita Penjaja Seks (WPS).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;ldquo;Mereka yang bekerja atau berprofesi di sini dapat memeriksakan kesehatannya di pos ini. Ini daerah wisata, yang biasanya ada jasa WPS,&amp;rdquo; ucapnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Osep menegaskan, HIV dapat dicegah. Dan, berharap tidak ada yang menderita atau terjangkit oleh virus tersebut.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Menurut dia, kalaupun nantinya ada yang menderita dari hasil pemeriksaan, diharapkan jangan minder. Pasalnya, mereka akan dirangkul dan diobati.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;ldquo;Ini posko kesehatan pelayanan konsultasi pertama di Kabupaten Ciamis, dan Kabupaten Pangandaran. Kita melakukan antisipasi. Ada tidaknya praktek seks, bukan kita menyatakan. Kita hanya mendekatkan pelayanan,&amp;rdquo; ujarnya.</description>
<guid isPermaLink="false">7615@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Pangandaran Dirikan Posko Kesehatan Antisipasi Penyebaran Virus HIV/AIDS</dc:subject>
<dc:date>2013-05-20T09:50:59+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Bayang-bayang HIV/AIDS di Antara Fatanah dan Perempuan Simpanannya</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7614</link>
<description>&lt;strong&gt;The Globe Journal&lt;/strong&gt;, 18 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Jakarta&lt;/strong&gt; - Cerita wanita-wanita sekitar Ahmad Fathanah dan kehidupan seseorang yang gonta-ganti pasangan menjadi perhatian dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Ari Fahrial Syam.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ia terpanggil untuk mengingatkan bahwa kehidupan seks bebas berisiko berbagai penyakit, terutama Human Immunodeficiency Virus (HIV).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Berdasarkan pengalaman klinisnya sebagai dokter spesialis penyakit dalam, pasien HIV ada pada semua kalangan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Penyakit ini bisa mengenai semua profesi. Ibu rumah tangga (IRT) yang tidak gonta-ganti pasangan pun menderita HIV, karena mungkin tertular dari suaminya yang suka &amp;ldquo;jajan&amp;rdquo; diluar.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Ari, dari sudut kesehatan, gonta-ganti pasangan berisiko terkena penyakit. Kelompok penyakit akibat gonta-ganti pasangan ini dimasukan sebagai sexually transmitted disease (STD).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Selain penyakit STD, para wanita yang gonta-ganti pasangan berisiko terkena kanker mulut rahim. Sedangkan untuk laki-laki, penyakit itu akan menambah risiko menderita kanker prostat di kemudian hari.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;ldquo;Pasien HIV positif atau hepatitis B atau C sama dengan orang normal, yang tanpa infeksi virus tersebut. Yang membedakan, di dalam darah pasien mengandung virus tersebut, sedang yang lain tidak. Ketiga penyakit virus ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual,&amp;rdquo; paparnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Oleh karena secara fisik tidak dapat dibedakan siapa yang mengandung virus sangat berbahaya tersebut, seseorang berisiko mengalami penyakit infeksi yang berbahaya dan mematikan jika berhubungan seks dengan yang bukan istrinya. Apalagi, fase tanpa keluhan penderita infeksi virus ini dapat berlangsung 5-10 tahun hingga menampakkan gejala.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;ldquo;Saya sering mendapatkan pasien mengalami HIV AIDS saat ini dan diduga tertular lima atau sepuluh tahun yang lalu. Pasalnya, mereka menyampaikan setelah menikah lima tahun belakangan ini mereka tidak pernah berhubungan seks dengan orang lain, kecuali istri atau suami sahnya,&amp;rdquo; ungkap dia.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ari menjelaskan, penyakit HIV AIDS merupakan penyakit yang berbahaya dan mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh virus HIV, yang sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang established dan dapat digunakan secara luas.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Namun demikian, obat-obat anti retroviral (ARV) saat ini sudah mampu menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi lagi. Berdasarkan bukti klinik, pengobatan dengan ARV bisa menekan penyebaran virus sampai lebih dari 90%.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Di Indonesia, tambah dia, ARV saat ini masih gratis dan akses mendapatkannya mudah. Namun, angka penggunaan ARV di Indonesia masih rendah. Pasien-pasien HIV tidak mau mengonsumsi ARV dengan berbagai alasan, seperti ingin lebih cepat menghadap Yang Maha Kuasa.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Ari, gejala klinis akibat virus baru muncul pada penderita infeksi HIV yang sudah lanjut, jika daya tahan tubuhnya sudah menurun.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Berbagai infeksi oportunistik akan muncul, seperti sariawan karena jamur kandida, TBC paru, infeksi otak, diare kronik karena infeksi jamur atau parasit, dan timbul hitam-hitam di kulit.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Selain itu, pasien HIV yang sudah masuk tahap lanjut ini berat badannya turun. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan jumlah leukosit akan kurang dari 5.000 dengan limfosit kurang dari 1.000.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;ldquo;Diare kronik, sariawan di mulut, dan berat badan turun merupakan gejala utama jika pasien sudah mengalami infeksi HIV lanjut dan masuk fase AIDS,&amp;rdquo; kata dia.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ari mengatakan, cara pencegahan infeksi tersebut hanya dengan berhenti gonta-ganti pasangan dan menyetop gratifikasi seks.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ia memperingatkan agar orang yang pernah melakukan hubungan seksual, terutama di luar nikah, untuk memeriksa status HIV.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Saran yang sama juga berlaku pada orang yang pernah menggunakan jarum suntik yang tidak steril, atau pernah menggunakan narkoba jarum suntik.</description>
<guid isPermaLink="false">7614@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Bayang-bayang HIV/AIDS di Antara Fatanah dan Perempuan Simpanannya</dc:subject>
<dc:date>2013-05-20T09:47:57+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Ratusan Ribu Remaja Negeri Mengidap HIV</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7613</link>
<description>&lt;strong&gt;Berita8.com&lt;/strong&gt;, 18 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Lebih dari 180.000 remaja di Nigeria hidup dengan HIV, demikian disampaikan UNICEF di Markas PBB, New York.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Jumlah tersebut disiarkan selama dialog nasional mengenai remaja yang hidup dengan HIV di Nigeria, guna meringankan penderitaan pasien muda.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dialog itu diselenggarakan oleh Positive Action for Treatment Access (PATA) melalui kerja sama dengan UNICEF dan Lembaga Nasional bagi Pemantauan AIDS (NACA), organisasi swadaya masyarakat yang bekerja untuk menjamin setiap orang memiliki akses ke layanan kesehatan yang layak.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Meskipun Nigeria telah melakukan banyak langkah pencegahan buat generasi muda, masih banyak pekerjaan perlu dilakukan guna menanggulangi kebutuhan remaja yang hidup dengan HIV, demikian laporan Xinhua. </description>
<guid isPermaLink="false">7613@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Ratusan Ribu Remaja Negeri Mengidap HIV</dc:subject>
<dc:date>2013-05-20T09:43:42+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>ITD Unair kembangkan terapi racun lebah pembunuh virus HIV/AIDS</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7612</link>
<description>&lt;strong&gt;LENSAINDONESIA.COM&lt;/strong&gt;: 17 Mei 2013 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pusat Studi Perlebahan di Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga sedang melakukan penelitian Bioproduct dari obatan-obatan herbal. Salah satunya memanfaatkan terapi racun lebah sebagai pembunuh virus infeksi HIV/AIDS.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;ldquo;Sejauh ini di dunia hanya ada satu rumah sakit yang menyediakan Bee Therapy, yakni di Jepang. Untuk di Indonesia, para peneliti mencoba mengembangkan pengobatan secara medis dari hasil lebah dan sengatan lebah itu sendiri,&amp;rdquo; ujar Prof. Dr. Hendro Wardoyo, pengembang terapi sengat lebah.
Baca juga: Menristek batal hadiri pameran hasil uji coba laboratorium ITD Unair dan Sudin Dikmen Jaktim intens sosialisasi bahaya seks.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ada 13 macam manfaat yang dihasilkan lebah jenis &amp;lsquo;Apis Mellyfera&amp;rsquo; yang dikembangkan ITD Unair. Diantaranya, madu, royal jelly, propolis, hingga yang paling terbaru, Bee Venom yakni pengobatan dengan sengatan lebah beracun.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Menurut penelitian Prof. Dr. Hendro, venom atau racun yang terkandung dalam sengatan lebah memiliki 120 komponen. 60 persennya sudah terdeteksi mampu mengurangi kesakitan hingga kematian.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Venom dalam sengatan lebah berfungsi menormalkan syaraf tubuh. Yang disebabkan pola makan dan pola hidup sehari-hari yang tidak normal. Kemudian, racun itu juga mampu membunuh kuman-kuman dalam tubuh. &amp;ldquo;Jika dikaitkan dengan infeksi virus, venom ini berfungsi menormalkan syarat-syarat dalam tubuh. Nantinya membentuk perbaikan syaraf-syaraf untuk mempertahankan kekebalan tubuh. Sehingga membentuk antibodi kesehatan,&amp;rdquo; jelasnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Berdasarkan penelitian sekaligus praktek terapi yang sudah dilakukan di Yogyakarta, sudah ada 4 pasien positif HIV/AIDS yang mengalami peningkatan kondisi setelah melakukan terapi.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;ldquo;Ada 4 pasien sudah periksa dengan terapi sengatan racun lebah, juga rutin minum madu. Setelah 8 kali terapi dasar yaitu sengatan dititik-titik tertentu, pasien kami kondisi kesehatannya lebih membaik,&amp;rdquo; ujar Prof. Herdro saat ditemui di Pameran Press Tour dan Gathering di Kampus C Unair, kemarin.</description>
<guid isPermaLink="false">7612@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>ITD Unair kembangkan terapi racun lebah pembunuh virus HIV/AIDS</dc:subject>
<dc:date>2013-05-17T15:38:52+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Miliki Berbagai Penyakit Infeksi, Indonesia Seharusnya Unggul di Riset</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7611</link>
<description>&lt;strong&gt;Berita Satu&lt;/strong&gt;, 16 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;
Surabaya&lt;/strong&gt; - Indonesia seharusnya bisa unggul di bidang riset karena didukung sejumlah potensi keuntungan seperti memiliki berbagai tanaman obat dan berbagai penyakit infeksi.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ketua Lembaga Penyakit Tropis atau Tropical Disease Universitas Airlangga, Prof Nasronuddin mengatakan, dengan adanya beragam penyakit infeksi, Indonesia memiliki banyak mikroba, yang apabila dikendalikan membawa manfaat meningkatkan harkat, mensejahterakan masyarakat melalui produk-produk yang diolah dalam penelitian.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Indonesia memiliki keuntungan memiliki berbagai penyakit. Negara-negara maju tidak memiliki berbagai penyakit infeksi,&amp;quot; katanya saat menerima kunjungan wartawan ke Lembaga Penyakit Tropis di Surabaya, Kamis (16/5).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Lembaga Penyakit Tropis yang menjadi satu dari tiga pusat unggulan iptek di Indonesia ini ditetapkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi pada 2012, sebagai pusat unggulan iptek nasional di bidang kesehatan dan obat dengan tema riset biologi molekuler.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Nasronuddin menambahkan, lembaga riset medis Lembaga Penyakit Tropis memiliki 15 studi spesialis antara lain influenza, dengue, &lt;strong&gt;HIV/AIDS&lt;/strong&gt;, hepatitis, malaria, stem cell, human genetics, naturak products, molecular oncology, bee health product development, proteomic, tuberculosis, leprosy, entomology dan intestinal infection.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ia menjelaskan dalam penelitian lembaganya, sudah dihasilkan enzim untuk menggemukan sapi. Hal ini untuk menjawab tantangan Indonesia teerkait ketersediaan daging sapi, yang faktanya masih mengalami kekurangan daging.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Selain itu, lembaga penyakit sedang mengembangkan terapi stem cell untuk penderita ginjal sehingga tidak lagi memerlukan cuci darah seumur hidup seperti saat ini. Penderita nantinya hanya perlu disuntik peremajaan dengan terapi stem cell.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Di samping itu ada pula pengembangan obat anti virus hepatitis c, terapi sengat lebah dan penularan amoeba lewat air.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sejak awal berdiri hingga saat ini Lembaga Penyakit Tropis memang bekerjasama dengan konsorsium nasional dan internasional seperti Jepang, Australia, Thailand dan Belanda.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meskipun bekerja sama dengan pihak luar, hak paten 100 persennya milik Indonesia dan hanya mentransfer teknologi dari luar,&amp;quot; ucapnya.</description>
<guid isPermaLink="false">7611@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Miliki Berbagai Penyakit Infeksi, Indonesia Seharusnya Unggul di Riset</dc:subject>
<dc:date>2013-05-17T15:33:59+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Penyebaran HIV/AIDS di Kota Manado tertinggi di Sulut</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7610</link>
<description>&lt;strong&gt;Merdeka&lt;/strong&gt;, 14 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kota Manado tertinggi penyebaran Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome HIV/AIDS) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dengan jumlah 485 kasus, hingga Februari 2013. 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mobilitas penduduk di Kota Manado jauh lebih dinamis bila dibandingkan dengan pedesaan. Hal ini juga bisa memungkinkan terjadinya transaksi seksual yang berisiko terjadinya penularan,&amp;quot; kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Sulawesi Utara, dr Tangel Kairupan di Manado, Selasa (14/5).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Seperti diberitakan Antara, Kota Manado bila dibandingkan dengan kabupaten dan kota lainnya hiruk pikuknya jauh lebih tinggi, dan membuka peluang tumbuhnya tempat-tempat hiburan malam dan tempat rekreasi yang bisa menjadi awal penularan HIV.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena itu KPA sekarang ini tidak hanya fokus pada sosialisasi. Tapi yang terpenting adalah bagaimana menjangkau populasi kunci seperti pekerja seks komersil, waria dan kelompok rentan lainnya. Kami targetkan pada 2015 sudah 80 persen populasi kunci yang terjangkau,&amp;quot; kata dia.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari data yang ada, di Kota Manado ditemukan sebanyak 485 kasus, di mana 156 di antaranya adalah HIV dan sisanya 329 kasus adalah AIDS, sementara di Kota Bitung sebanyak 269 kasus, dimana 166 kasus adalah HIV dan sisanya 103 kasus adalah AIDS.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kabupaten Minahasa menjadi terbanyak ketiga dengan 135 kasus, dimana 36 kasus dikategorikan HIV dan 99 kasus adalah AIDS, sementara terbanyak ke empat adalah Minahasa Selatan dengan 117 kasus dimana sebanyak 27 kasus adalah HIV dan sisanya 90 kasus AIDS.</description>
<guid isPermaLink="false">7610@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Penyebaran HIV/AIDS di Kota Manado tertinggi di Sulut</dc:subject>
<dc:date>2013-05-17T15:30:09+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Empat Bulan, Pengidap HIV Bertambah 15 Orang</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7609</link>
<description>&lt;strong&gt;Kaltim Post&lt;/strong&gt;, 14 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;
BALIKPAPAN&lt;/strong&gt; - Jumlah pengidap HIV/AIDS di Balikpapan terus meningkat. Pada 21 Januari lalu jumlahnya 606 orang. Namun memasuki pekan kedua Mei, jumlahnya mencapai 621 orang atau bertambah 15 orang. Jumlah ini diprediksi bakal terus bertambah karena masih banyak pengidap HIV AIDS yang masih malu dan tidak melaporkan diri ke Dinas Kesehatan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sebelumnya, pada November 2012 jumlah pengidap penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini mencapai 575 orang atau meningkat sekitar 80 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 300 orang.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Dyah Muryani, mengatakan, penyebaran HIV/AIDS paling banyak melalui hubungan seksual. &amp;ldquo;Langkah paling mudah dan murah untuk mencegah penyebaran itu adalah menggunakan  kondom. Tapi nyatanya masih banyak yang tidak mau menggunakannya,&amp;rdquo; ujarnya, kemarin (13/5).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ia menjelaskan, dari jumlah penderita tersebut didominasi laki-laki dewasa. Tetapi, ada juga 3 orang di antaranya yang masih balita, yang diakibatkan faktor keturunan. Meski demikian, dalam beberapa pekan terakhir tren menunjukkan pertambahan jumlah pengidap HIV didominasi oleh ibu rumah tangga.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Diketahui, jumlah tersebut merupakan akumulasi data sejak 2005 lalu. Tahun ini, setidaknya sudah ada 3 orang meninggal karena virus tersebut. Pengidap HIV/AIDS di Balikpapan, rentan usianya juga semakin muda. Dari 20 tahun hingga 40 tahun dengan jumlah 70 persen dari total penderita. Padahal, dahulu rentang usia pengidap sekitar 25 hingga 60 tahun.</description>
<guid isPermaLink="false">7609@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Empat Bulan, Pengidap HIV Bertambah 15 Orang</dc:subject>
<dc:date>2013-05-14T12:12:43+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>Seluruh Perawat di Bogor Siap Sosialisasikan Bahaya HIV/AIDS</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7608</link>
<description>&lt;strong&gt;Pos Kota&lt;/strong&gt;, 14 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;
BOGOR&lt;/strong&gt; &amp;ndash; Komisi Penanggulangan HIV/Aids daerah Kota Bogor, terus melakukan sosialisasi dalam rangka meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan bahayanya penyakit ini.Sosialisasinya kali ini, KPAD bekerjasama dengan PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Kota Bogor.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Bertempat di aula Dinas Kesehatan Kota Bogor, ratusan perawat mendapat pembekalan dari asisten administrasi Kemasyarakatan dan Pembangunan, Azrin Syamsudin, yang juga Ketua harian KPAD Kota Bogor. Sementara narasumber utamanya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Rubaeah, dan Sekretaris KPAD Kota Bogor, Yeti Rochyati.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ketua PPNI Kota Bogor, Yusniar Ritonga mengatakan, sosialisasi bahaya HIV/AIDS merupakan rangkaian dari acara peringatan Hari Perawat Sedunia yang jatuh Minggu (12/5).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;ldquo;Perawat dari 12 rumah sakit dan klinik swasta yang ada di Kota Bogor, menjadi peserta. Sosialisasi ini untuk mengingatkan perawat, akan bahaya HIV/AIDS. Pasalnya perawat bersentuhan langsung dengan pasiennya,&amp;rdquo;kata Yusniar.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr Rubaeah mengatakan, semua puskesmas yang ada di Kota Bogor, siap memberikan pelayanan VCT (Voluntary Couseling and Testing) kepada masyarakat yang akan melakukan pemeriksaan HIV/AIDS.
&amp;ldquo;VCT telah kita disiapkan di puskesmas dan sejumlah rumah sakit untuk membantu masyarakat mengenal apa itu HIV/AIDS. Rahasia masyarakat sangat dijamin,&amp;rdquo;ujarnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Walau fasilitas telah disediakan, ia mengakui, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke VCT masih rendah. Haktor kurang pemahaman tentang HIV/AIDS dan adanya stigma yang menyebabkan orang dengan HIV/AIDS di kucilkan dari kelompok, menjadi faktor apatisnya warga melakukan pemeriksaan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
dr Rubaeah menambahkan, berdasarkan laporan dari sejumlah Puskesmas kebanyakan para ibu hamil atau ibu rumah tangga masih menolak untuk di tes VCT. Padahal, sangat baik dan penting pemeriksaan VCT untuk pencegahan dini, melindungi ibu dan anak dari penyebaran penyakit berbahaya ini.</description>
<guid isPermaLink="false">7608@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>Seluruh Perawat di Bogor Siap Sosialisasikan Bahaya HIV/AIDS</dc:subject>
<dc:date>2013-05-14T12:07:59+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>75 Persen Pengidap HIV Usia Remaja</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7607</link>
<description>&lt;strong&gt;INILAH.COM&lt;/strong&gt;, 13 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Tanjungpinang&lt;/strong&gt; - Jumlah pengidap HIV/AIDS di Provinsi Kepri yang terdeteksi setiap tahun cenderung meningkat. Pada tahun 2011, dari data di 7 kabupaten/kota terdapat sebanyak 704 orang. Sedangkan pada tahun 2012 meningkat menjadi 852 orang, dan 75 persen penderitanya adalah remaja.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sementara itu data pengidap AIDS dari tahun 2011 berjumlah 265 orang dan telah meninggal 66 orang. Pada tahun 2012 penderita AIDS berjumlah 308 dan meninggal sebanyak 108, sementara untuk tahun 2013 sudah ditemukan orang yang terjangkit namun belum ada laporan resmi dari 7 kabupaten/kota di Kepri.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Data tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyelamatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, dr Inrike disela acara kegiatan sosialisasi bahaya HIV/AIDS bagi kalangan pelajar di Halaman Belakang Gedung Daerah Kepri di Tanjungpinang, Minggu (12/5).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dari data tersebut pengidap HIV/AIDS 65 persennya terdapat di Kota Batam disusul dari Kabupaten Karimun dan Kota Tanjungpinang. Sementara pengidap HIV/AIDS Laki-laki sebanyak 52 persen sementara perempuan sebanyak 48 persen,&amp;quot; jelasnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Inrike juga menambahkan, selain itu kasus HIV/AIDS yang ditemukan juga kebanyakan dari usia remaja dari umur 15 hingga 29 tahun dan juga dari ibu rumah tangga yang terpapar dari suami.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dari data tersebut 75 persen pengidap HIV/AIDS merupakan anak remaja dan disusul oleh ibu rumah tangga. Penanggulangan dan penanganan HIV/AIDS di Kepri telah membuka layanan di tiga wilayah, yakni di Kota Batam, Karimun dan Tanjungpinang dengan voluntary counseling and testing (VCT). VCT adalah proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidental dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV,&amp;quot; ungkap Inrike.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sementara itu, Gubernur Kepri HM Sani yang turut hadir pada acara tersebut mengatakan, HIV/AIDS merupakan penyakit yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan baru sebatas mencegah. Adapun pencegahan itu harus dimulai sejak dini, dengan melakukan berbagai sosialisasi.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk mencegah HIV/AIDS, kita semua harus membentengi diri. Pelajaran yang paling mendasar adalah di dalam diri kita sendiri. Sosialisasi seperti ini hanya mediasi saja. Selebihnya diri sendirilah yang menentukan,&amp;quot; kata Sani.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sani menambahkan, sosialisasi harus secara terus-menerus dilakukan, dimana saja dan kapan saja. Semua pihak harus terlibat baik tokoh agama, tokoh masyarakat termasuk media.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa saya katakan demikian, karena mensosialisasikan bahaya AIDS ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua, termasuk para tokoh agama,&amp;quot; ujar Sani lagi.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kegiatan sosialisasi bahasa HIV/AIDS tersebut diselenggarakan oleh Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Kepri. Dalam laporannya, Ketua TP PKK Kepri Aisyah Sani mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan karena merasa prihatin mendengar laporan dari Dinas Kesehatan yang menyebutkan bahwa pengidap HIV/AIDS di Kepri banyak dari kalangan remaja, yakni pada usia rata-rata 15 sampai 29 tahun.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Hal itu tentu sangat memprihatinkan, karena remaja yang notabene sebagai generasi penerus bangsa, namun justru terjerumus dalam hal yang seharusnya tidak terjadi.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Data yang saya dapat dari Dinas Kesehatan tersebut sangat memprihatinkan. Pemuda adalah generasi penerus bangsa, sehingga sudah seharusnya melakukan hal-hal yang positif dan kreatif. Jauhi narkoba dan hindari seks bebas. Semua itu hanya menimbulkan mudarat daripada manfaat,&amp;quot; pesan Aisyah Sani.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Katanya, lebih memprihatinkan lagi, saat ini bahkan banyak kalangan ibu hamil yang juga mengidap HIV/AIDS, sehingga ketika bayi mereka lahir dalam keadaan tertular penyakit yang mematikan tersebut.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana menyampaikan, sosialisasi pencegahan HIV/AIDS bagi kalangan pelajar memang sedang digalakkan oleh Pemerintah Provinsi Kepri.</description>
<guid isPermaLink="false">7607@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>75 Persen Pengidap HIV Usia Remaja</dc:subject>
<dc:date>2013-05-13T10:41:40+07:00</dc:date>
</item>

<item>
<title>65 persen penderita HIV/AIDS di Kepri remaja</title>
<link>http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=7606</link>
<description>&lt;strong&gt;Waspada Online&lt;/strong&gt;, 12 Mei 2013
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;TANJUNGPINANG&lt;/strong&gt; - Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Kepulauan Riau, Aisyah Sani mengatakan sebanyak 65 persen penderita &amp;quot;human immunodeficiency virus infection/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS)&amp;quot; di daerah setempat adalah remaja.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami prihatin mendengar laporan dari Dinas Kesehatan yang menyebutkan bahwa pengidap HIV/AIDS di Kepulauan Riau (Kepri) mencapai 65 persen dari kalangan remaja, usia rata-rata 15 sampai dengan 29 tahun,&amp;quot; kata Aisyah Sani saat sosialisasi bahaya HIV/AIDS kepada para pelajar di Tanjungpinang, hari ini.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Aisyah, hal tersebut sangat memprihatinkan, karena remaja sebagai generasi penerus bangsa justru terjerumus dalam hal yang seharusnya tidak terjadi.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pemuda adalah generasi penerus bangsa, sehingga sudah seharusnya melakukan hal-hal yang positif dan kreatif. Jauhi narkoba dan hindari seks bebas. Semua itu hanya menimbulkan mudarat daripada manfaat,&amp;quot; kata istri Gubernur Kepri Muhammad Sani tersebut.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Yang lebih memprihatinkan menurut dia, saat ini bahkan banyak kalangan ibu hamil yang juga mengidap HIV/AIDS, sehingga ketika bayi mereka lahir dalam keadaan tertular penyakit yang mematikan tersebut.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sementara itu Gubernur Kepri, Muhammad Sani yang membuka sosialisasi tersebut mengatakan satu-satunya cara yang bisa dilakukan baru sebatas mencegah. Adapun pencegahan itu harus dimulai sejak dini, dengan melakukan berbagai sosialisasi.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk mencegah HIV/AIDS, kita semua harus membentengi diri. Pelajaran yang paling mendasar adalah di dalam diri kita sendiri karena sosialisasi seperti ini hanya mediasi saja. Selebihnya diri sendirilah yang menentukan,&amp;quot; kata Sani.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Sani, sosialisasi bahaya HIV/AIDS harus secara terus-menerus dilakukan, di mana saja dan kapan saja. Semua pihak harus terlibat, termasuk wartawan. &amp;quot;Kenapa saya katakan demikian, karena mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua termasuk para tokoh agama,&amp;quot; ujar Sani.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana menyampaikan, sosialisasi HIV/AIDS bagi kalangan pelajar sedang digalakkan oleh Pemprov Kepri.</description>
<guid isPermaLink="false">7606@http://www.aids-ina.org</guid>
<dc:subject>65 persen penderita HIV/AIDS di Kepri remaja</dc:subject>
<dc:date>2013-05-13T10:37:06+07:00</dc:date>
</item>

</channel>
</rss>
